Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
38. Musibah Sekaligus Berkah


__ADS_3

Andah masih duduk termangu menatap hasil pemeriksaan dokter di tangannya. Gadis itu nampak bingung bagaimana ia harus bereaksi menghadapi berita mencengangkan yang tak pernah ia sangka itu.


Beruntung, Bella hanya menunggu di luar saat Andah menjalani pemeriksaan, sehingga Bella tidak mengetahui hal yang terjadi pada temannya ini. Andah pun bergegas keluar dari ruangan dokter dengan tubuh lemas dan tak bersemangat.


“Bagaimana? Sudah selesai?” tanya Bella kepada Andah.


“Terima kasih banyak atas bantuannya ya? Aku akan secepatnya mengganti uangmu.” ucap Andah sungkan pada sang dosen.


“Iya, nanti aj! Lebih baik sekarang kamu pulang dan beristirahat!” cetus Bella kepada Andah yang masih berwajah pucat.


Bagaimana wajah Andah tak semakin pucat? Isi dari lembar hasil pemeriksaan yang ia baca sebelumnya, menyebutkan bahwa gadis yang masih berjuang dalam menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi itu saat ini tengah mengandung! Ya, Andah tengah berbadan dua saat ini. Anak siapa lagi yang tengah dikandung oleh Andah, kalau bukan anak dari suaminya yang telah menghilang, yaitu Ojan.


Jadi, kamu sengaja menghilang setelah menghamiliku seperti ini? Andah tertawa ketir mendapati dirinya harus menjalani semua ini sendirian.


Gadis itu terus melamun dan tenggelam dalam pikirannya sendiri selama dalam perjalanan pulang. Andah langsung masuk ke kamar dengan wajah muram dan kembali berbaring lesu di ranjang.


“Bagaimana aku bisa menyeret bayi kecil itu dalam kehidupanku yang kacau saat ini?” gumam Andah merasa miris mengingat dirinya yang sebentar lagi akan menyambut anak, tapi keadaannya masih seperti ini.

__ADS_1


Tentunya hal yang paling membuat Andah sedih adalah kepergian Ojan yang saat ini masih belum menemukan titik terang. “Ojan … aku hamil. Kau di mana? Kau tidak ingin tahu kabarku? Kau tidak ingin tahu kabar anak kita?” gumam Andah dengan air mata berlinang.


Gadis itu terisak dalam diam dengan pikiran kacau membayangkan dirinya nantinya akan membesarkan bayi seorang diri. Terlebih lagi ia masih harus mencari nafkah, menyelesaikan kuliah, dan bahkan masih ada utang yang harus ia selesaikan.


“Tenang, Andah! Seharusnya kau tidak seperti ini! Kau harus menyambut bayi ini dengan suka cita!” cetus Andah merasa tak pantas menangisi berkah yang bersemayam dalam perutnya saat ini. Sudah seharusnya Andah menunjukkan rasa syukur pada rezeki yang dititipkan padanya saat ini, meskipun kehidupan Andah saat ini tengah kacau.


“Maaf, Nak! Bukannya Ibu tidak menginginkan kehadiranmu! Tidak seharusnya aku menangisimu seperti ini, kan?” gumam Andah tak ingin terus-terusan terpuruk dan menyalahkan keadaan yang menjepitnya.


Gadis itu harus membuat rencana baru untuk menyambut anggota keluarga baru yang sebentar lagi akan menyapanya dan meramaikan harinya. “Tidak ada waktu untuk menyesal atau pun meratapi nasib, Andah! Kau harus mulai melangkahkan kakimu ke depan, Andah!”


Sementara di kantor Geon saat ini, pria itu sama sekali belum mengetahui kabar terbaru tentang Andah tak tentu saja ia tak tahu kalau gadis yang sempat menikah dengannya itu ternyata tengah mengandung saat ini. Mendadak Geon menjadi teringat dengan Andah dan sesekali ingin mencari tahu kabar tentang gadis itu.


