Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
59. Huru Hara


__ADS_3

"Pelukanmu terlalu erat, Geon. Aku sesak. Apa kau tidak memikirkan bayi kita yang terjepir olehmu?" ucapan Andah barusan membuat Geon speechless. Dia menatap wajah Andah yang sedang menyuguhkan senyuman padanya.


"Apa katamu barusan? Coba ulangi lagi!" pinta Geon, senyuman di wajah pria itu juga tak lekang.


"Bayi kita akan kejepit, Geon! Walaupun kau sangat mencintaiku. Tetapi, kau juga harus memikirkan anak kita, bukan?" ulang Andah seperti permintaan Geon.


"Ka-kamu mau menerimaku lagi? Kamu … masih mencintaiku, kan?" Geon mencoba memastikan kembali.


"Ya. Maaf atas ketidak jujuranku barusan," ucap Andah tersenyum kaku.


"Tidak apa-apa. Yang penting, sekarang kamu sudah menerimaku kembali," ucap Geon.


"Tapi, bagaimana dengan pernikahanmu?" tanya Andah, mendongak sedikit menatap wajah Geon yang tingginya melebihi dirinya.


"Entahlah. Mungkin, sekarang mereka sedang cemas mencariku." Geon mengendikkan bahunya.


"Tapi, Kenapa tidak ada yang menghubungimu? Harusnya, sejak tadi banyak yang menghubungimu, kan?" Andah pun merasa heran.


"Hahaha!" Geon malah terkekeh. "Karena aku sengaja tidak membawa ponselku," ucapnya disertai kekehan.


"Tapi, kasihan Lenanda, Geon. Dia tidak bersalah. Saat ini, dia juga pasti sedang bingung mengkhawatirkan keadaanmu. ada baiknya kamu pulang dan menjelaskan semua pada keluargamu dan keluarga Lenanda. Supaya mereka tidak cemas memikirkan keberadaanmu yang tidak kunjung ditemukan," saran Andah yang langsung mendapat anggukan dari Geon.


"Andah! Apa benar kamu masih menerima pria bodoh ini? Sadarlah, Andah! Dia itu sudah pernah mencampakkanmu. Sekarang, dia kembali lagi ke sini karena sudah tidak memiliki tempat tinggal yang layak. Apa yang kamu harapkan dari pria bodoh seperti dia? umpat Inggrid, ibu tirinya.


"Lebih baik kamu menerima Geon aja! Dari pada kamu menerima anak bodoh ini?" sambungnya sambil berdecih.


"Kenapa harus Geon?" tanya Andah mendelik mengerutkan kening sembari melirik pria yang kini berada di sisinya.


"Yaa, kamu lihat sendiri kan, semua benda pemberiannya? Itu tandanya Geon itu kaya dan bersungguh-sungguh padamu." Inggrid melirik Ojan. "Dari pada anak bodoh ini? Kamu tendang aja dia ke kali!"


"Bu, anak yang ibu bilang bodoh itu adalah Geon!" Andah menunjuk ke arah Geon yang memamerkan senyumnya. Wajah pria itu terlihat cerah, karena pernyataan cintanya baru saja diterima kembali oleh Andah.


"Apa maksud kamu? Jangan mengada-ngada, ya!" Tentu saja Inggrid tidak bisa percaya dengan begitu mudahnya.

__ADS_1


"Yang aku katakan ini benar, Bu. Sebelum ini, Geon kehilangan ingatannya. Karena dia tidak mengingat namanya sendiri, makanya aku memberinya nama Ojan," jelas Andah. Penjelasan Andah barusan membuat Inggrid menganga.


Setelah sadar, Inggrid langsung mengubah raut wajahnya. Inggrid langsung tersenyum manis pada Geon. Wajah judes yang sebelumnya terpampang nyata, saat ini sirna begitu saja.


"Wah, Ojan ternyata kamu benar-benar orang kaya, ya? Jangan bertengkar-tengkar dengan Andah, ya. Kasihan anak kalian," ujar Inggrid yang menggunakan jurus menjilatnya.


Di kediaman keluarga Geon, semua orang tuh masih sibuk mencari keberadaan Geon. Mereka begitu khawatir karena sebentar lagi pesta pernikahan akan segera dilangsungkan. Namun, mempelai pria malah hilang entah ke mana.


"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan Tuan Muda?" tanya seorang pengawal yang ikut mencari keberadaan Geon.


"Aku sudah mencarinya ke mana-mana. Tapi, tetap saja belum berhasil menemukannya," ucap pria itu, dari wajahnya terlihat nyata bahwa dia kelelahan.


"Geon, kamu pergi ke mana sih? Di antara acara penting ini, kamu malah membuat kegaduhan!" keluh Mama Anita sambil memijat pelipisnya. Tentu, itu hanya pencitraan saja. Dalam hatinya, dia sedang bersorak sorai atau kehilangan Geon. Justru, dia sangat berharap Geon tidak akan kembali lagi ke rumah itu.


