
"Ekhemm, enak yaaa, nangis di dada suami orang pagi-pagi begini, Buk?" ucap Andah dengan nada ketus.
Geon terperenjat mendapati Andah berbicara seperti itu. Ia segera melepaskan pelukan Lenanda. "Ini tidak seperti yang kami pikirkan, Sayang? Tiba-tiba, dia muncul dan menangis sesedih ini."
"Ya, begitu lah. Di sini aku memang tidak tahu apa pun tentang masa lalu kalian berdua." Andah bergerak mendorong Lenanda berdiri di antara mereka berdia.
Ia menghadap pada Lenanda dan membuka tangannya dengan lebar. "Lagi sedih ya, Buk? Sini! Biar saya dan anaknya aja yang memeluk Anda!" Wajah Andah tampak terukir dingin, membuat wanita yang bekerja sebagai dosen di kampusnya ini mengusap wajah dengan cepat.
Geon menyentuh pundak Andah. "Jangan begitu!"
__ADS_1
"Geon, wanita seperti apa yang kau nikahi ini?" desis Lenanda memasang mata tajam. "Apa kau lupa, saya ini siapa?"
Andah tertawa sinis. "Ya, tentu saja saya tahu, Buk. Anda adalah salah satu jajaran dosen di kampus saya."
Andah menghela napas panjang. "Beruntung bukan kampus di fakultas saya! Kalau tidak, hmm ... saya tidak tahu bagaimana tanggapan orang lain jika seorang wanita berpendidikan seperti Anda merangkap sekaligus sebagai pelakor? Wuusss ... bayangkan berapa pedasnya mulut dan tangan para deterjen yang bisa membuatmu jatuh dalam waktu singkat."
Andah memutar tubuhnya kembali. Kali ini ia tepat berada di hadapan Geon. "Katakan padaku! Segitu cinta kah dirimu padanya sebelum kau bertemu denganku dalam keadaan penuh luka? Bahkan, kau sampai melupakan dia? Setidaknya jika kau memang mencintainya, kau tidak akan mudah melupakan perasaan itu."
"Aku sangat mencintaimu. Baik sebagai Ojan, maupun sebagai Geon."
__ADS_1
"Satu hal yang aku tahu tentangmu, arti sebuah ketulusan. Kamu mau menerima Ojan yang tak tahu siapa sebenarnya. Pria tak memiliki apa pun yang bisa dibanggakan. Pria yang hanya bisa membawakan sedikit uang, yang tak bisa memenuhi kebutuhan hidup kita."
"Yaaa, kamu adalah orang itu! Orang yang membuatku memahami bahwa di dunia ini, masih ada cinta yang tulus." Geon memeluk Andah yang mematung oleh buayan kata manis yang terasa pahit bagi istrinya saat ini.
Mendengar ucapan Geon barusan, membuat Lenanda semakin dibanjiri oleh air mata. "Jadi, selama ini kau menganggapku kurang tulus?"
"GEON!" Kali ini semua wajah beralih pada suara pria yang berdiri di pintu masuk mansion yang mahaluas ini.
"Kau ini benar-benar tak memiliki perasaan! Kenapa kau tega berkata seperti itu pada wanita yang mencintaimu?" Jonathan melangkah satu per satu.
__ADS_1
Geon melepaskan pelukannya, dan memepuk tangan dengan dingin. "Nah, lihat lah! Kau lihat sendiri siapa yang baru saja hadir bukan?" Tangan Geon terentang menunjuk ke arah Jonathan.
"Lenanda, kenapa tidak dia saja yang kau pilih? Harusnya, sedari dulu kau menyadari dan menerima perasaannya. Dia lah pria yang sungguh-sungguh mencintaimu. Bahkan, dia tega menghancurkan dan membuangku bagai sampah setelah menyewa orang untuk membun*hku."