
Lenanda terduduk sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri. Dia tidak menyangka, Geon malah menghilang di hari pernikahan mereka.
"Yang benar saja? Kenapa dia sangat tidak bertanggung jawab seperti ini? Meninggalkan Lenanda anda di hari pernikahan!" pekik Tuan Lee. Dia sangat marah setelah mendengar kabar buruk itu.
"Maafkan kami karena sudah membuat keluarga kalian kecewa," ucap Mama Anita mewakili anak tirinya. "Kamu juga tidak ingin hal ini terjadi. Tetapi, tidak ada yang bisa menebak jalan pikiran Geon. Kami juga tidak tahu kenapa dia bisa melarikan diri seperti ini," tukas Mama Anita, terkesan menyudutkan Geon.
"Jangan sembarangan menuduh calon suamiku! Aku yakin, Geon bukan melarikan diri. Dia hanya pergi sebentar saja. Aku mau menunggunya kembali," bantah Lenanda, dia berusaha meyakinkan diri kalau Geon benar-benar mencintainya. Tidak mungkin tega meninggalkannya begitu saja.
"Tapi, inilah kenyataannya. Bukalah matamu, Lenanda!" timpal Jonathan, dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas.
"Jangan ikut campur kamu, Jonathan! Tidak ada yang memberimu hak untuk berbicara buruk tentang calon suamiku!" pungkas Lenanda geram.
"Lenanda, tenangkan dirimu, Nak! Apa kamu sudah mencoba untuk menghubungi Geon?" tanya Mama Lenanda, mengusap punggung putrinya supaya bisa lebih tenang.
"Sudah, Ma. Tapi, Geon memang tidak bisa dihubungi," adunya, menangis dalam pelukan sang Mama.
"Sabar, Sayang. Mama yakin, Geon sangat mencintaimu, dia pasti akan kembali." Mamanya berusaha terus untuk menenangkan sang putri yang mulai linglung.
Di tengah kebingungan, seorang pelayan masuk memberikan sebuah kabar yang sangat ditunggu-tunggu keluarga Lenanda. Setelah mendengar kabar itu, Jonathan dan mama Anita kompak saling memandang sembari mengepalkan tangan.
"Kenapa dia kembali dan mengacaukan kesempatan baikku, sih?" gerutu Jonathan kesal.
Lenanda langsung berlari ke depan menghampiri Geon. Dia ingin memeluk calon suaminya itu, menumpahkan rasa khawatirnya ketika mendengar kabar Geon menghilang.
Geon menggandeng tangan seorang wanita. Berdiri di tengah-tengah para tamu undangan. Semua tamu undangan sangat kaget dengan kejadian yang berlangsung di depan mereka.
Mereka semua mulai berbisik-bisik, membicarakan kelancangan Geon.
Keluarga Lenanda, Jonathan, beserta Mama Anita juga ikut kaget dengan apa yang mereka lihat.
__ADS_1
"Geon, siapa wanita itu?" tanya Tuan Lee, tatapannya tertuju pada Geon yang menggenggaman tangan Andah.
"A-andah?" Lenanda tergugu, tidak menyangka kalau praduganya selama ini memang benar. "Kenapa kalian bisa bersama?" Hanya saja, Lenanda belum mengetahui hubungan apa yang terjalin di antara mereka berdua.
Geon tak langsung menjawab. Lantas, dia memperhatikan sekelilingnya.
"Di sini, aku ingin memperkenalkan Andah kepada kalian semua. Dia adalah istriku!" ucapan Geon benar-benar mengejutkan semua orang.
Andah tertunduk, dia tidak berani melihat orang-orang yang sedang menatapnya tajam.
"Geon, apa maksudmu? Kenapa kau memperkenalkan wanita ini di hari pernikahan kita? Kamu keterlaluan, Geon! Sejak kapan kalian menikah?" cecar Lenanda, dia sudah tidak bisa menahan lajuan air matanya. "Aku berharap ini hanya sebuah candaanmu. Ini kejutan yang kamu siapkan untukku, kan?" Lenanda tertawa sumbang. Harapannya terlalu besar.
Geon menggeleng. "Ini bukan kejutan. Aku juga tidak sedang bercanda," bantah Geon.
"Kami sudah menikah saat aku amnesia," akunya di hadapan publik. Tidak peduli tatapan cemoohan orang-orang.
