
*Maaf ya, Kakak semua? Baru Up lagi 🙏 Selamat menjalankan puasa bagi yang melaksanakan*
"Ah, kantor polisi. Saya mau malaporkan ada dua orang yang sudah mengganggu rumah kami di pagi buta, Pak Polisi." Geon melirik dua orang yang pendatang har4m dalam rumah mewahnya ini.
"Baik lah, kami tunggu dan harap datang secepatnya. Mereka sungguh mengganggu ketentraman keluarga kami."
Lenanda menatap nanar berjalan mundur secara pelan. Ia sungguh tidak menyangka, bahwa Geon, seseorang yang sempat menjadi calon suaminya sampai melaporkannya seperti itu.
"Apa yang kau lakukan Geon?" Jonathan menyugar rambutnya tampak frustrasi. Dengan segera ia menarik pergelangan tangan Lenanda. Akan tetapi, tangan itu ditepis oleh sang wanita.
"Geon, apakah hatimu benar-benar sudah tertutup hingga memperlakukan aku seperti ini? Apa kamu melupakan semua kenangan indah yang telah kita lalui bersama?" Lenanda memutar kepalanya menatap satu sosok yang sedang mengandung. Kandungannya telah cukup besar dan ia menatap perut yang membulat itu dengan nanar.
"Ini semua karena kau wanita mur4han! Kau goda calon suamiku! Kini kau pamerkan kehamilanmu untuk menjebak calon suamiku!"
"Lenanda, kamu jangan menyalahkannya! Di sini, orang yang paling pantas untuk disalahkan hanyalah dia!" Geon berjalan menunjuk ke arah Jonathan.
__ADS_1
Namun, Lenanda tak kalah cepat bergerak mendorong Andah dengan sekuat tenaga. Geon mencoba untuk menyambut istrinya itu, akan tetapi ia terlambat. Andah jatuh cukup keras di atas lantai.
"Aaaaggghhh!" pekiknya sungguh terdengar sangat memilukan.
Geon tertegun beberapa detik dan segera mengejar istrinya itu. "Sa-sayang?" Geon memapah tubuh istrinya dengan wajah gugup.
"Aaaagghh," rintihnya. Cairan merah kental merembes dari bagian bawah tubuh Andah. "Sa-sakit ..." rintihnya menggenggam erat lengan Geon.
Geon menatap nanar pada Lenanda. Namun, rintihan Andah membuatnya tak bisa memilih dan segera mengangkat tubuh yang telah basah oleh lumuran d4rah itu.
"Andah kenapa?"
Tanpa memberikan jawaban, Geon terus melangkah keluar menuju kendaraannya yang sedang terparkir. Sementara itu, Inggrid segera menarik baju Jonathan.
"Apa yang kau lakukan pada anakku, hah?" Inggrid menautkan giginya geram dan mer3m4s lengan Jonathan dengan kuat.
__ADS_1
"Aaagghhh." Jonathan kesakitan karenan genggaman tangan wanita paruh baya ini cukup kuat. Tanpa pikir panjang, Jonathan menepis kedua tangan yang terasa menyakitinya itu. Tidak hanya itu, ia juga mendorong Inggrid hingga terjungkang.
"Aaaggh," pekik wanita paruh baya itu.
Di sisi lain, Lenanda terlihat shock bergantian melirik kedua tangannya. Kedua tangan itu ditangkupkan menutupi mulut dan matanya membulat karena rasa takut. Ia seakan kehilangan akal, tidak tahu lagi harus berbuat apa. Jonathan menarik Lenanda yang masih belum bisa menguasai diri.
"Ke-ke mana?" tanyanya gugup.
"Ke mana pun dan harus pergi ke tempat yang jauh!" Jonathan menarik Lenanda dan gadis itu tidak memiliki pilihan lain. Dia mengikuti langkah Jonathan yang cepat menuju kendaraan roda empat yang diparkir di luar pintu gerbang.
Akan tetapi, di saat pintu gerbang ia buka, beberapa orang polisi telah mengerumuni kendaraan itu.
"Jadi, kalian lah pemilik kendaraan ini?"
Di sisi lain, di jalanan Geon tengah berpacu dengan waktu menuju rumah sakit. Kondisi jalan yang sepi, dengan cepat mengantarkannya pada lokasi rumah sakit yang ia tuju. Sesekali ia melirik pada spion tengah, memantau keadaan istrinya yang tiada henti merintih terbaring pada bangku penumpang.
__ADS_1
Setelah sampai, setengah berlari Geon memutari kendaraan menuju bangku di mana istrinya tiada henti mengeluarkan cairan kental bewarna merah. "Sa-Sayang. Mari aku bantu." Geon membantu Andah bangkit dan rintihan Andah terdengar semakin nyaring.