
Geon merangkul pundak Andah. "Ya, dia memang istri saya!"
Geon beralih memandangi istrinya, dan tatapannya pun dibalas oleh Andah, dengan senyum canggung. "Bagaimana Sayang? Sekarang kehamilanmu udah berapa bulan?"
"Enam," jawab Andah singkat.
"Berarti, pernikahan kita udah sembilan bulan yang lalu ya?" tanya Geon menguatkan.
Andah menganggukan kepala. Sementara Jerry mengerutkan keningnya.
"Bukan kah itu waktu kamu meminjam uang sebesar lima belas juta?" tanya Jerry kembali.
Andah melirik pria yang ada di sampingnya. Dia hanya tersenyum menggelengkan kepala kikuk.
"Jangan-jangan kamu meminjam uang untuk membantu pengobatanku dulu?" tanya Geon kembali.
Andah mencoba melepaskan rangkulan suaminya. Berjalan mencoba melewati Jerry. Jerry pun bergerak cepak menangkap Andah.
"Mau ke mana lagi? Bukan kah kau yang memutuskan untuk pergi sendiri dari tempat ini?"
Tangan Geon menggenggam erat pergelangan tangan Jerry, seakan membuat tulang-tulang di dalamnya menjadi remuk. "Siapa yang mengizinkan kau menyentuh dia?"
Genggaman tangan Jerry terlepas membuat Andah menarik tangan dan mengusap pergelangannya yang sakit. "Kami ke sini hanya ingin bicara sejenak dengan Mamih Lova. Lagian, aku udah nggak minat menjadi penari di tempat ini."
__ADS_1
Geon melepas genggaman tangannya di pergelangan Jerry. "Ayo, Sayang." Geon merangkul pinggal Andah dan berjalan mengikuti langkah kaki Andah menuju ruang kerja Mamih Lova.
tok
tok
tok
Pintu diketuk dan terdengar sahutan mempersilakan Andah masuk. Saat Melihat wajah Andah, Mamih Lova terdengar mendengkus. "Akhirnya! Kau muncul juga!"
Andah masuk terlebih dahulu, dan di belakangnya seorang pria gagah turut muncul dan wanita itu terperangah melihat siapa yang saat ini hadir mengenakan setelah jas nan mahal.
"Bukannya dia itu bocah yang selalu ikutin kamu? Kalian mau apa lagi?" bentaknya.
"Hahaha!" Tawa Mamih Lova menggelegar mengisi ruangan ini.
"Seorang penjual tubuh memiliki suami? Nggak salah! Bilang aja dia adalah teman kumpul kebomu!" rutuk Mamih Lova sinis.
Geon kembali menautkan jemarinya dama genggaman Andah. "Dia adalah istriku. Istriku tak semur*han penarimu yang lain!" ucapnya dingin.
"Haha! Semua yang ada di sini tak ada bedanya dengan anggotaku yang lainnya! Jika dia tidak mur*han, dia tidak akan bekerja di sini." Mamih Lova mendekati mereka berdua. Dengan mata tajamnya, Ia menunjuk geram pada bola yang ada pada bagian tengah tubuh Andah.
"Itu buktinya! Ia mengandung anak siapa juga tidak ada yang tahu! Apa itu tidak murahan? Padahal, sudah banyak yang ingin membeli keper*wanannya dengan harga fantastis! Ternyata, malah bercu*mbu dengan pria bodoh secara gratisan!"
__ADS_1
Mamih Lova melirik Geon dengan napasnya yang cukup memburu. "Sekarang, kalian mau apa? Mau membayar hutang? Tidak semudah itu!"
Andah menegang mendengar gelegar suara Mamih Lova. "Jadi, saat membayar hutang pun akan jadi sesulit ini?"
"Kau pikir segala sesuatu bisa dilakukan dengan mudah? Giliran kau mengemis-ngemis meminjam uang, aku kasih. Saat pembayaranmu terlambat hampir satu tahun begini, aku biarkan! Lalu, kini kau datang membayar hutan dan menganggap semua selesai, gitu?"
Andah pun tertunduk, ia merasa cukup bersalah atas dirinya yang memang belum sanggup membayar hutangnya selama ini. Tiba-tiba, genggaman tangan Geon terlepas, dan ia mengeluarkan ponselnya.
"Jadi, apa yang kau inginkan teehadap istriku yang sedang mengandung ini?" tanyanya dingin.
Wajah Mamih Lova terlihat mengulas senyum tipis. Ia mendekati Geon dan menyandarkan dirinya pada pria itu. Ia melirik ponsel Geon yang telah berada pada beranda akun bank online-nya.
"Heheh." Terdengar senyum sinis keluar dari bibir itu. Mamih Lova meraba dada dan punggung Geon, dengan tatapan penuh arti.
...****************...
Mampir yuk, di karya teman Author di bawah ini.
Judul: Tsunami Pernikahan
Napen Author: Ai Bori
__ADS_1