
Geon kembali membuat tubuh lemas wanita berperut buncit itu terkulai tak berdaya.
"Sudah ... Sudah ...." lirih Andah ketika laki-laki itu menyelesaikan hajatnya yang telah terpendam sekian bulan, membuatnya merapel semua dengan semalam.
"Makasi, Sayang." Geon ******* kembali bibir Andah yang sudah tidak merespon sama sekali. Tubuh itu ditutupi sepenuhnya dengan selimut lembut yang memang ada di atas ranjang itu. Setelah itu, ia megusap rambut Andah yang tak lagi berbentuk. Pipi Andah ditarik gemas, tetapi istriny ini benar-benar tidak merespon sama sekali.
Ia pun beralih menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya yang terasa ringan dan melayang. Bibirnya tak berhenti mengulaskan senyuman lebar mengingat malam kedua mereka yang tak kalah hebat. Namun, ditemani oleh calon buah hati yang telah bersarang di rahim Andah, membuat suasana malam ini sungguh-sungguh berbeda.
"Kasihan sekali kalian, begitu menderita karena aku selama ini. Aku janji, setelah ini tak akan membiarkan air mata mengalir sedikit pun di pipimu."
Usainya, Geon yang masih mengenakan handuk, mendekati istrinya kembali. Beberapa kali ia mengusap rambut Andah, tetapi kali ini benar-benar tidak ada respon sama sekali. Geon mengecup pipinya. "Sholat dulu, Sayang. Aku bantu memandikanmu ya?"
Dengan segera mata Andah terbuka. "Emangnya aku ini jenazah?"
*
__ADS_1
*
*
Keesokan harinya, tubuh Andah telah fit kembali dan ia turun dari kendaraan mewah milik suaminya, setelah Geon membantu membukakan pintu dengan mesra. Tanpa mereka berdua sadari, ada dua pasang mata yang menangkap kemesraan pasangan yang baru kembali bersama.
"Aku akan menemanimu, Sayang. Ayoo!" Geon dalam balutan jas rapi menggenggam tangan istrinya melangkah memasuki wilayah tempat istrinya mengenyam pendidikan tinggi.
Namun, Andah menahan langkahnya membuat pria tampan itu menoleh ke belakang dan melirik reaksi istrinya ini.
Geon mengangkat kedua alisnya. "Untuk apa lagi uang bagimu?"
"Dasar! Sepertinya kamu adalah orang yang sudah kaya dari lahir, hingga tidak mengerti apa gunanya uang! Bahkan, kamu tidak tahu banyak yang membuang malunya demi mendapatkan uang." Andah menarik pipi Geon bersandar manja.
Deru napas salah satu orang yang menatap Andah, terdengar kasar. Hal itu merupakan bentuk amarah yang digmbarkan secara nyata oleh Lenanda. Ia memilih masuk dengan derap langkah kaki kasar, hingga menimbulkan bunyi membuat semua mata mengarah padanya.
__ADS_1
Semua yang berada di sana, mengetahui kejadian nahas yang baru saja menimpa salah satu tenaga pengajar di kampus ini. Ada bermacam tanggapan yang muncul di sana. Hal ini membuat Lenanda merasa semakin terpuruk.
Sementara itu, di sisi lain, seorang mahasiswa tampak berdecak kesal. "Si*lan! Sekarang dia ganti pasangan lagi?" Tama mencoba memfokuskan indera penglihatannya.
"Lah? Bukannya itu ...." Tama masih mengingat wajah pria yang terlihat bod*h dulu.
"Kenapa penampilannya kali ini berbeda?"
Tama mencoba mencari sisi terbaik untuk mencuridengar apa yang mereka bicararan.
"Sayang, kenapa kamu tidak mendengarkan aku sih? Kalau kamu tidak mau aku temani, maka kamu tidak boleh ke kampus!" Pria yang dalam tangkapan mata Tama terlihat mengusap perut Andah, gadis yang membuatnya terobsesi hingga ke ubun-ubun.
"Jangan, apa nanti kata orang? Apalagi, semua orang tahu bahwa kamu itu dulunya calon suami dosen kampus ini."
Tama terperangah mendengar ucapan Andah barusan. Senyum tipis nan licik terulas di bibirnya. Ia segera mengambil potret antara sepasang makhluk menyebalkan itu.
__ADS_1
"Awas kau, wanita j*lang!"