Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
57. Kembalilah Padaku!


__ADS_3

"Andah?" sapa Geon ketika netra mereka saling bersitatap. Andah tercenung, menatap wajah Gion untuk waktu yang lama. Sejurus kemudian, Andah menyudahi tatapannya dengan sebuah deheman.


"Ojan? Kenapa kamu ke sini? Bukankah ini hari pernikahanmu? Tapi, kenapa pagi-pagi kamu malah datang kemari? Kamu mau memintaku untuk menghadiri pesta pernikahanmu dengan Lenanda, ya?" cecar Andah, diakhiri dengan senyuman getir. "Maaf, aku tidak bisa datang ke acara pesta pernikahanmu. Aku hanya bisa mengirimkan doa supaya kalian bisa langgeng dan bahagia," ucap Andah sambil tersenyum.


"Andah, Jika kamu terus-menerus berbicara. Kapan aku bisa mengungkapkan niatku datang?" Geon terkekeh. "Kamu masih saja cerewet!" Geon mencolek hidung Andah.


"Hey! Jaga tanganmu!" Andah berdecak.


"Maaf," ucap Geon.


"Kenapa kamu datang ke sini? Hari sudah mulai siang, kamu harus cepat-cepat kembali dan bersiap-siap!" tukas Andah, mengatakan hal itu diimbangi dengan rasa tak rela.


"Aku datang ke sini memang untuk menemuimu, Andah!"


"Tujuanmu apa? Lebih baik kamu pergi saja. Aku tidak mau disalahpahami oleh orang lain. Kumohon, pergilah!" Andah menolak pelan tubuh Geon agar menjauh darinya. "Berikan jarak di antara kita, jangan terlalu dekat!" terang-terangan Andah menarik garis perpisahan di antara mereka.


"Kamu mengusirku? Kupikir, kamu akan senang saat melihat aku datang." Geon tertunduk. Dia terlalu percaya diri.


"Kau terlalu percaya diri, Geon!" Andah menatap wajah Geon yang terdiam. "Katakanlah! Kenapa kau datang ke sini? Jika kau hanya mau mengatakan omong kosong, maka pergilah! Aku mau melanjutkan tidurku, tubuhku terasa remuk redam," ucap Andah lagi.


"Apa itu disebabkan oleh anak kita?" Geon mengusap perut Andah yang sudah sangat terlihat. Saat tangannya bersentuhan dengan perut Andah, Geon merasakan perasaan haru yang luar biasa.


"Sudah kubilang jangan menyentuhku!" Andah menarik diri sambil mengultimatum Geon.


"Aku hanya mau menyapa anakku saja kok," kilah Geon.


"Siapa, sih? Kenapa dari tadi kamu masih di luar? Andah! Pekerjaan kamu banyak!" pekik Inggrid dari dalam. Ketika melihat siapa yang bertandang ke rumahnya pagi-pagi, senyum sinis Inggrid langsung terlihat.


"Kau? Setelah lama menghilang, Kenapa datang lagi? Lebih bagus menghilang saja untuk selamanya! Di sini pun kau membuatku susah! Bebanku sudah berkurang, pergilah!" bentak Inggrid, sangat tidak suka dengan kehadiran seorang pria yang sampai sekarang pun dikenalinya sebagai Ojan.


"Bu, jangan sekadar itu. Masuklah! Nanti aku akan menyusul masuk," sanggah Andah, dia tetap tidak suka jika Inggrid memperlakukan Geon dengan kasar.


"Cih! Kenapa kau masih saja membela pria bodoh ini, Andah? Kau mau menampungnya di sini lagi dan menambah bebanku? Aku dia akan mengizinkan!" Inggrid berkacak pinggang,

__ADS_1


"Bu, jangan asal bicara seperti itu. Dia datang kemari bukan untuk menumpang," bantah Andah.


"Lalu, mau meminta sumbangan dari kita? Cih!" Inggrid berdecih.


"Ojan, jangan repotkan kami lagi!" sergah Inggrid, kini tatapannya beralih pada Geon.


"Bu, masuklah!" pinta Andah lagi.


"Huh!" Inggrid mendengus. Dengan perasaan kesal dia langsung masuk ke dalam.


"Kau masih tidak berubah. Masih saja membelaku," seloroh Geon, dia duduk di bangku tua teras rumah Andah.


"Kenapa kau malah duduk di situ? Pergilah, Geon!"


"Aku lebih suka kau memanggilku Ojan, Andah," ucapnya sambil tersenyum simpul.


"Ojan sudah mati," tangkas Andah cepat.


"Dia tidak mati, dia selalu ada untukmu," bantah Geon sambil geleng-geleng kepala.


