
Orang-orang berpakaian jas hitam dan dilengkapi dengan kacamata hitam itu hanya diam saja. Mereka meletakkan banyak barang bawaan di teras rumah Andah. Bahkan, tak ragu ikut menata barang-barang itu di dalam rumah Andah dengan rapi.
"Hey! Siapa kalian? Kenapa begitu lancang memasuki rumah orang lain?" teriak Andah, dia kalang kabut. Dari sekian banyaknya orang berjas hitam, tidak ada satubpun dari mereka yang mau memberi penjelasan kepada Andah.
"Andah, tenanglah! Aku yakin mereka ini bukanlah orang jahat. Lihatlah! Mereka membawakan barang-barang keperluanmu. Dan tidak ada satu pun dari mereka yang berusaha menyakitimu, kan?" Kak Yana berusaha menenangkan Andah yang kebingungan.
"Tapi, aku masih saja ragu. Kenapa mereka tidak mau menjawab pertanyaanku?" Andah gusar, banyak sekali barang yang dibawa oleh para pria berjas hitam tersebut. Barang-barangnya sampai memenuhi teras dan rumah Andah.
Selesai menata barang-barang itu, satu orang berjas hitam menemui Andah.
"Semua barang pemberian Tuan Geon sudah selesai kami serahkan. Kami pergi dulu!" ucap pria itu, sedikit membungkukkan badannya kemudian pergi meninggalkan rumah Andah.
"Andah, Tuan Geon itu siapa? Wah! Sepertinya pria botak itu sangat menyukaimu, ya, sampai mengirimkan banyak barang seperti ini!" seru Inggrid. Dia merasa sangat senang. Namun, kesalahpahamannya membuat Andah merasa kesal.
"Pria botak?" Kak Yana tersenyum sinis pada Inggrid.
"Maaf, Tante, Andah bukan wanita murahan seperti yang kamu pikirkan!" bantah Kak Yana. Tetapi, Inggrid tidak peduli dengan penyangkalan kak Yana. Dia terlampau senang dengan semua barang-barang itu.
"Tas ini bagus sekali!" Inggrid tersenyum senang.
"Semua barang-barang ini diberikan untuk Andah. Bukan untukmu!" ketus Kak Yana.
"Diamlah! Memangnya kenapa? Aku ini ibunya, jika aku menikmati sedikit barang-barang ini juga tidak masalah!" balas Inggrid, sejak dulu dia tidak pernah senang dengan Yana.
"Sudahlah, Kak, biarkan saja dia." Andah malas memperdulikan Inggrid. Dari semua barang-barang itu, ada yang mencuri perhatian Andah.
"Itu susu Ibu hamil, Kak," ucap Andah, menunjuk ke arah sebuah kotak yang berlabelkan merk tertentu.
"Berarti dia juga lumayan peduli pada anaknya," ujar Kak Yana yang langsung dianggap oleh Andah.
"Mungkin saja," ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Kak, bantu aku memasukkan semua barang-barang ini, ya!" pinta Andah memelas.
"Memasukkannya ke dalam? Kupikir, kamu akan meminta orang-orang berjas hitam tadi untuk membawanya kembali pada Geon," seloroh Kak Yana sambil terkekeh.
Andah menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Untuk apa menolaknya? Ini hak anakku dari ayahnya," ucap Anda lirih agar tidak terdengar oleh Inggrid yang mungkin saja sedang menguping pembicaraan mereka.
"Benar juga!" Kak Yana berseru membenarkan.
Sementara itu, Geon yang berada di dalam mobil di ujung gang menuju ke rumah Andah sedang menunggu orang-orang suruhannya kembali. Dia terus menetap jalanan yang dulunya sering dia lewati. Banyak kenangan indahnya bersama Andah yang mungkin tak lekang dari hatinya. Namun, seiring waktu, semua itu hanya akan menjadi bayangan semu.
"Bagaimana, apa dia menerimanya?" tanya Geon.
"Nona Andah menerima semua barang-barang yang Anda berikan, Tuan," lapor seorang pria.
Mendengar hal itu, Geon langsung tersenyum. Pasalnya, tadi pun dia sempat khawatir, kalau Andah menolak barang-barang pemberiannya.
"Maaf, aku hanya bisa memberikan barang-barang seperti ini. Aku tidak bisa memberikan yang terbaik untuk anak kita," Geon membatin sambil menyalahkan dirinya sendiri.
***
Namun, pikirannya terus melayang pada seorang wanita yang sekarang sedang mengandung buah hatinya, yaitu Andah.
Perasaannya benar-benar sudah terbagi.
"Ahh! Besok aku akan menikah dengan Lenanda. Tapi, kenapa aku malah terus menerus memikirkan Andah?" Geon memijat pelipisnya. Sepertinya, dia masih belum sadar kalau hatinya sudah terbelenggu cinta Andah.
