Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
39. Kabar Kehamilan


__ADS_3

“Jonathan! Tidak bisakah kau bangkit dari ranjang sekarang dan mencari sesuatu untuk dilakukan?” omel Anita pada putranya yang masih asyik bermalas-malasan di rumah kecil mereka saat ini.


Setelah terusir dari mansion Geon beberapa pekan lalu, Jonathan dan Anita masih belum bisa bangkit dari keterpurukan. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja, Anita sudah hampir menyerah dan tak sanggup lagi mengurus dirinya sendiri serta putranya yang setiap hari hanya berbaring di dipan kecil mereka tanpa melakukan apa pun untuk membantu menyambung hidup.


“Setiap hari kerjaanmu hanya bermalas-malasan terus! Setidaknya bantu ibumu ini untuk mencari makan setiap hari! Memangnya kau tidak butuh makan?” omel Anita kesal bukan main pada anak laki-lakinya itu.


Bukannya merenungkan omelan sang ibu, Jonathan justru mengerubuti diri dengan selimut dan sengaja menyumpal telinganya agar ia tak terus-terusan diganggu oleh amarah Anita. “Dasar bocah malas! Sampai kapan aku akan membuat repot ibumu! Cepat bangun dan cari pekerjaan sana! Atau setidaknya pikirkan sesuatu agar kita bisa kembali ke rumah Geon!” geram Anita meluapkan rasa frustasinya pada sang putra.


“Diam! Jangan ganggu aku! Aku juga sedang berpikir!” sungut Jonathan tak kalah galak dari Anita.


“Berpikir apa? Setiap hari kau hanya berbaring dan membuatku kesal! Tidak bisakah kau melakukan hal yang lebih berguna sedikit? Kau ingin terus hidup miskin seperti ini?” omel Anita setiap hari dibuat naik pitam oleh sang putra.


“Aku juga tidak ingin hidup miskin seperti ini! Tidur di kasur tipis dan keras! Hanya makan nasi dan kuah sayur setiap hari! Tidak bisa menghabiskan waktu di kelab lagi! Ke mana-mana harus jalan kaki! Siapa yang tahan dengan hidup menyedihkan begini?” gerutu Jonathan lebih frustasi dari sang ibu.


Ibu dan anak itu terus terlibat pertengkaran selama beberapa hari terakhir, hingga hubungan Jonathan dan Anita makin memburuk. Bukannya makin kompak mencari solusi, ibu dan anak itu justru menghabiskan hari-hari dengan teriakan dan omelan yang tidak ada habisnya.


Sementara di tempat lain, seorang gadis juga tengah diganggu oleh teriakan wanita paruh baya yang tak ada habisnya mengomel. Siapa lagi gadis malang itu kalau bukan Andah, yang tengah diomeli oleh Inggrid. Apa lagi hal yang membuat Inggrid meradang kalau bukan masalah uang.


Andah yang masih dilanda mual, tetap harus memaksakan diri pergi bekerja saat kondisi hamil muda. Namun, dalam keadaan seperti ini, gadis itu harus kembali berpikir ulang untuk melanjutkan profesinya sebagai penari. Perut Andah yang sudah mulai terisi nyawa bayi, tentu saja tak bisa dibawa bergerak sembarangan.


“Sepertinya aku harus mencari pekerjaan lain,” gumam Andah terpaksa harus berhenti dari pekerjaannya menjadi penari dan beralih profesi dengan pekerjaan yang lebih aman.


Dengan berat hati, wanita itu harus mencari cara lain untuk mencari nafkah demi menyambung hidup dan menyambut malaikat kecil yang akan hadir dalam hidupnya. Selain itu, Andah juga bertekad untuk kembali mencari Ojan demi anak yang dikandungnya.

__ADS_1


“Andah!” panggil Yana pada Andah begitu ia melihat temannya itu di tempat kerja. “Kau ke mana saja? Mamih mengomel terus beberapa hari ini. Kenapa kau sudah jarang datang?” tanya Yana.


Selama mengalami mual beberapa hari terakhir, kuliah dan pekerjaan Andah pun ikut terbengkalai karena kondisi fisik Andah yang memang terlalu lemah. “Aku … ada urusan yang tidak bisa ditinggal. Apa Mamih mencariku?” tanya Andah takut-takut.


“Tentu saja! Mamih pikir kau kabur dan hampir saja ingin mendatangi rumahmu! Untung saja hari ini kau datang!” tukas Yana.


