
Andah tergugu, dia langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Dan hal itu, membuat kadar kecemasan Yana semakin bertambah.
Tanpa berpikir lama, Yana langsung meluncur ke alamat yang sudah dikirimkan oleh Andah.
"Cepat sedikit, dong!" desak Yana, hatinya berdetak cepat, takut ada sesuatu yang buruk akan terjadi pada Andah.
Supir taksi yang ditumpangi Yana hanya bisa mengangguk saja. Sampai akhirnya, dari kejauhan Yana bisa melihat Andah yang terduduk di bawah pohon sembari meringkuk memeluk diri sendiri.
Mendengar suara deruan mobil, Andah menegakkan kepalanya.
"Andah!" Yana berlari kecil menuju di mana posisi Andah terlihat lemas, wajahnya memutih, menarik pelan tangan Andah.
"Ayo, di sini dingin!" ajak Andah, menyelimuti tubuh sahabat rasa adik dengan jaket yang sengaja dia bawa.
"Kenapa naik taksi, Kak? Aku pikir, Kakak akan menjemputku dengan motor saja?" ujar Andah.
"Kamu kan lemas, di luar juga dingin. Kasihan kamu kalau aku jemput dengan sepeda motor. Sudahlah, jangan banyak tanya. Cepat masuk!" paksa Yana. Dia sungguh tidak tega melihat Andah kacau seperti itu.
Andah hanya mampu menganggukkan kepala saja. Dia menyandarkan punggungnya, memejamkan mata saat telah berada di atas taksi, kepalanya masih pusing, semua terasa berputar tiada henti.
"Kita singgah ke apotek dulu, ya? Sepertinya kamu butuh obat pereda mual," ujar Yana, sejak tadi dia terus memperhatikan Andah yang telah pucat pasi. Ia membayangkan jika semua itu terjadi pada dirinya sendiri.
"Tidak perlu, Kak. Aku merasa sudah lebih baik kok. Nanti di rumah tinggal minum teh hangat," tolak Andah sambil menggeleng pelan.
"Andah, jangan khawatir. Uangku masih cukup kok, jika hanya sekedar untuk membeli obat pereda mual saja," tukas Kak Yana.
"Tapi, Kak, aku—"
"Tidurlah! Jangan membantahku lagi! Aku itu tidak tega melihat kondisimu yang seperti ini." Kak Yana berusaha membuat Andah mengerti.
"Baiklah. Terima kasih, Kak," ucap Andah.
Seusai membelikan obat pereda mual, susu Ibu hamil, dan vitamin untuk Andah, mereka pun kembali ke rumah. Walaupun Andah sempat beberapa kali menolak dengan kilah yang diberi beberapa waktu lalu masih ada, tapi ternyata Yana masih memaksa.
Yana berhasil menekankan kepada Andah jika semua yang diberikannya itu untuk perkembangan bayinya juga.
"Andah, aku pulang dulu, ya? Kamu baik-baik menjaga bayi di dalam kandunganmu ini. Walau Ojan masih belum diketahui keberadaannya, kamu harus tetap tegar dan kuat," ujar Kak Yana, usapan lembut di punggung Andah seolah memberikan kekuatan tersendiri untuk wanita itu.
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih sekali, Kak. Hingga hari ini, kamu adalah orang yang paling mengerti aku," ujar Andah, membalas kebaikan Yana dengan senyum manisnya.
Andah masuk ke dalam rumah. Dirinya terjingkat kaget saat melihat Inggrid berdiri di depan pintu kamarnya sambil bersedekap dada. Seperti ia memang sengaja menunggu Andah pulang.
"Dari mana saja kamu, ha?" tatapan Inggrid jatuh pada kantung yang berada di tangan Andah.
"Apa itu?" tanyanya, sebelah alisnya naik, membuktikan rasa penasaran yang tinggi.
"Ini obat pereda mual dan susu," jawab Andah singkat, apa adanya.
"Susu hamil?" tanya Inggrid lagi yang langsung diangguki oleh Andah.
Inggrid langsung menyambar barang bawaan yang masih dipegang Andah, melemparkannya ke sembarang arah. Kemudian, tatapan tajamnya beralih pada Andah yang yang mengerutkan kening karena kelakuannya.
Meskipun kerap kali diperlakukan kasar, tetapi hati Andah masih saja merasa sakit jika mendapat perlakuan tak mengenakkan dalam kondisi hamil seperti ini. 'Kalau bukan lagi hamil bisa saja dia akan ku ....'
"Bu!" Andah menatap Inggrid dengan tatapan nanar. "Kenapa dibuang? Itukan punyaku! Apa Ibu bisa membelikannya lagi untukku?"
"Kamu masih berani bertanya?" Inggrid berkacak pinggang. "Tugas kamu apa? Mencari uang yang banyak, kan? Kenapa malah membeli semua benda tidak penting itu?" intonasi suara Inggrid meninggi.