Geon berusaha untuk memejamkan matanya. Tapi, bayangan Andah yang sedang menimang-nimang anak mereka terus menggelayuti pikirannya.
"Geon, kau ini kenapa, sih? Cepatlah tidur supaya besok kau terlihat segar!" Geon mentitah dirinya sendiri.
Ke manapun dia pergi untuk melalaikan pikirannya, apa pun yang dilakukannya, tetap saja Andah yang terus bergentayangan dalam pikiran Geon, membuat pria itu teramat kesal dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Apa aku memang sudah mencintai Andah?" satu kata itu tercetus dari mulutnya. Geon kembali mengingat saat-saat dia bersama dengan Andah, kemudian Geon membandingkan saat-saat dirinya bersama Lenanda. Semua perasaan itu terasa sangat berbeda.
"Hanya mengingat kebersamaanku dengan Andah saja, aku bisa senyum-senyum sendiri. Tapi, saat bersama Lenanda, aku merasa illfeel dengan sikap manjanya itu," gumam Geon. Menggaruk kepalanya yang terasa gatal karena pikirannya sendiri.
"Mungkin, aku benar-benar sudah mencintai Andah. Makanya, sampai sekarang pun aku belum bisa menceraikannya, perasaan tidak rela ini terlalu mendominasi!" gumam Geon lagi. Perlahan-lahan hatinya mulai sadar siapa wanita yang sungguh-sungguh dia cintai. Dia tidak menyangka, Andah berhasil menyusup masuk dan menggeser posisi Lenanda yang sempat bertengger lama di hati Geon.
"Besok aku akan datang dan meminta maaf. Serta meminta kesempatan pada Andah. Semoga saja, perasaan Andah padaku berubah, masih sama seperti dulu." hati Geon terasa menghangat. Semalaman dia tidak bisa tidur hingga fajar mulai menyingsing, matanya masih sukar untuk terpejam. Geon terus mondar-mandir di dalam kamarnya. Sambil mengecek matahari yang mulai menampakkan diri.
"Apa aku pergi sekarang saja? Mumpung tidak ada orang yang melihat. Jika mereka melihatku pergi, mereka pasti akan menahanku pergi karena waktu pernikahan hampir tiba." Geon mulai mempertimbangkan rencananya matang-matang. Menyusun sebuah rencana pelarian di hari pernikahannya.
"Pelarian? Kata-kata lelucon itu cukup membuatku terkekeh." Geon menyambar kunci mobilnya. Perlahan-lahan Geon membuka pintu kamarnya, menimbulkan kepalanya berusaha untuk melihat situasi di luar.
"Aman!" Geon merasa senang karena sepertinya rencana pelariannya itu akan berakhir dengan lancar.
Setelah dirasa semua aman, Geon menuju ke mobilnya. Dia menekan kecepatan tinggi supaya bisa cepat keluar dari area rumahnya.
"Andah, tunggu aku! Aku akan menjemputmu dan anak kita! Aku berjanji akan memperbaiki semuanya, keluarga kecil kita akan hidup bahagia seperti keinginanmu," gumam Geon, laju mobilnya tak terkendali. Untung saja, jalanan masih sangat sepi, sehingga kecepatan mobil Geon tidak menimbulkan masalah apa pun.
Tidak memakan waktu lama, akhirnya Geon tiba di sebuah gang kecil yang menuju ke rumah Andah. Saat Geon menapaki kakinya dan berjalan ke rumah Andah, hatinya berdesir. Takut dengan ekspresi Andah yang Geon sendiri tidak tahu.
"Dia mau mendengar penjelasanku atau malah akan mengusirku pergi?" gumam Geon. "Jika belum mencoba Aku tidak akan tahu jawabannya." Geon telah bertekad untuk menemui Andah dan memperbaiki semua kesalahannya.
Geon sudah mengetuk pintu hingga beberapa kali. Namun, belum ada yang membukakan pintu untuknya.
"Aku datang terlalu pagi," gumam Geon.
Dia kembali mengetuk pintu. Sampai akhirnya terdengar suara seorang wanita yang berteriak memanggil nama Andah. Geon pun cukup mengenali suara itu. Suara seseorang yang dulu juga cukup sering meneriakinya.
"Andah! Kamu tidak dengar ada orang yang mengetuk pintu? Cepat bukakan pintunya! Orang itu terus menggedor, apa kamu menunggu pintu itu ambruk dulu?" teriak seorang wanita yang tidak lain adalah Inggrid.
"Siapa, sih?" decakan Andah dapat terdengar jelas oleh Geon.
__ADS_1
Saat detik-detik Andah membukakan pintu untuk Geon, jantung pria itu berdetak tak karuan. Saat decitan pintu terdengar, Geon semakin khawatir.
"Andah?" sapa Geon duluan ketika netra mereka saling bersitatap.