
Wajah Andah langsung beralih pada orang yang dimaksud. Wajah Jonathan yang membuat ia bertemu dengan lelaki yang ia beri nama, Ojan. Kepalanya kembali beralih pada dosen yang tiada henti meneteskan air matanya.
"Aah, Ojan—"
"Jangan panggil aku dengan sapaan begitu! Aku ini jauh lebih tua dari yang kamu kira, Sayang. Panggil aku dengan sapaan yang indah, agar aku akan terus merindukan panggilan itu." Geon tak segan memamerkan kemesraannya pada kedua makhluk asing yang merusak pagi mereka.
"Aah, jadi aku harus memanggilmu dengan apa? O~~~Jaaaan, gitu?"
Geon memasang muka datar. "Apakah tak ada yang lebih baik dari itu?"
"Bukan kah hanya aku yang memanggilmu dengan Ojan? Anggap lah itu nama indah untukmu."
"Ekheeem ...." Jonathan berdehem menatap dua insan dilanda kasmaran itu secara bergantian. "Aku rasa ini bukan situasi yang pantas untuk memamerkan kemesraan kalian berdua?"
Geon melirik dingin pada Zico. "Ooh, begitu? Lalu, kalian pikir pantas pagi-pagi begini mendatangi rumah orang lain?"
Jonathan teringa pada kejadia beberapa waktu yang lain, ketika ibu Lenanda meneleponnya mengabari Lenanda pergi dari rumah semenjak pagi setelah mengamuk tak karuan semalaman. Jonathan menarik tangan Lenanda.
__ADS_1
"Ayo kita pulang!"
Namun, genggaman tangan Jonathan dilepas dengan kasar oleh Lenanda. "Lepaskan aku! Aku tidak suka kamu! Aku cuma suka sama dia!" ucap gadis itu.
Jonathan memegang kedua pundak Lenanda. "Sudah lah! Kenapa harus dia? Aku masih ada di sini untukmu!"
Lenanda menatap Jonathan dan menepis kedua tangan Jonathan. "Kau masih bertanya, kenapa? Bukan kah kau tau, sedari dulu aku memang suka sama dia! Bukan sama kamu! Dan, kau lah penyebab ini semua! Kau lah yang membuat Geon jatuh ke tangan wanita j4lang itu!"
Andah melepaskan diri dari dekapan suaminya. Dia terkekeh mendengar pernyataan dari wanita itu. "Baik lah, Bapak dan Ibu yang terhormat. Silakan pergi meninggalkan rumah ini, karena aku sudah tidak tahan ingin munt4h mendengar drama yang sangat mengganggu pada awal aktivitas keluarga kami."
Jonathan menatap kasar Andah. "Kau, kalau dibiarkan begini semaking ngelunjak ya?"
Jonathan tertawa sinis. "Apa yang kau banggakan pada istrimu ini? Semua orang bisa menikmati tubuhnya dengan membayarnya seharga lima puluh ribu! Bahkan, aku pun pernah mencicipi tubuhnya yang indah itu!"
Andah tertawa dengan kerasnya menatap Jonathan dengan tajam. "Apa kau bilang? Aku? Sama kamu? Aku rasa kepalamu perlu dibenturkan ke dinding supaya kau sadar bahwa kau baru saja mengalami mimpi terlalu indah."
Geon menuju sebuah meja kecil, di mana di sana terdapat stand telepon rumah yang sangat jarang digunakan. "Baik lah, jika kau mulai mencoba mengganggu istriku, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Karena aku tahu, pada siapa mahkotanya itu diberi." Geon menekan tombol pada telepon itu. Raut wajah Jonathan tampak berubah tegang.
__ADS_1
"A-apa yang akan kau lakukan?" tanya Jonathan gugup.
"Hanya ingin memanggil polisi, karena ada dua pengganggu di rumahku!" Geon seakan telah menyelesaikan memasukan semua nomor untuk panggilan pada kantor polisi. Telepon itu kali ini ditempelkan pada telinga. Geon menatap Jonathan dan Lenanda secara bergantian.
"Geon, sekarang kamu benar-benar sudah diracuni wanita sialan itu ternyata!" ucap Lenanda sarkas.
"Jaga ucapanmu! Istriku bukan wanita sialan! Dia adalah pemberi nyawa untukku."
"Ah, kantor polisi. Saya mau malaporkan ada dua orang yang sudah mengganggu rumah kami di pagi buta, Pak Polisi."
...****************...
Mampir yuuk pada karya kawan Author. Karyanya tak kalah kece dari Author yang lain.
Judul: Sahabatku Suami Pengganti
Napen: Eveliniq
__ADS_1