
"Kami harus segera membawa bayi Anda ke ruang perawatan khusus bagi bayi," ucap perawat yang mengiringi bayi mungil itu.
Geon mengikuti arah langkah perawat tersebut membawa anaknya. Beberapa kali belokan, sampai lah ia pada ruangan dengan label N.ICU. Ketika Geon mencoba untuk masuk, perawat menahan dan melarangnya.
"Maaf ya, Pak. Ruangan ini sangat steril. Jika belum steril, dilarang untuk masuk karena di dalam ini begitu banyak bayi yang lahir belum cukup umur."
Geon melirik kedua tangannya yang belum sempat ia bersihkan dari bekas dar4h yang merembes dari tubuh istrinya. "Baik lah, Sus. Saya harap, kalian semua berikan perawatan terbaik untuk bayi kami. Berapa pun itu, semua biaya akan saya ba—"
"STOP! Ini bukan masalah biaya saja, Pak! Anda harusnya banyak berdoa juga! Karena jujur saya katakan kepada Anda, bahwa bayi-bayi di sini ...." Perawat itu perlahan memperlambat ritme amarahnya.
__ADS_1
"Lebih baik, Anda banyak berdoa! Sekarang waktunya Anda membuktikan jika memang benar mencintai istri Anda dengan nyata." Pintu rawat instensif khusus bayi itu ditutup. Geon tidak bisa melihat apa pun yang ada di balik ruangan sana. Bahkan, tak ada dinding kaca seperti ruang bayi biasanya.
Geon tertegun menundukan kepalanya. Ada buncahan nyata yang membuat ia tidak mengerti akan apa yang sebenarnya bergelut dalam ruang hati. Ada rasa takut teramat sangat, jika sesuatu itu adalah hal yang buruk, yang tak bisa dihindari siapa pun.
"Ya Allah, maafkan hamba-Mu yang terlupa akan kelemahan diri ini. Berikan lah kesempatan bagi bayi kami untuk hidup bertumbuh bersama kami." Tanpa ia sadari, setetes air mata jatuh begitu saja dari pelupuk matanya.
"Tidak boleh begini! Sebagai kepala keluarga aku tidak boleh cengeng! Dan ... Lenanda, maafkan aku! Aku tidak akan memberi maaf padamu jika suatu hal terburuk terjadi padanya!"
Geon berjalan kembali menuju ruang operasi. Ia mendapatkan informasi bahwa istrinya dalam masa observasi usai operasi caesar. Masih memerlukan waktu selama setengah jam lagi agar istrinya bisa dipindahkan ke ruang rawat kelas VVIP yang telah dipersiapkan untuk sang istri.
__ADS_1
Semasa masih menunggu istrinya, muncul Inggrid yang mendorong ayah Andah ditemani oleh Bram. "Menantuku, bagaimana keadaan Andah?"
Geon tak bisa berkata-kata. Kepalanya hanya bisa menggeleng kepala. Ada rasa kesal dalam hatinya sang ibu mertua baru muncul. Ini sudah cukup lama dia berada di rumah sakit ini.
Geon melirik ayah Andah. Saat ini kepala ayah Andah tak lagi miring dan bisa berdiri dengan lurus. Karena dalam beberapa waktu terakhir, ayah Andah diserahkan pada ahli fisioterapi untuk memulihkan keadaan fisik ayah mertuanya itu. Raut wajah orang tua itu terlihat layu.
Geon berlutut tepat di hadapannya. "Maafkan aku, Ayah. Aku masih kurang becus saat menjaga Andah."
Perlahan, tangan ayah Andah bergerak dan mengarah ke bahu Geon. Kepala ayah Andah mengangguk, meski bibirnya masih belum berada pada posisi lurus. "Sa-sabar."
__ADS_1
Kepala Geon terangkat mengetahui bahwa ayah mertuanya ini mulai bisa mengatakan sesuatu. "Syukur lah, Yah. Sekarang kondisi Ayah semakin membaik." Geon menggenggam tangan ayah mertuanya dan menciumnya dengan penuh kasih.
"Ki-kita be-berdoa."