
Andah kembali ke rumah dan melanjutkan aktivitasnya tanpa ingin memikirkan pria yang berwajah mirip dengan Ojan. Satu-satunya hal yang harus ia urus bukan hanya Ojan. Andah tak bisa mencurahkan semua waktunya hanya untuk mengurus Ojan dan mengabaikan pekerjaannya yang lain.
Wanita itu terjun mengurus skripsinya yang terbengkalai dan kembali menjadi project yang dapat ia kerjakan. Begitu terus yang dilakukan oleh Andah selama beberapa hari terakhir, hingga dirinya mengabaikan dunia luar dan terus berdiam diri di dalam kamar.
"Andah! Kau belum membereskan rumah! Sampai kapan kau akan bermalas-malasan? Kau sudah bosan hidup? Kau ingin mati sendirian di dalam kamar sana? Setidaknya urus ayahmu yang sakit-sakitan itu! Aku tidak ingin dibebani orang sakit!" omel Inggrid pada Andah dengan suara kencang sembari menggedor-gedor pintu kamar Andah.
Andah segera bangkit dari bangkunya dan menyudahi pekerjaannya yang begitu menyita waktu. Wanita itu pun keluar dari kamar dan bergegas membereskan rumah sesuai dengan perintah Inggrid.
"Kau sudah tidak bekerja lagi? Bagaimana ayahmu bisa bertahan hidup kalau kau terus mengunci diri di dalam kamar dan tidak mencari uang di luar sana? Memangnya uang bisa datang sendiri?" omel Inggrid sembari mengawasi Andah yang tengah sibuk dengan sapu dan kain pel.
Andah hanya diam tanpa ingin menanggapi perkataan Inggrid. Wanita itu terlalu malas meladeni omelan yang selalu masuk ke telinganya.
Tok, tok! Pandangan Andah mulai teralihkan pada pintu yang ada di ruang tamu. Wanita itu bergegas menyambut tamu yang datang, yang tak lain ialah Yana.
"Kak Yana?" sapa Andah begitu girang saat melihat Yana. Wanita itu langsung berlari memeluk Yana dengan mata berkaca-kaca. Tak ada siapa pun lagi di dunia ini yang bisa ia ajak berbagi selain Yana.
"Kau segitu rindunya padaku?" celetuk Yana sembari mengusap rambut Andah.
Andah hanya diam dan mengangguk dengan kencang. Wanita itu segera menyeret Yana masuk ke kamarnya dan mengajak temannya itu berbincang.
"Aku bawakan sesuatu untukmu!" ujar Yana sembari menyodorkan banyak makanan dan camilan bagi ibu hamil itu.
"Apa ini?" tanya Andah sembari membuka-buka bungkus makanan tersebut, dan melihat banyak makanan tersimpan di dalam sana.
"Kau pasti tidak bisa makan dengan baik karena ibumu itu. Kau sedang hamil, Andah. Makanlah yang banyak dan kumpulkan lagi tenagamu demi anakmu!" cetus Yana menyemangati Andah.
Andah mengangguk dan cukup terharu mendapatkan perhatian dari Yana. Wanita itu memang tak sempat merawat tubuhnya dengan asupan yang cukup karena sulitnya ekonomi di keluarganya. Terlebih lagi pekerjaan baru Andah belum terlalu menghasilkan, sehingga wanita itu belum bisa memanen banyak hasil dan masih harus bersabar.
__ADS_1
"Apa yang kau kerjakan sekarang? Kau sudah mendapatkan pekerjaan baru?" tanya Yana.
"Aku masih berusaha melakukan sebisaku. Saat ini mencari pekerjaan lepas yang bisa aku lakukan. Hasilnya memang belum terlihat, tapi setidaknya dompetku tidak benar-benar kosong," terang Andah.
"Memangnya pekerjaan apa yang kau lakukan? Hal terpenting, kau tidak membahayakan kandunganmu. Seharusnya disaat-saat seperti ini, kau menikmati perhatian dari suami dan memperbanyak istirahat. Mengandung bukan hal yang mudah, kan? Apalagi untuk perempuan pekerja sepertimu," cetus Yana mengkhawatirkan kondisi Andah yang memprihatinkan.
Andah mengulas senyum dan menunjuk laptop mini yang sekarang menjadi alat untuk dirinya bekerja. "Tidak perlu khawatir. Aku tidak melakukan pekerjaan fisik yang berat. Hanya saja, memang pekerjaannya cukup rumit dan melelahkan."
"Kau masih akan tetap bertahan, kan? Aku yakin kau pasti bisa!" ujar Yana.