Anita dan Jonathan akan ikut rombongan keluarga Geon, karena Geon sudah tak memiliki keluarga lagi. Demi menghormati Anita yang masih berstatus sebagai ibu tirinya, Geon pun terpaksa membawa dua orang anggota keluarga tidak tahu diri itu untuk menghadiri pesta pernikahannya dengan Lenanda.


"Ma, apa Geon sudah ditemukan?" tanya Jonathan.


Anita menggeleng. "Belum," jawabnya kemudian.


"Mereka sudah mencari. Herannya, mobil Geon juga tidak ada. Apa mungkin dia melarikan diri di hari pernikahannya? Tapi, Sepertinya itu sangat tidak mungkin. Bukan kah, ia sangat mencintai Lenanda?" Anita memikirkan segala kemungkinan.


"Halah! Untuk apa mama memikirkan dia? Bukannya lebih bagus dia m4ti sekalian? Sudah bagus dia menghilang, Ma. Tidak perlu risau," sela Jonathan.


"Mama hanya berpikir saja. Tentu saja lebih baik kalau dia m4ti. Tapi, kalau hanya sekedar celaka sesaat, ternyata malah hidup lagi, lalu ia kembali ke rumah ini seperti yang sudah-sudah, bagaimana?" Anita tertawa sumbang.


"Ma, Kita juga harus mengabari Lenanda kalau Geon telah menghilang. Mana tahu, dia bersedia menjadikan aku sebagai pengganti Geon. Sejak lama, aku sudah sangat mencintainya, Ma. Kurasa, sekarang Tuhan sedang berpihak padaku dengan memberikan kesempatan baik ini," ujarnya yang langsung diangguki oleh Mama Anita.


"Kamu benar, Jo. Kita harus memberitahu berita ini pada Lenanda. Mama yakin, kedua orang tuanya Nanda juga tidak mau pernikahan ini gagal. Kalau hal itu sampai terjadi, mereka pasti sangat malu." Anita menjentikkan jarinya. Mereka merasa bahagia di atas penderitaan orang lain.


"Nyonya, keluarga Nona Lenanda menghubungi kita. Mereka bertanya, kenapa Geon tidak bisa dihubungi. Mereka juga mengatakan, ini sudah waktunya akad pernikahan. Tapi, kenapa kita belum tiba di sana," ucap Bram, asisten Geon.


"Keluarga Lenanda sudah menelpon? Aduh, bagaimana ini?" Anita kembali berpura-pura khawatir.

__ADS_1


"Ma, lebih baik katakan saja yang sebenarnya," saran Jonathan."Kasihan jika mereka terus-menerus menunggu," sambung Jonathan lagi.


Mama Anita mengangguk membenarkan. "Kalau begitu, ayo kita berangkat ke sana sekarang juga. Jangan menunda-nunda," titah Mama Anita.


Semua orang berangkat ke gedung tempat dilaksanakannya pesta pernikahan. Jonathan juga meminta bawahannya untuk membawakan jas pengantin yang akan Geon kenakan.


"Ini hanya untuk berjaga-jaga saja jika Lenanda mau menikah denganku, Ma. Jadi kita tidak perlu lagi bersusah payah untuk mengambilnya," ucap Jonathan sambil tertawa. Dia merasa, hari ini adalah hari keberuntungannya, menikah dengan gadis yang sudah lama dicintainya.


'Anak anjaai, terima kasih karena kau sudah menghilang,' batin Jonathan sambil tersenyum sinis.


Saat Mama Anita dan Jonathan tiba, senyum Lenanda langsung mengembang. Dia mengira, Geon juga turut serta datang bersama yang lainnya. Lenanda masih belum merasakan firasat buruk yang akan segera menimpanya.


"Nona, keluarga Tuan Jonathan meminta bertemu dengan anda," ucap salah seorang pelayan.


"Keluarga Jonathan meminta bertemu denganku? Bukannya belum saatnya aku turun?" Lenanda bergunung dengan dirinya sendiri.


"Di mana mereka? Apa kamu melihat Geon?" tanya Lenanda, berharap pelayan tersebut mengangguk sambil memuji ketampanan calon suami Lenanda.


"Keluarga Tuan Jonathan memang sudah datang. Tetapi, kami tidak melihat kehadiran Tuan Geon," jawaban sang pelayan mulai memunculkan perasaan tidak enak di hati wanita yang telah mengenakan pakaian pengantin ini.


"Kamu tidak melihat Geon?" tanya Lenanda kembali memastikan.


"Tidak, Nona," jawab sang pelayan.


"Bawa aku bertemu mereka!" pinta Lenanda, langkahnya terburu-buru sampai dia berulang kali menginjak gaunnya sendiri.


Setibanya di ruangan khusus, semua orang sudah berkumpul. Lenanda menelisik kesana-sini, berusaha mencari Geon, calon suaminya itu.


"Di mana Geon?" tanyanya pada sekumpulan orang di sana.


"Maafkan kami, Lenanda. Kami tidak bisa menjaga Geon. Dia menghilang entah kemana," ucap Mama Anita, menunjukkan rasa penyesalannya.


"A-apa? Geon menghilang … lagi?"

__ADS_1


...****************...



__ADS_2