
Geon melirik sejenak pada Lenanda. "Maaf ...." Hanya itu lah yang keluar dari mulutnya, lalu meneguhkan diri menggenggam erat tangan istrinya. Orang yang telah memberikan kesempatan untuk dia hidup. Orang yang menyelamatkannya dari kem4tian dan kini, Andah adalah wanita mengandung benihnya. Benih yang hadir karena percintaan semalam yang mereka lakukan dengan indah.
"Geon! Geon! Geon!" Suara itu terdengar semakin parau menatap dua punggung yang semakin menjauh. Lenanda h4ncur dalam indahnya balutan gaun pernikahan yang telah disiapkan begitu megah.
Jonathan menatap sendu pada wanita yang terus menari di dalam hati dan pikirannya. Rona wajah pun seketika berubah menatapi dua orang yang telah menaiki kendaraan mewah milik lelaki yang ingin ia lenyapkan.
"Kamu jangan bersedih, Lenanda." Tangan Jonathan terkepal dengan buncahan amarah yang memandangi sepasang manusia yang datang sekedar untuk menyakiti pujaan harinya.
Di dalam sebuah kendaraan yang melesat dengan cepat, dua tangan berbeda bentuk tampak saling menggenggam. Tangan yang berukuran lebih besar menarik tangan kecil yang ramping dan menciumnya meskipun ia terlihat masih sibuk berkonsentrasi pada laju benda beroda empat itu.
"Apa kamu tahu, bagaimana perasaanku saat ini terbolak balik dalam waktu yang sama?"
Andah melirik pria yang berada di sampingnya. "Apakah kamu menyesal setelah kabur dari pernikahan ini?"
Pria yang kini berada di sampingnya ini melirik sejenak. Bibirnya malah tersungging senyuman penuh arti. "Ya, aku menyesal. Kenapa bukan gadis bernama Andah yang lebih dulu hadir dalam kehidupanku? Kenapa harus di saat aku amnesia, menikahi gadis cantik ini?" Geon kembali mengecup tangan Andah.
blusssh
Wajah Andah seketika bersemu bagai kepiting rebus dan jantungnya berdebar dengan hebatnya. "Kamu itu ternyata segombal Ojan."
__ADS_1
Geon terkekeh menggelengkan kepalanya. "Karena, Ojan adalah Geon dalam versi berbeda. Aku ingin kembali menjadi Ojan, tanpa beban pikiran dan selalu membuatmu tersenyum."
Andah mendekap bersandar pada lengan suaminya dengan manja. "Aku tak mau lagi bersikap bagai wanita dewasa di hadapanmu."
Geon mengulas senyuman pada bibirnya. "Terima kasih, Sayang. Meskipun aku sudah menyakitimu akhir-akhir ini, kamu tetap bersedia menerima diriku."
Andah tak menjawab ucapan Geon barusan. Bibirnya tak terhapus senyuman yang terlukis di bibirnya.
*
*
*
Mata Inggrid terbelalak tak percaya mendapati apa yang kini terpampang nyata dalam indera penglihatannya. "Ojan ... oh, maksudku Geon, menantuku ... apa benar ini adalah rumahmu?" Inggrid mulai meraba benda-benda mewah yang ada di dalam mansion megah itu.
"Begitu lah, Bu. Harusnya, dari dulu aku membawa kalian semua ke rumah ini." Geon melirik Andah yang berdiri di sampingnya.
Andah memasang muka masam terhadap tingkah ibu tirinya itu. Namun, Geon merangkul pundak dan mengusap lengannya. "Mulai hari ini, kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi. Nanti, kita akan membawa ayah untuk terapi ke fisioterapi handal. Semoga setelah ini keadaan ayah jadi lebih baik."
__ADS_1
Andah seketika berubah menjadi bahagia. "Benar kah? Bukan kah itu akan menghabiskan banyak biaya?"
"Yaaa, emang banyak. Nanti kamu harus membayarnya dengan tubuhmu!" Geon mengedipkan matanya kepada Andah.
Andah melepaskan diri dari Geon. "Jadi, arti diriku bagimu hanya sekedar itu?"
Andah hendak melangkah menjauh. Tetapi, Geon terus menahan istrinya ini. "Iya, atas dirimu dan segala yang kamu miliki." Geon mendekapnya dengan pelukan hangat.
"Aaah, malu dilihatin ayah dan ibu." Andah mencoba melepaskan diri.
"Kamu jangan sungkan kepada kami. Lanjutkan lah kemesraan di antara kalian berdua! Ibu akan selalu mendukung." Inggrid untuk pertama kali mendorong kursi roda yang ditumpangi oleh suami lumpuhnya itu. Ia membawa ayah Andah keluar menuju pintu samping. Matanya terbelalak melihat sebuah kolam renang pribadi yang tak pernah terbayangkan dalam pikirannya.
"Ternyata menantu kita orang kaya. Hebat juga anakmu berhasil menggaet anak bodoh itu yang ternyata memiliki ini semua. Jika dari awal kita mengetahuinya, mungkin kita tidak akan menderita seperti selama ini." Inggrid meninggalkan suaminya yang membisu dengan bibir miring melirik tanpa bisa mengatakan apa-apa.
"Sayang, apa kamu mau jika kita mengadakan perjalanan sejenis honey moon ke suatu tempat di luar negeri?" tanya Geon.
Andah melirik perutnya yang sudah cukup besar. Usia kandungannya saat ini sudah masuk trimester kedua. "Aku tidak butuh itu semua. Yang aku butuhkan hanya kamu."
...****************...
__ADS_1