Andah mengangguk dan kembali mengisi ulang semangatnya yang hampir roboh karena banyaknya masalah yang datang menguji disaat bersamaan. Dukungan dari satu teman Andah benar-benar sangat berarti bagi wanita yang hampir saja putus asa itu.
"Terima kasih banyak sudah datang dan menanyakan kabarku! Kedatangan Kak Yana benar-benar menghiburku," ucap Andah tulus.
*****
Geon terus mengingat wajah Andah hingga pria itu hampir kehilangan akal karena meninggalkan client-nya demi menemui Andah. "Apa sebenarnya maumu, Geon? Sejak kapan kau bersikap plin-plan seperti ini?" geram Geon pada dirinya sendiri.
Lamunan pria itu pun buyar karena dering telepon genggamnya yang berbunyi kencang di dalam kamar. Geon menatap layar ponselnya dan melihat nama Lenanda terpampang jelas di sana.
"Halo, Geon? Kamu sudah pulang? Atau lembur?" tanya Lenanda pada Geon.
"Aku sudah pulang. Ada apa?" tanya Geon dingin.
Entah kenapa kalimat singkat yang diucapkan oleh Geon begitu menusuk ke dalam hatinya. "Ada apa kau bilang? Memangnya kalau tidak ada hal penting ... aku tidak boleh menghubungi tunanganku sendiri?" tanya Lenanda sedikit kecewa dengan kata-kata Geon.
"Bukan begitu. Aku hanya ingin bertanya saja, siapa tahu ada hal yang penting," cetus Geon mencoba menjelaskan, tapi pria itu tak dapat lagi bersikap manis di depan Lenanda.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengobrol denganmu. Setelah kau kembali, aku merasa semakin menjauh darimu," ungkap Lenanda mengatakan rasa tidak nyamannya atas perubahan sikap Geon pada dirinya yang dinilai Lenanda cukup dingin, dan tidak seperti Geon yang dulu.
"Kenapa kau berpikir begitu? Sudah kubilang kalau aku sibuk mengurus pekerjaan, kan? Kau juga tahu sendiri bagaimana keadaan perusahaanku saat ini," timpal Geon dengan nada tinggi.
Lenanda cukup kecewa mendengar kata-kata Geon yang cukup menyakitkan, bahkan memarahinya hanya karena dirinya mengungkapkan isi hatinya. "Kenapa kau jadi marah padaku? Aku hanya ingin dekat dengan tunanganku. Apa aku berlebihan?" tanya Lenanda dengan wajah memelas.
Geon terdiam sejenak. Pikirannya yang tengah kalut karena Andah, membuat pria itu makin mudah marah dan melampiaskannya pada wanita yang tak bersalah.
"M-maaf, Lenanda! Pikiranku sedang kacau," cetus Geon.
"Kau ini sebenarnya kenapa? Apa aku berbuat salah padamu?" tanya Lenanda. "Apa aku bersikap menyebalkan akhir-akhir ini?"
"Kenapa kau berbicara begitu? Aku minta maaf. Maafkan aku!" ucap Geon mencoba membujuk Lenanda. "Pekerjaanku sudah tidak terlalu banyak. Aku ... akan mencoba meluangkan waktu untukmu."
Lenanda akhirnya dapat ditenangkan sejenak dan berhenti melayangkan protes pada Geon. "Apa kau sibuk besok malam?" tanya Lenanda tiba-tiba.
"Kenapa? Kau ingin mengajakku ke suatu tempat?" tanya Geon balik.
"Bisakah ... kau datang ke rumahku?" pinta Lenanda. "Orang tuaku terus menanyakanmu. Datanglah ke rumahku, Geon! Orang tuaku ingin mengundangmu makan malam," ujar Lenanda. Tentunya undangan makan malam itu membawa maksud tertentu, yang tak lain hendak membahas mengenai kelanjutan hubungan antara Geon dengan Lenanda.
Geon terdiam sejenak. Tanpa diberitahu pun, pria itu sudah dapat menebak tujuan dari undangan orang tua Lenanda. Secepatnya, Geon harus segera memberikan keputusan dan berhenti menggantungkan hubungan dengan dua wanita yang membutuhkan kepastian darinya.
"Tentu! Besok aku akan datang!" sahut Geon.
"Kau harus segera memberikan keputusan, Geon!" gumam Geon lirih usai ia mematikan sambungan telepon dengan Lenanda. Geon harus memilih kembali menjadi tunangan Lenanda, atau menjalani peran sebagai suami bagi Andah?
****
__ADS_1