Bukan tanpa alasan, kenapa Geon masih belum juga menemui Andah hingga saat ini. Pria itu masih bingung bagaimana ia harus menyudahi pernikahannya dengan Andah. Apa lagi alasannya kalau bukan karena Lenanda? Karena sudah memiliki tunangan, tentu saja Geon harus memutuskan tali pernikahan yang sempat mengikat dirinya dengan Andah, demi Lenanda.


Namun, sayangnya Geon sendiri juga masih ragu dengan hubungannya bersama Lenanda. Kebimbangan pria itu sudah mengakibatkan dua wanita tersakiti tanpa penjelasan dari Geon. Geon sendiri masih tak tahu keputusan apa yang harus diambil olehnya agar tak menyakiti salah satu dari mereka.


“Bos, ingin kubelikan kopi?” tawar Bram pada Geon yang sibuk melamun sejak tadi.

__ADS_1


Geon pun mulai berusaha fokus kembali dan memilih berkutat lagi mengurus pekerjaan, daripada memusingkan perempuan. “Tidak perlu! Aku tidak haus,” tukas Geon.


“Bos kurang sehat? Sepertinya Bos kurang istirahat,” cetus Bram mengkhawatirkan sang bos yang terlihat tidak bugar.


Geon menghentikan sejenak aktivitasnya dan meluangkan waktu untuk bersantai sejenak. Terlalu fokus pada pekerjaan membuat pria itu melupakan segala hal, termasuk mengistirahatkan tubuhnya yang penat.


“Aku memang sedang memikirkan sesuatu. Apa itu terlihat dengan jelas di matamu? Apa aku terlihat seperti kurang bersemangat?” tanya Geon pada Bram.


Bram mengambil dua botol air mineral, kemudian menemani sang bos berbincang. Geon mulai terbuka sedikit demi sedikit pada Bram dengan menceritakan tentang kebimbangannya mengenai dua gadis yang saat ini memenuhi kepalanya.


“Ada hal yang membuat konsentrasiku kacau. Aku sangat ingin menemui seseorang, tapi di sisi lain aku juga tidak ingin menemui orang itu demi menjaga perasaan seseorang yang lain,” oceh Geon dengan bahasa yang membingungkan. “Aku sangat merindukan Andah, tapi aku juga tidak ingin menyakiti Lenanda,” ungkap Geon untuk pertama kalinya menyebut nama Andah setelah sekian lama.


Tentu saja baru kali ini Bram mendengar nama yang begitu asing di telinganya. Siapa Andah? Apa hubungannya dengan Geon? Sejak kapan ada gadis bernama Andah di hidup Geon? Banyak sekali pertanyaan yang bersarang di kepala Bram, tapi tentu saja pria itu tak berani menanyakannnya langsung pada Geon.


“Tidak biasanya aku dibuat bingung seperti ini hanya karena wanita. Aku sudah memiliki Lenanda. Tidak seharusnya aku memikirkan orang asing seperti Andah, kan? Aku merasa bersalah pada Lenanda, tapi akhir-akhir ini aku juga merasa bersalah pada Andah. Aku ingin bertemu dengan Andah sekali saja dan menjelaskan semuanya, tapi aku takut itu akan menjadi pertemuan terakhirku dengan Andah. Aku takut aku harus memutuskan hubunganku dengan Andah, meskipun ikatan yang terjadi antara aku dan Andah hanyalah akibat dari situasi yang tidak bisa kukendalikan,” oceh Geon makin membuat Bram tak mengerti.


Pikiran pria itu kembali melayang, membayangkan bagaimana kabar Andah di rumahnya saat ini. “Andah … apa kau mencariku? Apa kau menanti kepulanganku?” gumam Geon sembari menatap nanar langit senja yang ia lihat melalui jendela.

__ADS_1


Geon benar-benar tak menduga jika malam pertama yang ia habiskan dengan Andah sebelumnya, telah membawa malaikat kecil yang akan hadir di tengah-tengah mereka. Namun, sayangnya Geon masih belum mengetahui kalau pria itu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah.


*****


__ADS_2