"Bu, aku memerlukan itu semua. Bayiku membutuhkannya!" jawab Andah.
"Kamu lihat! Bagaimana kondisi ayahmu yang tak ada bedanya lagi dengan orang cacat? Kalau kamu tidak mencari uang, bagaimana kita bisa makan? Ini malah membeli susu hamil segala?!" bentak Inggrid lagi, dan tidak ada bantahan dari Andah.
"Seharusnya, dari awal kamu jual saja keperawanan kamu itu. Kita bisa hidup enak. Malah menyerahkan keperawanan kamu sama orang bodoh! Sekarang, kamu ditinggalkan dalam keadaan hamil, kan? Makanya, jadi perempuan itu jangan bodoh!" Inggrid kembali mengumpat.
Biasanya Andah tak pernah memedulikan apa yang dikatakan ibu tirinya ini. Namun, keadaan hamil membuat hatinya lebih sensitif dan gampang terluka. Hati Andah yang sudah terluka kehilangan suaminya, membuat toresan itu semakin menganga.
"Bu, Ojan bukan orang bodoh. Ojan itu suamiku! Dia hanya—"
"Apa? Idiot?" sela Inggrid.
Inggrid menengadahkan tangannya.
"Mana? Berikan!"
Andah mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya dan memberikannya pada Ibu tirinya itu. "Ini semua, Bu. Vitamin dan susu itu, Kak Yana yang membelikannya untukku," ucapnya, memunguti susu dan yang lainnya kemudian langsung masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Di dalam kamarnya, Andah menguatkan diri memikirkan apa yang dikatakan Inggrid barusan. Ia menyandarkan diri pada daun pintu, menutup mata. Keberaniannya pada sang ibu tiri kini bagai menguap lewat udara. Andah mengusap perutnya.
"Huuuff ... Kamu harus kuat, Nak. Kita harus bisa menjalani ini semua hingga berhasil menemukan ayahmu.
"Ojan, kamu di mana? Tidak bisakah kamu memberikanku sedikit kabar supaya aku tak lagi mengkhawatirkanmu?" Andah tenggelam dalam pikiran semunya, dan berakhir dengan tertidur.
*****
Andah terbangun kala fajar mulai menyingsing. Hari ini, dia ada kelas dalam perkuliahan. Andah bangun lebih cepat untuk menyiapkan semuanya sebelum berangkat ke kampus.
Walaupun rasa malas terus mendominasi, Andah berusaha untuk mengenyahkannya, agar bangkit melanjutkan hidup.
Selesai membuatkan sarapan untuk penghuni rumah, Andah masuk ke dalam kamar orang tuanya untuk memberikan sarapan kepada sang ayah.
"Yah, ayo sarapan dulu," ujar Andah.
Andah terkesiap ketika melihat Ayahnya menangis. "Ayah kenapa?" Andah meletakkan nampan dan segera menghapus air mata Ayahnya.
"Ayah, aku tidak apa-apa kok. Ayah jangan merasa bersalah atau pun sedih. Ayah tahu kan bahwa aku selalu kuat? Jadi, Ayah juga harus sekuat Andah. Ayah harus sembuh, biar kita seperti dulu lagi, Yah!" Andah mengusap lengan Ayahnya. Dia tahu, hal apa yang membuat Ayahnya sampai menangis.
"Ayah makan dulu, ya?" Andah berusaha membantu ayahnya untuk bersandar, setelahnya baru menyuapi sang Ayah makan.
Setelah semuanya selesai, Andah bersiap-siap pergi ke kampus. Seperti biasanya, dia menumpangi angkutan umum supaya bisa cepat sampai ke tempat tujuannya.
"Pak, di sini saja!" Andah memberhentikan angkutan umum yang ditumpangi sedikit berjarak dengan area kampusnya. Sisanya, dia berjalan sedikit demi sedikit walau dengan rasa pusing yang masih mendera.
"Itu … Ojan?" gumam Andah, dari kejauhan dia melihat seorang pria bersetelan jas sedang berbincang dengan salah satu Dosen kampus ini bernama Lenanda.
"Ah, bukan! Dia hanya pria yang mirip itu, kan?" gumam Andah lagi. Andah berjalan semakin mendekat, matanya menyipit, berusaha memastikan apa yang dilihatnya kini.
Semakin dekat jarak mereka, Andah semakin yakin pula kalau itu memang benar Ojan, suaminya. Namun, yang sangat mengejutkannya adalah sang suami mendapat ciuman dan pelukan mesra dari Lenanda.
Sebelum pergi, Lenanda melambaikan tangan pada pria yang mirip Ojan itu. "Bye, Geon!" ucap Lenanda, kaki jenjangnya memasuki area kampus.
Geon hanya mengangkat tangan kaku sebagai balasan pada tunangannya itu. Saat dia hendak masuk ke mobil, tanpa sengaja dia bersitatap dengan Andah.
'Dia bukan Ojan, Andah! Lupakan saja dia!'
__ADS_1
...****************...