Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
58. Pernyataan Cinta


__ADS_3

Andah terkesiap. "A-apa katamu barusan? Kembali padamu?" Andah begitu shock saat mendengar permohonan Geon.


"Jangan melotot seperti itu. Nanti matamu bisa keluar," gurau Geon, sengaja dia berkelakar agar suasananya tak terlalu mencekam.


"Geon, Aku sedang tidak mau bercanda. Katakan dengan jelas, Apa maksudmu barusan? Kau hanya mau mempermainkanku saja, kan?" Andah kembali memastikan. Sebelum mendapatkan jawaban, perasaan Andah tak tenang.


Geon juga turut merubah raut wajahnya menjadi lebih serius. Dia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bercanda, Andah. Aku bener-bener serius memintamu untuk kembali padaku!" terangnya, nada suaranya memelas, berharap Andah mau menuruti keinginannya itu.


Andah berusaha menepis genggaman tangan Geon. Tapi, Geon tak mau melepaskan genggaman tangan mereka.


"Geon, Apa kau sudah gila? Otakmu bergeser, huh?" sentak Andah. "Ini adalah hari pernikahanmu! Bisa-bisanya kau malah bercanda denganku di sini? Kau sungguh keterlaluan, Geon! Pergilah dari sini!" Andah menaikkan oktaf suaranya.


"Andah, kumohon dengarkan penjelasanku dulu. Sebentar saja …." Geon mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Penjelasan apalagi yang harus aku dengarkan? Tempo hari, aku juga sudah menjelaskan kalau bahwa kau tak bisa meninggalkan Lenanda. Apa itu masih belum cukup? Sampai kapan kau akan puas menyakiti perasaanku?!" Andah menatap Geon berang, dia benar-benar marah.


Geon berlutut di hadapan Andah. "Tempo hari itu hanya kekeliruan, Andah. Kau tidak bisa merasakan bagaimana beratnya aku saat mengucapkan perpisahan padamu. Saat itu, aku belum menyadari perasaanku yang sepenuhnya sudah jatuh dalam pelukanmu, Andah!" Geon mengiba, membuat Andah sedikit terenyuh dengan penjelasan Geon.


"Semalaman aku tidak bisa tidur, dikarenakan terus memikirkan perasaanku. Selama ini, aku selalu bimbang akan perasaanku pada Lenanda. Aku berpikir, aku mencintainya. Tetapi, nyatanya tidak seperti itu, Andah. Kamu lah yang memenuhi semesta di dalam hatiku, kau lah cintaku. Bagaimana bisa aku menikah dengan wanita yang tidak aku cintai? Sedangkan hatiku ini, telah digenggam olehmu?" Geon meringis, pria itu juga hampir menangis. Namun, sekuat tenaga ditahan olehnya.

__ADS_1


Geon semakin khawatir karena sejak tadi Andah tidak mengatakan apa pun. Kebisuan wanita itu membuat Geon mengira kalau Andah tak lagi memiliki perasaan yang sama.


Geon menggenggam tangan Andah semakin erat pula, menciumi punggung tangan istrinya.


"Aku tau, mungkin ini sudah sangat terlambat. Akan tetapi, secepat itu kah perasaanmu menjadi sirna? Tidak kah, sedikit pun tersisa  lagi untukku?" wajah Geon memerah. 


"Geon, bagaimana kamu bisa menyatakan perasaanmu padaku lagi di hari pernikahanmu? Kurasa, kita sudah tidak mungkin bersama lagi, Geon. Maafkan aku, tapi aku tidak mau masuk ke dalam kehidupanmu lagi. Aku sudah cukup senang seperti ini. Kumohon, lupakan sajalah aku!" perlahan Andah menepis tangan Geon yang malah menggenggamnya semakin erat.


"Andah, kumohon jangan seperti ini! Aku tidak bisa memaksakan perasaanku dan menikah dengan wanita yang tidak kucintai. Aku tau, sebenarnya kamu masih mencintaiku, kan? Tidak ada yang bisa memisahkan kita karena ada dia yang menjadi penghubung kita! Tidak ada yang bisa menggantikan peranku sebagai ayahnya. Tidak ada yang bisa menjadi Ayah terbaik untuknya selain aku, Andah!" Geon terus berusaha meyakinkan Andah kalau dirinya tidak main-main.


"Aku tidak mau dicap sebagai perusak, Geon. Kau pernah meminta aku untuk melupakanmu, dan aku sudah melakukannya. Jangan ganggu aku lagi!" Andah kekeuh dengan pilihannya.


"Tidak. Aku tidak mengizinkanmu untuk melupakan aku!" Geon menggelengkan kepalanya sampai berulang kali.


"Geon! Malu dilihat orang lain!" protes Andah, memukul-mukul pelan dada Geon supaya pria itu mau melepaskannya.


"Jangan berharap Aku mau melepaskanmu, Andah!" Geon terus memeluk Andah dengan erat, tidak peduli dengan tetapan orang-orang yang mulai berlalu-lalang di depan rumah Andah.


"Sebenarnya, apa yang kamu inginkan? Baru beberapa hari yang lalu kamu memintaku untuk melupakan semuanya. Katamu, pernikahan kita hanyalah sebuah kesalahan. Dan kamu, juga tidak mau mengakuinya, bukan? Sekarang, kau malah kembali dan memohon padaku? Maaf, Geon, aku tidak bisa dipermainkan semudah itu. Keputusanku untuk melepaskanmu sudah bulat. Jadi, walaupun kamu mengiba sekali pun, itu hanya akan sia-sia!" ucap Andah, dia berucap sembari memejamkan matanya. Begitu sakit ketika mengatakan sesuatu yang berbeda dengan kenyataan mengenai rasa yang ada di hatinya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa percaya dengan apa yang kamu ucapkan barusan. Jangan berbohong padaku, Andah!" Geon menguraikan pelukan mereka, memaksa Andah untuk menatap matanya.


"Kamu benar-benar sudah melupakan aku sepenuhnya? Tidak lagi mencintaiku?" tanya Geon, memegang pundak Andah.


Andah menganggukkan kepalanya. Menggigit bibir bawahnya yang terasa kelu. "Tentu saja, untuk apa aku membohongi diriku sendiri? Itu tidak baik." Andah membuang muka, dia tidak kuat menatap netra Geon yang menyiratkan rasa iba padanya.


"Aku tidak percaya!" Geon tersenyum meremehkan. "Aktingmu buruk sekali, Sayang!"


"Terserah. Aku juga tidak peduli kau percaya atau tidak!" ketus Andah.


"Kalau kau memang benar-benar sudah melupakanku seperti yang kamu katakan, ucapkan hal itu sambil menatap mataku, Andah! Jika kamu tidak mampu melakukannya, berarti kamu memang benar-benar sudah berbohong."


Andah mengerutkan keningnya. "Berbohong katamu? Lepaskan aku! Aku mengatakannya sambil menatap matamu atau tidak, itu bukanlah hal yang penting." Andah mengelak. Tentu dia tidak bisa melakukan apa yang Geon minta.


"Berarti dugaanku memang benar. Kau masih mencintaiku, Andah!" Geon berseru dengan perasaan senang.


"Dasar keras kepala," rutuk Andah mulai kesal.


"Ya. Jika dalam hal mencintaimu, aku memang keras kepala untuk bertahan. Tidak akan ada yang bisa menggoyahkan perasaan ini. Aku yakin, kamu pasti juga seperti itu!" Geon kembali memeluk Andah. Sama sekali tidak peduli dengan penolakan istrinya yang terus memberontak.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2