Hari ini mungkin Andah akan tetap terkena omelan Mamih Lova, karena Andah yang berusaha mengundurkan diri dari pekerjaannya saat ini. “Aku … ingin bertemu Mamih Lova. Mungkin aku tidak akan bisa bekerja di sini lagi. Aku tidak akan bisa menjadi penari striptis lagi,” ungkap Andah dengan berat hati.


“Kenapa begitu? Kau ada masalah?” tanya Yana.


Andah tak tahu bagaimana ia harus memberitahu Yana tentang kehamilannya. Apalagi saat ini Ojan juga sudah menghilang entah ke mana. Namun, memang hanya alasan ini yang membuat Andah harus berhenti dari pekerjaannya. Jika saja dirinya saat ini tidak sedang mengandung, tentu saja Andah akan tetap bertahan daripada ia harus mencari jalan lain untuk mencari sumber penghasilan baru.


“Ada apa sebenarnya denganmu, Andah? Kau sudah menemukan pekerjaan baru?” tanya Yana lagi makin tak sabar menuntut penjelasan dari Andah.


Yana cukup terkejut mendengar berita kehamilan dari temannya yang masih menjadi mahasiswi itu. Yana tak menyangka, teman yang bekerja dengannya setiap hari itu sebentar lagi akan menjadi ibu. “Kau hamil? Kau sudah memastikannya? Siapa yang menghamilimu?” tanya Yana.


Obrolan Yana dan Andah pun tak sengaja terdengar oleh Mamih Lova. Bos dari Andah itu geram bukan main saat ia mendengar kalau salah satu penarinya tengah mengandung.


“Siapa yang hamil?” tanya Mamih Lova dengan suara yang menggelegar hingga terdengar ke telinga beberapa pengunjung, salah satunya Tama, teman kampus Andah yang selalu mengejar-ngejar Andah.


Andah dan Yana langsung membungkam mulut begitu Mamih Lova menyela perbincangan mereka. Karena sudah terdengar oleh Mamih Lova, Andah pun mau tak mau harus segera memberitahu niatnya untuk mundur dari pekerjaannya saat ini.


“Siapa yang hamil? Kenapa kalian diam saja?” omel Mamih Lova.

__ADS_1


Andah dan Yana saling senggol, hingga akhirnya Andah pun memberanikah diri untuk mengutarakan niatnya. “Mamih, aku ingin mengundurkan diri. Aku tidak bisa menjadi penari lagi di sini,” ungkap Andah.


Mamih Lova dibuat naik pitam dengan perkataan Andah. Belum lagi, Andah sendiri juga masih memiliki banyak utang yang belum dibayar pada Mamih Lova. Tentu saja hal itu membuat Mamih Lova tak mau melepaskan Andah.


“Apa alasannya? Jangan bilang orang hamil yang sedang kalian bicarakan itu … kau, Andah?” sentak Mamih Lova.         


Andah menelan ludah kasar dengan kepala tertunduk. Wanita itu pun mengangguk lemas tanpa bisa menutupi keadaannya saat ini yang memang sudah tak bisa menari lagi.


“Kau hamil? Jadi, kau pura-pura jual mahal dan sekarang hamil? Dasar munafik!” Mamih Lova menatap gadis kebanggaannya yang selalu saja ditawarkan kepada para pencari perawan. Namun, sekarang kenyataannya berbeda. Ia telah hamil, dan ia tidak tahu dengan siapa.


“Maaf, Mi. Sebenarnya, aku telah menikah.” Andah bergumam pelan dengan wajah tertunduh.


“APA? Jadi kau?” Mamih Lova mulai mengerti kenapa Andah selalu menghindari pelanggannya. Mamih Lova menghela nafas panjang.


“Lalu bagaimana dengan utangmu yang belum terbayar?” sungut Mamih Lova.


“Aku akan tetap membayarnya, Mih! Aku tidak akan kabur. Uangnya sudah ada di tangan, tetapi masih belum mencukupi juga.” Uang yang beberapa lalu ia dapat, ujung-ujung terus terpakai. Hingga kembali berkurang dan terus berkurang.


“Terima kasih banyak atas bantuan Mamih selama ini, tapi karena kondisi Andah yang sekarang, Andah tidak bisa lagi menari. Andah akan tetap mencicilnya setelah mendapatkan pekerjaan baru,” ujar Andah.


Dari kejauhan, Tama mengepalkan tangan kuat-kuat dan merasa geram bukan main mendengar berita kehamilan dari gadis pujaannya. “Cih, dasar gadis sok suci! Dia menolak melayaniku, tapi bersedia meladeni pria lain? Awas saja kau, Andah!”


****

__ADS_1


__ADS_2