Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
42. Bayangan Wanita Lain


__ADS_3

Geon mulai kehilangan fokus dan konsentrasi usai pria itu berjumpa dengan Andah secara tak sengaja di kampus. Pria itu tak menyangka dirinya akan bertemu kembali dengan cara yang kurang menyenangkan seperti saat ini.


Geon mulai dihantui rasa bersalah begitu ia mengingat kembali sikapnya yang dingin saat berpapasan dengan Andah. Karena panik dan tak tahu harus berbuat apa di depan Lenanda, Geon terpaksa mengabaikan Andah dan bersikap seolah tidak mengenal wanita tersebut di depan Lenanda, hanya demi menjaga perasaan tunangannya itu.


“Geon, kenapa kau diam saja sejak tadi? Ada barangmu yang ketinggalan?” tegur Lenanda pada Geon yang terus diam selama menemani dirinya berjalan-jalan di pusat perbelanjaan.


“Hm? Tidak ada barang yang tertinggal,” jawab Geon singkat tanpa ingin memperpanjang obrolan mereka.


Sama seperti Geon yang tengah gundah, Andah pun juga merasakan keresahan yang sama. Meskipun tak ingin percaya jika pria yang dilihatnya tadi adalah sang suami, tapi entah mengapa hati Andah merasa sakit setelah diabaikan begitu saja oleh pria yang mirip dengan Ojan yang dilihat oleh Andah sebelumnya.


“Malang sekali nasibmu,” gumam Andah sembari mengusap perutnya yang berisi calon buah hatinya. “Kau pasti ingin melihat ayahmu?” gumamnya.


Bak jatuh dan tertimpa tangga, Andah tak menyangka dirinya akan diuji dengan berbagai kesulitan yang datang secara bersamaan seperti ini. Hal yang makin membuat Andah semakin merasa pilu adalah ... wanita itu tak memiliki seseorang yang bisa ia jadikan sandaran saat dirinya kelelahan dan kehilangan arah. Wanita itu tak memiliki penopang yang bisa ia andalkan untuk dimintai bantuan. Wanita itu tak memiliki tempat untuk berkeluh kesah dan melepas penat yang ia alami karena kehidupan.


Andah hampir saja hancur karena disudutkan dari berbagai sisi. Bukannya mendapatkan dukungan, wanita itu justru makin dihadapkan dengan cobaan yang tiada habisnya.


"Lama-lama aku bisa gila kalau aku terlalu lama berada di sini," gumam Andah mulai muak mendengar orang yang berbisik-bisik di sekitarnya dan melihat dirinya bak melihat manusia paling hina.


"Wah, wah! Ada siapa ini di sini? Ternyata sang bintang gosip masih ada di sini? Kupikir kau sudah melarikan diri sejak tadi!" Tiba-tiba saja Tama muncul entah dari mana, bersama dengan beberapa teman yang menatap sinis ke arah Andah.

__ADS_1


Hanya dalam waktu sekejap, sekeliling Andah pun mulai ramai dan dipenuhi oleh orang-orang yang ingin melihat Andah dipermalukan oleh Tama. Andah pun langsung menangkap jika orang yang menyebarkan berita mengenai Andah pastinya adalah Tama.


"Jadi, kau yang melakukannya?" sungut Andah dengan raut wajah penuh amarah.


Tanpa rasa bersalah, Tama mengeluarkan tawa kencang dengan maksud mengejek pada Andah. "Memangnya kenapa? Aku hanya mengatakan fakta!" timpal Tama.


Andah mengepalkan tangan kuat-kuat dan hanya bisa pasrah saat dirinya dijadikan bahan ledekan oleh banyak orang di tempat umum. Ingin rasanya wanita itu menjambak rambut Tama dan meneriakinya, tapi sepertinya hal itu akan terasa percuma saja.


