Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
51. Kekacauan Hati Geon


__ADS_3

Sepanjang perjalanan pulang, Geon merenungkan kembali apa yang telah terjadi pada malam panjang di antara mereka.


"Cepat lah kau ambil keputusan, Bung! Apalagi yang kau tunggu? Apa kau tak kasihan kepadanya yang nelangsa dalam keadaan hamil seperti ini? Dia sudah mengandung anakmu! Buah cinta kalian di malam indah itu!"


Geon memandangi suasana di meja kantornya. Kepalanya telah sakit memikirkan Andah. Bayang-bayangan bersama Andah terus menghantuinya.


*


*


*


"Ini, Andah! Terima kasih banyak untuk bantuanmu kali ini!" ucap pemilik warung sembari memberikan beberapa bungkus nasi pada Andah sebagai bayaran.


"Terima kasih banyak, Bu. Besok … apa boleh aku ke sini lagi?" tanya Andah takut-takut. Setidaknya Andah bisa mendapatkan makanan jika wanita itu bisa bekerja menjadi pencuci piring di tempat ini.


"Maaf, Andah! Saya hanya membutuhkan bantuan saat warung ramai saja. Saya tidak perlu dibantu saat warung sepi. Saya tidak sanggup untuk membayar," ujar sang pemilik warung memberikan jawaban yang begitu mengecewakan bagi Andah.


Wanita itu pun kembali berkelana mencari tempat yang bisa ia singgahi sejenak untuk mencari pekerjaan. Tanpa sadar, Andah berjalan terlalu jauh hingga ke pusat kota dan baru ia sadari saat wanita itu merasa kelelahan.


Tiba-tiba saja hujan deras mengguyur dan membuat Andah kelimpungan mencari tempat untuk berteduh. Karena tak ada tempat kering yang bisa ia singgahi di dekatnya, akhirnya Andah pun terpaksa menghentikan taksi yang lewat di jalan raya.


"Kalau saja bukan karena hamil, aku pasti lebih memilih untuk kehujanan!" gumam Andah tak ingin menyakiti bayi di perutnya jika sampai dirinya sakit karena kehujanan. Wanita itu pun terpaksa merelakan uangnya untuk ongkos yang sebenarnya tidak perlu.


Saat taksi mulai melaju, Andah menikmati perjalanannya dengan melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi. Gedung-gedung itu begitu menyita perhatian Andah.


Namun, perhatiannya teralihkan kala Andah melihat seorang pria yang duduk di sebuah cafetaria seorang diri.


"Ojan?" gumam Andah, dia bisa melihat pria itu dari balik kaca transparan cafe tersebut.


Awalnya Andah memang tak ingin peduli dan sudah menerima kenyataan jika pria itu memang bukan Ojan. Namun, akhir-akhir ini sikap pria yang ditemuinya beberapa kali itu membuat Andah mulai curiga. Orang itu terlihat sangat jelas tengah menghindari Andah, membuat Andah yakin jika pria yang mirip dengan Ojan itu memang benar adalah Ojan sejak awal.


"Pak, berhenti sebentar!" pinta Andah. "Aku mau ke cafetaria di depan itu!" Andah menunjuk cafe yang menjadi tujuannya.

__ADS_1


"Baik, Nona," ucap sang supir. Memberhentikan kendaraannya di parkiran khusus taksi.


"Pak, tunggu di sini sebentar, ya. Nanti aku kasih tips," ujar Andah.


Andah melangkah terburu-buru masuk ke dalam cafetaria. Berjalan ke tempat duduk yang diduduki Ojan.


"Ojan …," sapa Andah. Sontak, mata Ojan terbelalak kaget ketika melihat orang yang memenuhi kepalanya, kini malah duduk di depannya.


"An–" Geon tercekat, dia membungkam mulutnya sendiri. Wajah gugupnya seketika berubah menjadi datar dan dingin. Ini begitu tiba-tiba, sungguh di luar dugaan dan ia belum siap dengan situasi seperti ini.


"Ojan? Maaf, sepertinya kamu salah orang!" Geon sengaja memberatkan suaranya supaya Andah tak bisa mengenalinya dengan mudah.


"Aku sudah tau semuanya. Ojan, bisakah kamu untuk tidak berpura-pura dan memberikan aku penjelasan? Aku benar-benar membutuhkan penjelasan agar tak terus menerus salah paham!" tukas Andah. Padahal, hatinya sendiri masih ragu pada pria di depannya itu.


"Kamu salah orang. Aku bukanlah Ojan, dan aku tidak mengenal kamu. Lebih baik, pergi dari sini sebelum aku memanggil satpam!" ancam Geon, dalam hatinya terus meminta maaf, berharap agar Andah cepat pergi. Geon takut dia salah bicara dan akhirnya semua terbongkar pada waktu yang tidak tepat.


"Kamu benar-benar tega meninggalkan aku sendiri? Tanpa mengatakan apa pun, pergi begitu saja?" Andah tak menggubris ancaman Geon, terus berbicara apa saja yang ada di hati dan pikirannya.


