
"Awas kau, wanita j*lang! Kau akan menyesali karena telah menolakku. Dan sekarang, kau sibuk bergonta-ganti pasangan! Punya siapa yang kau rebut kali ini? Benar-benar tidak tahu malu! Udah tahu sedang mengandung anak orang, masih saja tak tahu diri menggoda calon suami orang!"
Tama mundur menuju ke jurusannya. Ia merencanakan sesuatu pada Andah.
"Ayo lah, Sayang. Semua orang pasti mengerti bahwa cinta tak mungkin bisa dipaksakan. Aku itu cintanya sama kamu."
Andah mengusap perutnya yang sudah menunjukan keberadaan bayi yang ada di dalamnya secara nyata. Masih jelas dalam ingatannya bahwa kabar kehamilannya menjadi momok menakutkan yang membuatnya hampir jatuh, karena dibuli oleh semua orang yang ada di kampus ini.
"Tapi, sepertinya aku belum sanggup jika hal itu terulang kembali. Cukup lah itu berlalu, dan jangan ada lagi untuk yang kedua kalinya," ucap Andah dengan wajah sendunya.
Andah menarik Geon menuju pintu pengemudi. "Nah, kamu kerja yang rajin ya? Siapkan uang yang banyak untuk keluarga kita. Saat ini kamu tidak lagi hidup sendiri. Ada ayah, ibu, aku, dan anak kita yang menjadi beban di bahumu."
"Jika aku bisa bekerja, mungkin aku lah yang akan membiayai mere—"
__ADS_1
Mulut Andah dibekap oleh bibir Geon. Andah terbelalak mendapati sikap suaminya yang seperti ini. Ia melirik kiri kanan, khawatir jika ada yang memperhatikan mereka.
"Tenang saja! Aku berani memciiummu karena tidak ada orang." Geon membuka pintu kendarannya, lalu menunduk. "Jaga Mommy ya, jagoan? Daddy kerja dulu, nanti akan Daddy jemput lagi kok."
Andah tersenyum mengangguk melambaikan tangannya. "Hati-hati Ayah!" ucap Andah.
"Daddy! Kamu harus mengajarkan anak kita dengan panggilan Daddy! Ayah kan udah ada. Nanti anak kita bisa bingung jika ada dua ayah di rumah," protea Geon tidak terima dipanggil dengan sebutan ayah.
"Kan aku ini anak ayah, makanya suka manggilin dengan sebutan ayah," terang Andah.
"Iya deh, terserah Daddy aja. Aku sebagai istri hanya bisa mengikuti apa yang dipinta oleh suamiku.
Geon mengusap lembut pipi Andah. "Ingat ya, kamu harus hati-hati. Aku kan sudah kasih ponsel buat kamu. Kalau terjadi apa-apa, kamu harus segera menghubungi aku yaaah?"
__ADS_1
Andah menjawab dengan anggukan melambaikan tangannya. Geon menyalakan mesin kendaraan mobil mewahnya. Tak lama deru halus suara mesin mobil telah terdengar dengan jelas. Setelah melambaikan tangannya, dengan wajah pasrah tapi tak rela, Geon melaju meninggalkan lokasi.
Andah memandangi kendaraan itu hingga hilang. Setelah itu dengan rasa riang, Andah berjalan menyusuri jalan menuju kantor jurusannya. Ia akan mengadakan bimbingan skripsinya yang akan mengadakan seminar proposal.
"Waah, ibu ... eh, maksudnya Mommy ... sudah tidak sabar menyelesaikan ini semua. Agar nanti Mommy bisa fokus mengasuhmu, Nak," gumam Andah riang.
Tanpa sengaja, ia berpas-pasan dengan mantan tunangan suaminya, tak lain adalah Lenanda. Ia terlihat memasang badan, bersidekap dada di depan sebuah pintu. Saat ia melihat raut wajah itu, Andah memilih untuk membuang muka. Toh, Lenanda bukan dosen jurusannya.
"Ooh, ternyata semua pelakor itu sama saja ya? Memasang wajah manis di hadapan semua pria yang direbut, lalu memperlihatkan kebusukan nyatanya di hadapan wanita yang menjadi pasangan resminya."
Andah menatap wajah wanita itu dengan dingin. Namun, ia memilih untuk menghela napas. Ia memaksa hati dan dirinya untuk sabar. Andah terus melanjutkan langkah kakinya untuk meninggalkan tempat itu.
Namun, lengan Andah dicekal oleh Lenanda. "Aku belum selesai ngomong! Kau sungguh mahasiswa yang kurang ajar ya!" Ia mendorong tubuh Andah dengan sangat kuat.
__ADS_1
...****************...