
“Itu dia orangnya! Lihat! Dia masih berani datang ke kampus!” bisik beberapa mahasiswi sembari melirik ke arah Andah.
“Ah, ternyata ini orangnya? Benarkah dia hamil?” bisik mahasiswa lain.
“Tapi perutnya masih rata,” sahut orang-orang di sekeliling Andah. “Kita lihat saja beberapa bulan lagi!” timpal mahasiswa lainnya.
“Coba kau ajak dia keluar! Tarifnya per malam pasti tidak mahal!” celetuk para pria dengan beraninya menyindir Andah dan mengejek Andah tanpa tahu fakta yang sebenarnya.
Saat ini, papan bulletin kampus tempat Andah menimba ilmu tengah digemparkan dengan berita yang menyebutkan kalau Andah bekerja sebagai penari stripsis dan menjual diri hingga hamil. Siapa lagi pelaku yang menyebarkan berita ini kalau bukan teman satu kampus Andah, yaitu Tama.
Namun, Andah tak tahu bagaimana berita mengenai dirinya dapat tersebar hingga sampai seperti ini. Orang-orang membuat asumsi seenaknya hanya karena Andah bekerja sebagai penari stripsis sebelumnya. Padahal kehamilan Andah bukanlah hasil dari jual diri dan merupakan anaknya dengan pria yang ia nikahi secara sah, tapi memang orang-orang di kampus tidak tahu menahu sama sekali mengenai pernikahan Andah dengan Ojan.
Sementara, sang pelaku penyebar berita kini nampak puas melihat Andah yang menjadi bahan gosip hingga wanita itu dibanjiri hujatan dan cibiran dari semua warga kampus. “Rasakan kau, Andah! Aku akan membuat hari-harimu di kampus menjadi tidak tenang!” cetus Tama dengan penuh dendam.
Wajar saja jika pria itu kecewa setelah mendengar kabar kehamilan Andah. Tama sendiri sudah tertarik pada Andah sejak lama, tapi sayangnya ia selalu saja mendapatkan penolakan oleh Andah dan tak mendapatkan kesempatan untuk mendekati wanita itu. Tama benar-benar kecewa mengetahui Andah yang melayani pria lain sampai wanita itu berbadan dua, tanpa tahu jika Andah memang sudah bersuami.
Andah mengambil semua kertas di papan bulletin kampus dan menyingkirkan semua gosip itu, meskipun sudah ada banyak orang yang telah telanjur membacanya. Orang-orang pun ikut menghakimi Andah dan meledek wanita itu sebagai wanita “murah” yang tidak tahu malu.
Usai mengambil semua kertas yang bertuliskan namanya, Andah menenangkan diri sejenak di toilet yang sepi dan mengurung diri di dalam sana. Ujian yang bertubi-tubi ini membuat Andah hampir tumbang dan hampir saja menyerah.
__ADS_1
“Apa lagi yang terjadi sekarang? Aku hanya ingin kehidupan tenang meskipun aku tidak punya uang, tapi kenapa aku tidak juga mendapatkan hidup tenang yang aku dambakan?” keluh Andah dengan manik mata mengembun menahan tangis.
“Sebenarnya apa salahku pada mereka?” gerutu Andah dengan tangis mulai pecah. Di luar sana, orang-orang tak ada henti-hentinya membicarakan Andah bahkan menyebarkan gosip-gosip tidak benar tentang wanita itu.
Berita kehamilan Andah pun juga mulai santer terdengar ke kalangan dosen. Hingga Profesor Yosa yang membiayai kuliahnya. Profesor Yosa memegangi lembaran itu, dan menggelengkan kepala.
Tidak hanya itu, seseorang yang lain juga membaca berita itu. Di dalam selebaran itu, tampak foto gadis yang dulu ia ingat. Memeluk pria yang dulu dikiranya adalah Geon. Namun, gadis itu memanggilnya dengan sapaan lain.
“Lenanda!” Suara Geon yang menggema ke telinga Lenanda membuat lamunan wanita itu pun buyar seketika.
Hari ini Geon berbaik hati menjemput Lenanda dan hendak mengajak sang wanita menghabiskan waktu bersama sejenak setelah Geon disibukkan banyak pekerjaan hingga tak memiliki waktu untuk Lenanda. Tak ingin terus-terusan menyakiti Lenanda dengan sikapnya yang makin cuek, Geon pun sadar diri dan ingin memulai kembali dengan Lenanda dengan perlakuan yang lebih baik lagi.