"Aku hamil, Ojan! Hamil anak kamu!" Andah langsung mengungkapkan tentang kehamilannya.


"Lalu, apa hubungannya denganku?" Sebenanrnya, Geon tak bisa berkata-kata lagi. Ia menelan ludahnya, tak menyangka bahwa Andah berani menyampaikan langsung kepadanya.


Ia kembali teringat akan malam itu, di saat mereka memadu kasih pertama kali. Jelas sekali ingatannya saat mengatakan akan menghamili istrinya ini.


Ia tidak menyangka, buah pada malam itu membuat Andah benar-benar hamil, setelah ia tinggal.


Jantung Geon berdetak cepat. Namun, ia menahan diri dan masih diam memasang wajah sedatar mungkin. Meskipun ia tahu, mereka berdua saling mencari satu sama lain.


"Ya. Aku hamil anakmu. Aku mengalami morning sickness, tapi aku malah ditinggalkan disaat-saat aku paling membutuhkanmu!" Andah tersenyum getir. Ingin sekali dia berteriak, mengungkapkan perasaan rindu yang selama ini bersarang di benaknya.


Namun, keinginan itu kembali diurungkan kala Andah melihat situasi yang tak memungkinkan.


"Kamu hamil anak siapa? Kenapa malah mengadu padaku? Menuduhku pula. Aku tidak mengenalmu!" Geon masih kekeuh tak mengenal Andah.

__ADS_1


"Setiap hari aku harus menahan perasaan tidak nyaman ini seorang diri. Tidak ada yang menguatkanku seperti dulu lagi. Tidak ada lagi yang menghiburku. Tak ada lagi pria dewasa berlaku layaknya anak kecil seperti dulu.”


Air mata Andah perlahan menetes menjatuhi pipinya. Geon sebenarnya tidak tega melihat itu, tetapi ia tidak bisa memperlihatkannya begitu saja.


“Padahal, cukup melihatmu baik-baik saja, sudah cukup membuatku tenang. Sekarang, kamu malah pura-pura tidak mengenalku?" tatapan nanar Andah begitu jelas terlihat. Tapi, Geon seolah buta untuk melihat penderitaan yang sudah dikupas Andah.


"Katakan itu pada orang yang kau cari. Sebab, orang itu bukan aku," tukas Geon, membuat Andah terpuruk semakin dalam.


"Aku tau, kamu adalah Ojan, orang yang kucari. Bagaimanapun penampilanmu, aku tetap bisa mengenalimu. Bagiku, selamanya kau tetap Ojan, suamiku!" ucap Andah.


Setelah mengutarakan isi hatinya, Andah langsung beranjak pergi meninggalkan Geon yang masih meratap atas kehamilan Andah.


"Maafkan aku," lirih Geon.


"Sebagai Ojan, aku memang sangat mencintaimu. Namun, saat ini aku tidak bisa mengakui semua yang sudah terjadi," imbuhnya sambil menatap punggung Andah yang semakin menjauh darinya.


Andah kembali masuk ke dalam taksi. "Jalan, Pak!" pintanya sambil tergugu. Kali ini, tangisan tidak dapat disembunyikan, menangis dalam diam merupakan jalan terbaik untuk Andah.


"Aku sudah mengatakan apa yang seharusnya kau ketahui. Jika sampai akhir kamu masih terus tidak mau mengakui, aku hanya bisa melupakan semuanya secara perlahan. Tidak mungkin bisa memaksakan kehendakku sendiri," batin Andah, dari balik kaca dia melihat Geon merenung memijit pelipisnya.


Andah memutuskan kembali ke rumahnya. Meskipun dia harus mendengar omelan ibu tirinya, Andah rasa, itu lebih baik. Sekalian menjadi obat agar dia bisa cepat melupakan Ojan, sang suami yang tidak lagi menginginkan dirinya. Andah pun juga harus siap dengan statusnya yang tidak jelas.


"Seharusnya, aku memintanya untuk mengucapkan talak padaku. Walaupun dia mengubah suaranya sekali pun, aku masih bisa mengenalnya dengan baik," gumam Andah.


"Kenapa jam segini kau sudah pulang?" lengkingan suara Inggrid menghentikan langkah Andah masuk ke dalam.


"Aku sudah tidak bekerja lagi," jawab Andah seadanya, langsung masuk ke dalam tanpa mempedulikan pekikan keras Inggrid yang memarahinya.


"Andah, apa kamu bodoh? Kalau kamu tidak bekerja, dari mana kita bisa mendapatkan uang untuk makan? Kamu pikir, makanan sehari-hari bisa datang sendiri?" sentak Inggrid kesal.


Andah menulikan telinganya. Segala keriuhan di luar kamarnya tak lagi ia pedulikan. Andah menumpahkan semua sakit hatinya dalam tangisan, air matanya mengalir di bantal. Begitulah cara Andah melampiaskan segala kesedihan yang berkecamuk dalam batinnya.


"Ojan, mulai sekarang aku akan berusaha melupakanmu seperti yang kau lakukan padaku!" ucap Andah bersungguh-sungguh.

__ADS_1


__ADS_2