"Kau ingin mengelak? Katakan saja pembelaanmu di sini! Sekalipun kau berkilah, aku mempunyai rekaman saat kau menari menggunakan baju seksi. Dan aku juga merekam saat kau mengatakan kalau kau hamil dan menjadikannya sebagai alasan untuk berhenti menari. Apa aku salah?" cetus Tama.


"Kau memang tidak salah. Semuanya benar dan aku mengakuinya. Tapi kau salah tentang satu hal!" tandas Andah. "Aku tidak menjual diri dan anak ini ... adalah anak suamiku! Aku sudah menikah!"


"Dasar wanita tidak tahu diri! Tidak tahu malu! Sudah jual diri masih saja tidak mau mengaku!" Cibiran dan ledekan terus saja terdengar ke telinga Andah tanpa henti.


"Coba karang alasan yang lebih bagus lagi! Pembelaanmu benar-benar basi!" cibir Tama.


Andah pun bergegas meninggalkan kampus dan mendapatkan sorak sorai yang ramai dari orang-orang yang masih meledek dirinya. Sepanjang perjalanan pulang, wanita itu tak henti-hentinya mengusap air mata dan berusaha menenangkan diri dari tangisan.


"Tenang, Andah! Menangis tidak ada gunanya! Kau tidak akan mendapatkan apa pun dengan menangis!" omel Andah pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Begitu dirinya sampai di rumah, wanita itu sudah ditunggu oleh Inggrid yang berdiri di depan pintu rumah dengan wajah marah. Wanita paruh baya itu bergegas menghampiri Andah dan bersiap mengomel pada wanita muda yang sudah berwajah sembab itu.


"ANDAH! BERKAS APA INI?" pekik Inggrid begitu kencangnya hingga mengundang perhatian tetangga.


Ibu tiri dari Andah itu bergegas menyeret Andah, kemudian mengomeli habis-habisan anak tiri yang tengah hancur itu. "Aku menemukan kertas ini di kamarmu! Jelaskan apa maksudnya! Kau hamil? Apa aku tidak salah baca? Kau akan mempunyai anak? Di saat kehidupanmu berantakan seperti ini?"


Andah memungut berkas pemeriksaannya di dokter yang sempat ditemukan oleh Inggrid. Inggrid benar-benar murka mengetahui anak tirinya itu mengandung disaat mereka tengah terjepit ekonomi. Inggrid juga khawatir, Andah tidak akan bisa menghasilkan uang selama wanita itu mengandung hingga melahirkan.


"Apa aku tidak boleh punya anak?" tanya Andah dengan ekspresi dingin. "Apa orang miskin yang suaminya menghilang sepertiku ... tidak boleh mempunyai anak?"


Tangis Andah kembali pecah. Air mata yang sudah ia tahan sejak tadi, ia tumpahkan semuanya dalam tangisan kencang di depan ibu tirinya.


"Apa orang sepertiku tidak pantas untuk hidup? Haruskah aku mati saja bersama dengan bayiku ini?" cetus Andah merasa frustasi.


Inggrid dibuat keheranan dengan tangisan Andah yang terdengar seperti tangis putus asa. Anak tirinya itu bersimpuh di lantai sembari memeluk hasil pemeriksaan dokter yang menyatakan kehamilan Andah.


Yanto, ayah dari Andah yang saat ini tengah terbaring di kamar, hanya bisa menangis saat mendengar suara tangisan putrinya yang berusaha keras menahan beratnya beban kehidupan seorang diri. Sebagai seorang ayah, pria itu merasa gagal menjalankan kewajiban sebagai kepala rumah tangga dan hanya bisa menjadi sumber penderitaan bagi putri satu-satunya.


"Ibu tidak mau tahu, gugurkan anak ini sekarang juga! Mengurus ayah dan ibumu saja kau tidak bisa, sekarang kau juga ingin mengurus anak? Kau hanya akan membuatnya menderita! Jika kau benar-benar peduli dengan kebahagiaan anakmu, gugurkan dia sekarang juga!" titah Inggrid tanpa belas kasihan sedikitpun.

__ADS_1


****


__ADS_2