“Cepat sekali kau sampai?” sapa Lenanda sembari menghampiri sang kekasih.
“Benarkah?” timpal Lenanda dengan pipi memerah bak kepiting rebus. Wanita itu menggandeng lengan Geon dengan girang dan melempar senyum manis pada pria tampan yang tak lama lagi akan menjadi suaminya itu.
Pasangan sejoli itu pun mulai berjalan di lorong kampus menuju keluar gedung. Di tengah perjalanan, Geon sempat berpapasan dengan wanita yang sudah lama tak dijumpainya. Siapa lagi wanita itu kalau bukan wanita yang saat ini masih berstatus sebagai istrinya, yang tak lain ialah Andah.
Andah yang baru saja keluar dari toilet, juga tak menyangka akan berjumpa dengan sesosok pria yang begitu mirip dengan suami yang tengah dicari-cari olehnya. Wanita itu terdiam sejenak dan beradu pandang dengan seorang pria yang mengenakan setelan jas dengan paras tampan nan gagah, dilengkapi dengan tatanan rambut rapi.
__ADS_1
Tentu saja penampilan tersebut bernar-benar jauh dari penampilan Ojan saat meninggalkan rumah Andah. Namun, tentu saja wajah orang tak dapat diubah dengan mudah, meskipun penampilan mereka dapat berubah dengan banyak busana dan aksesoris.
“Ojan?” gumam Andah lirih tanpa sadar begitu ia bertatapan dengan Geon. Geon pun ikut berhenti sejenak dan membalas tatapan mata Andah yang berdiri tepat di hadapannya. Tentu saja hal ini membuat Lenanda kaget dan bingung.
“Kenapa, Geon? Kau kenal dengan dia?” tanya Lenanda pada sang kekasih.
Karena terlalu fokus pada wajah Geon yang Andah kenal sebagai Ojan, Andah pun sampai tak menyadari jika pria yang berwajah sangat mirip dengan suaminya itu saat ini tengah bergandengan mesra dengan salah satu dosen yang ada di kampus ini.
‘Kenapa dosen itu menggandeng Ojan? Apa benar, dia Ojan yang aku cari dan aku nanti? Atau hanya sekedar mirip dengan Ojan?’ Andah perang di dalam batinnya.
Geon menoleh ke arah Lenanda, kemudian menggeleng pelan tanpa membuka suara. Pria itu melanjutkan kembali langkahnya bersama dengan Lenanda dan berjalan meninggalkan Andah tanpa menggubris wanita itu sedikit pun, meskipun Geon sangat mengenali Andah.
Andah tak berkutik sama sekali begitu ia melihat pria berwajah mirip dengan Ojan itu berjalan melewatinya begitu saja tanpa menyapa atau mengatakan sepatah kata. Andah hanya bisa menatap punggung Geon yang kini mulai menjauh bersama dengan Lenanda.
“Apa aku hanya salah lihat saja?” gumam Andah kecewa. “Benar! Tidak mungkin dia Ojan! Ojan tidak setampan itu! Ojan tidak segagah itu! Ojan juga … tidak cocok mengenakan setelan jas. Pria yang tadi itu pasti bukan Ojan!” cetus Andah mencoba menyangkal hatinya yang terus mengatakan jika Geon adalah Ojan.
Andah ingin sekali menuruti logika dan otaknya yang berjalan dengan akal sehat, tapi sayangnya wanita itu tak dapat melawan hatinya. Separuh hati wanita itu tak ingin percaya kalau pria yang baru saja dilihatnya adalah Ojan. Namun, ia melirik kembali punggung yang semakin menjauh itu, separuh hatinya yang lain terus berteriak kalau pria yang ditemuinya tadi adalah Ojan.
“Aku … harus memastikannya!” gumam Andah mulai mengejar Geon yang sudah berjalan keluar gedung bersama dengan Lenanda. Wanita itu mencoba mengejar Geon, tapi sayangnya terlambat. Mobil Geon sudah telanjur melaju meninggalkan area kampus.
__ADS_1
“Kau … pasti bukan Ojan, kan?” ujar Andah penuh harap. “Kalau kau Ojan, kau pasti tidak akan mengabaikanku begitu saja!”
****