"Ya, aku memang meninggalkan buah cinta kita!" Geon tersenyum senang ketika melihat perahu kesal di wajah Andah.


"Jangan mendongeng di sini. Pergilah!" Anda menarik lengan Geon. Namun, dikarenakan tubuh Geon yang lebih besar, hingga kekuatan mereka menjadi tidak seimbang. Tarik menarik itu malah berakhir dengan Andah terjatuh dalam pangkuan suaminya.


Netra mereka saling bersitatap. Beradu perasaan rindu yang menggebu. Tapi, terlalu malu untuk diutarakan.


"Ehem!" Inggrid kembali sambil berdehem. Dia sangat tidak suka Anda bermesraan dengan Geon. Terbukti dengan wajah judesnya saat memperhatikan Geon.


"Andah, kenapa kamu masih memperdulikan pria bodoh ini, sih? Dia sudah meninggalkan kamu dan anakmu. Sekarang dia kembali, kamu masih luluh juga? Harusnya, kamu juga meninggalkan pria bodoh ini, dong!" Inggrid berusaha memprovokasi Andah agar segera mengusir Geon.


Andah hanya terdiam. Bukan karena dia merenung dan menyaring kata-kata Inggrid. Melainkan, karena dia tidak terlalu peduli dengan ucapan ibu tirinya tersebut.


Melihat Andah yang terdiam, Inggrid berpikir Andah mulai meragu pada Ojan. Hatinya bersorak-sorai kemenangan. Dia pun semakin gencar memprovokasikan hubungan Andah dan Ojan agar cepat kandas.

__ADS_1


"Anak kamu butuh Ayah, Andah. Dia memang Ayah biologisnya, tapi dia tidak bisa membiayai dan membuat anakmu bahagia. Kelak, kamu pasti akan menyesal jika masih berhubungan dengan pria bodoh ini!" Inggris semakin memanas-manasi keadaan. Tatapan merendahkannya pada Ojan tak menyusut barang sedikit pun.


"Andah pasti sudah goyah. Dia pasti sudah memikirkan semuanya matang-matang," batin Inggrid tersenyum sinis.


"Aku bisa membiayai anakku. Jangan asal bicara!" tangkas Geon, dia tidak suka Inggrid yang terus berusaha mempengaruhi Andah.


"Hey! Kau itu hanya orang bodoh yang tidak jelas asal usulnya! Lebih baik diam saja dan intropeksi diri. Andah dan anaknya juga butuh kebahagiaan. Tapi, bukan dari orang sepertimu!" ketus Inggrid.


"Asal kau tau, ya. Andah sudah memiliki tambatan hati yang lain. Yang pastinya jauh lebih kaya dibandingkan dengan pria miskin sepertimu!" Geon terbungkam, tatapannya langsung tertuju pada Andah, berusaha meminta penjelasan pada wanita itu. Namun, Andah masih membingungkan karena dia tahu ke mana arah pembicaraan Inggrid.


"Beberapa waktu yang lalu, kekasih Anda mengirimkan banyak sekali barang-barang berharga untuk Andah dan calon anaknya. Dia juga mengirimkan untuk kami. Meskipun tidak tampan dan gendut, tapi sudah cukup asalkan kaya!" celetuk Inggris sesumbar.


"Andah, kamu jangan cuma diam saja, dong! Cepat beritahukan padanya siapa pria itu. Ya, biar dia tahu diri saja!" desak Inggrid kesal melihat anda hanya diam tak membelanya sedikit pun.


Inggrid berusaha mengingat nama yang pria itu. Dia sudah mengingat, tapi terlalu susah untuk diucapkan lisannya.


"Geon! Ya, namanya Geon! Kamu pasti akan salah saing, Ojan!" sentak Inggrid.


"Apa? Geon?" Setelah Inggrid mengangguk, Geon berusaha menahan tawanya.


Sama dengan Andah. Malahan, Inggrid terheran karena Geon dan Andah kompak menahan tawa mereka.


"Masuklah, Bu! Jangan berkelakar di sini," ujar Andah.


"Cih! Yang penting kau sudah tau saja kalau dirimu tidak memiliki tempat lagi di hati Andah!" Inggrid kembali masuk ke dalam dengan perasaan puas.


Andah tak suka dengan sikap Inggrid yang terlalu jemawa.


"Sudah satu jam kau di sini, sebenarnya apa tujuanmu, sih? Aku lelah, ingin istirahat, jika tidak ada yang penting, maka pergilah!" usir Andah lagi.


Geon tak mau lagi membuang-buang waktu, dia menggenggam tangan Andah, dan mengutarakan niatnya, "Andah, kembalilah padaku!"


...****************...

__ADS_1



__ADS_2