Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
67. Rencana Pembalasan


__ADS_3

"Istri? Kamu bilang dia istri?" raut Bella tampak tak percaya mendengar kata pria yang ia ketahui bernama Ojan.


Tari menarik lengan Bella memberikan kode gelengan kepala. "Lagian aneh juga, katanya dulu kakak sepupu, terus beberapa waktu kemudian kabar ramai berita bahwa Andah hamil di luar nikah, sekarang tiba-tiba sang kakak sepupu ngaku sebagai suami. Aneh banget kan?" ucap Tari menatap Ojan.


"Nggak mungkin! Masa pria berkelas gini suka sama Andah? Lebih tinggi level aku kan?" Bella masih tampak tak percaya dengan apa yang baru saja diutarakan oleh Tari.


"Sudah! Mulai hari ini kalian jangan mengh1na istri saya lagi! Dia istri saya dan kami telah menikah jauh hari sebelum kabar kehamilannya merebak di kampus ini!"


"I-iya! Memang benar apa yang dikatakan oleh suami Andah ini!" ucap seseorang di belakang mereka.


Semua mata kompak melirik ke arah, belakang dan mereka semua serempak mengerutkan kening. Di sana tampak Tama berdiri menggaruk dagu dengan satu jari.


"Bukannya kamu yang bilang dia itu penari striptis yang jual-jual tubuh dengan seisinya?" sungut Bella masih memperlihatkan raut kesalnya.


Tama memberikan kode kedua tangannya menggantung ke depan agar Bella menghentikan ucapannya melirik Geon yang ada di sampingnya.


"Terus, kamu juga udah bilang saat tidur dengannya dia itu udah nggak perawan dan sangat longgar 'itu' nya!" tambah Tari.


Tama menyipitkan mata dan melirik Geon yang terbelalak dalam diam menatap ke arahnya.


"Kalian ngomong apa sih? Gue nggak pernah bilang gitu," desisnya membela diri. Matanya masih mengawasi Geon dengan wajah ketakutan.


"Gu-gue selalu bilang Andah itu bekerja karena memenuhi kebutuhannya yang sulit aja kok. Dia itu tulamg punggung dalam keluarganya, makanya terpaksa bekerja sebagai penari striptis." Tama masih melirik Geon bergantian dengan kedua teman kuliahnya ini.

__ADS_1


"Aaalaaah, kenapa kamu tiba-tiba berubah gini? Padahal kami jelas melihat kamu menempelkan brosur tentang Andah sepanjang kampus. Sekarang malah sok-sok bela dia di depan suami-nya—" Ucapan Bella terhenti karena Tama telah memberikan kode telunjuk pada bibirnya.


"Ekhemmm ... Sepertinya saya tahu sekarang apa alasan istri saya stress selama kehamilannya. Ternyata ini ulah kamu?" Geon mengeluarkan ponselnya.


"Bram, tolong usut pemuda ini! Ada yang aneh dengannya!" Geon langsung melakukan video call dengan orang kepercayaannya sengaja mengarahkan kamera pada wajah Tama.


"Baik, Pak." Bram segera menangkap layar yang ditujukan oleh Geon.


"Akan saya selidiki." Panggilan pun usai, dan Geon tersenyum tipis.


Sementara itu, wajah Tama terlihat menegang. "A-apa yang baru saja kau lakukan?" Tama terlihat mulai gelisah.


"Enggak, saya hanya merasa heran kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini."


Mata Tama menjadi liar melirik ke kiri dan kanan. Ia merasa canggung pada wajah datar yang diberikan oleh Geon. Ia berjalan cepat mengejar Tari dan Bella tadi. "Tunggu gue!" teriaknya.


Geon tersenyum tipis memandangi punggung ketiga mahasiswa itu yang terus menjauh. Tak lama kemudian, Andah keluar dari ruangan itu dan wajahnya terlihat sangat cerah.


"Sayaang, sesuai harapan. Skripsiku di-ACC oleh Porfesor Yosa. Tinggal mendaftar untuk sidah komprehensif aja nih." Wajah Andah sumringah, membayangkan perjuangannya selama ini akan selesai.


Geon mengecup pipi Andah. "Selamat ya, Sayang. Akhirnya ... Kamu menyelesaikan pendidikanmu. Tapi, setelah itu kamu di rumah aja yah? Mengurus anak kita dan menungguku pulang dari kantor."


Andah mengerucutkan bibirnya. "Masa aku sekolah tinggi begini cuma buat jadi ibu rumah tangga? Cita-citaku itu besar, aku ingin menjadi entepreneur, dan membahagiakan orang tuaku di masa tuanya. Bukan hanya itu, aku harus membayar hutangku yang menumpuk."

__ADS_1


Geon menggenggam tangan Andah. "Kamu tak perlu mengkhawatirkan itu semua!" Mereka berjalan menuju kendaraan yang sedang terparkir.


Ponsel Geon bergetar menunjukan notifikasi pesan chat dari Bram. Geon dengan cepat membuka pesan tersebut. Bibirnya tersenyum tipis membaca pesan itu.


[ Suruh dia memanggil anaknya ke kantor nanti sore! ]


Usai membalas pesan tersebut, Geon kembali memasukan ponselnya pada kantong jas. Andah menyadari senyuman yang tak habis itu.


"Apa terjadi sesuatu saat aku tidak ada?"


Geon hanya membelai pipi Andah dan menggelengkan kepala. Lalu ia fokus dengan jalan menuju suatu tempat. Beberapa waktu Andah menyadari tujuan mereka.


"Bukan kah ini—"


Geon menganggukan kepalanya. "Aku adalah suamimu. Bagaimana pun juga, aku tidak akan membiarkanmu sakit karena kesulitan keuangan."


Geon berhenti tepat di depan cafe pria dewasa, tempat Andah dulunya bekerja mencari seonggok uang yang dilempar oleh pria mata keranjang. Setelah keluar dari kendaraannya itu, Geon menautkan jemari Andah dalam genggamannya berjalan beriringan memasuki gedung itu disambut tatapan panjang para penjaga yang bertugas.


"Andah? Kenapa kamu ke sini? Mamih Lova nggak akan memberikanmu pekerjaan lagi! Apalagi kamu bunting gitu." Jerry melirik Andah dan pria yang tampak kaya tengah bergandengan tangan mesra.


"Kami ke sini bukan untuk meminta pekerjaan untuk istriku!" ucap Geon dingin. Ia teringat pada pria yang pernah menghajar dan mengusirnya dari tempat ini.


Jerry tersenyum sinis. "Hah, istri?"

__ADS_1


__ADS_2