"Dia tidak memanfaatkan kesempatan. Aku tahu betul kejadian saat itu," sangkal Geon. Pria itu menggenggam tangan Andah semakin erat.
"Tidak perlu takut. Kita akan menghadapi keadaan ini bersama-sama," bisik Geon, mengucap pucuk kepala Andah.
Hal itu disaksikan Lenanda langsung. Hatinya semakin perih.
"Ternyata, sikap lembutmu yang perlahan berubah. Dan alasan-alasan tak masuk akal yang kamu berikan, itu semua karena–"
"Karena aku sedang bimbang dengan hatiku sendiri. Sekarang, aku sadar, yang paling aku cintai hanyalah Andah. Yang patut aku perjuangkan adalah dia, calon Ibu dari anakku! Kami sudah menikah sejak lama, dia bukanlah pengganggu di antara kita. Aku sendiri yang menariknya kembali, memintanya untuk kembali berjuang demi anak kami!" tegas Geon, melihat semua orang secara bergantian.
"Geon! Kau benar-benar keterlaluan! Kau menyakiti perasaan Lenanda!" seru Jonathan, dia merasa kesempatannya sudah tiba.
"Ah, hampir saja aku melupakan. Bukankah selama ini kau menyimpan perasaan spesial untuk Lenanda? Sekarang, momennya sudah sangat pas. Kenapa kamu tidak menyatakan perasaanmu saja? Apa kamu mau terus menyembunyikan perasaanmu dalam kegelapan?" Geon terkekeh.
__ADS_1
"A-apa?" Jonathan kaget. "Aku tidak–"
"Sudahlah. Tidak ada gunanya terus berpura-pura. Aku tau, sudah lama kau menaruh hati padanya, kan?" potong Geon, tidak memberikan kesempatan Jonathan untuk berkilah.
"Bagaimana dia bisa tahu aku menyukai Lenanda? Padahal, aku sudah menutupi perasaan ini sebaik mungkin. Tapi, masih saja tercium olehnya. Tapi, apa yang dia katakan benar juga. Ini satu-satunya kesempatan terbaik. Jika Lenanda mau menerimaku, kami bisa langsung menikah hari ini," batin Jonathan, tersenyum sambil menyusun kata-kata pengungkapan cinta.
Jonathan maju beberapa langkah, menghampiri Lenanda yang sedang menangis sesegukan. Tidak peduli dengan percakapan tidak penting antara Jonathan dan Geon.
Dengan berani Jonathan memegang tangan Lenanda. Kemudian, mulai mengungkapkan perasaan yang selama ini dia pendam.
"Apa yang dia katakan memang benar. Selama ini, aku menyukaimu. Menyimpan perasaan itu tidaklah mudah. Berusaha untuk tidak cemburu setiap kali kalian bersama. Sekarang, aku memiliki sedikit kesempatan untuk masuk ke dalam hatimu. Aku tau, tidak mudah bagimu untuk langsung menyukaiku. Tapi, maukah kamu mencobanya?" kata-kata itu terucap di bibir Jonathan dengan mudah.
Setelah melihat pernyataan cinta Jonathan, Geon memutuskan untuk pergi.
"Sayang, urusan kita di sini sudah selesai. Ayo, aku akan membawamu jalan-jalan. Ke manapun kamu mau pergi!" ajak Geon, senyum keduanya merekah. Geon tak lagi melirik Lenanda yang berharap Geon akan menikahinya. Tatapan penuh cintanya kini hanya tertuju pada Andah, sang istri saja.
Andah mengangguk. "Ayo! Terserah kamu mau membawaku ke mana, aku akan ikut!" Andah juga tidak kalah semangat dari sang suami.
Keduanya melangkah keluar. Lenanda menepis tangan Jonathan. Mengejar Geon dan memohon pada pria itu.
"Geon, kamu mau ke mana? Kamu tidak boleh pergi, ini hari pernikahan kita!" Lenanda mencekal tangan Geon.
"Maaf, Lenanda, aku harus membawa istriku jalan-jalan."
"Tidak. Aku lah yang akan menjadi istrimu. Dan hanya aku! Tidak boleh digantikan oleh siapa pun, Geon! Kau harus tetap mencintai aku." Lenanda menangis sesegukan, dia tidak menyangka hari bahagianya akan hancur berantakan.
********
__ADS_1