Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
49. Kecurigaan Lenanda


__ADS_3

'Berarti, Geon dan Ojan adalah orang yang sama? batin Andah.


"Kenapa kau terus bertanya mengenai calon suamiku? Ada apa? Apa kamu mengenalnya dengan baik?" tanya Lenanda. Saking banyaknya pertanyaan yang diajukan Andah, sampai membuatnya merasa curiga akan wanita itu.


"Tidak. Aku hanya sekedar bertanya," sangkal Andah.


"Aku harus segera kembali ke kelasku," ucap Andah, berusaha mengantisipasi jika Lenanda bertanya sesuatu yang mungkin tak bisa dijawab oleh Andah.


'Aku mulai curiga dengannya. Kenapa dia bertanya-tanya hal detail tentang Geon? Apa ada sesuatu di antara mereka?' batin Lenanda.


Lenanda membuang pemikiran itu sejenak. Menetralkan kembali isi benak yang sempat kacau.


Setelah ini, Lenanda dan Geon akan melakukan fitting baju pengantin. Itu sebabnya, Lenanda berda di toilet, untuk merias diri supaya saat bertemu dengan calon suaminya nanti, dia terlihat lebih fresh.


Sebuah pesan masuk dari Geon yang mengabari kalau dirinya sudah berada di depan kampus.


Senyum Lenanda merekah. Langsung menyambar tas jinjingnya kemudian berjalan cepat menemui Geon.


"Loh, di mana dia?" gumam Lenanda, tidak menemukan Geon di parkiran. Setelah keluar dari area kampus, barulah Lenanda melihat mobil Geon yang berdiri di bawah pohon.


"Kenapa jauh sekali, sih?" Lenanda berdecak.


"Di sana panas. Jadi, aku memilih menunggumu di bawah pohon rindang ini saja," ucap Geon, cuek.


"Apakah kamu melupakan sesuatu?!" Lenanda membulatkan bibirnya, mengisyaratkan jika dia sedang merajuk pada calon suaminya itu.


"Apa?" tanya Geon tak berminat. Padahal, sebenarnya ia tahu apa yang dimaksud gadis ini.


"Kamu benar-benar tidak ingat atau saat sengaja melupakan?" Lenanda masih manyun, dia sedikit kesal akan tingkah Geon yang sangat kentara perubahannya.


"Aku benar-benar tidak ingat. Maaf!" Tangan Geon bergerak ingin mengusap pipi Lenanda. Akan tetapi, bayangan seseorang tiba-tiba muncul dalam benaknya hingga tangan tadi bergerak kaku menyugar rambutnya.


"Cium aku!" ucap Lenanda seakan mengemis belas kasih.


"Cium? Tentu saja, tapi tidak sekarang."

__ADS_1


"Lalu kapan? Apa setelah kita menikah? Geon, kau sungguh aneh!" Lenanda tak suka akan sikap Geon yang seakan terus-menerus memberi jarak di antara mereka.


"Kenapa kau selalu mengelak? Jadi, sebenarnya perasaanmu saat ini bagaimana? Kau hanya sempat kehilangan ingatanmu, bukan kehilangan perasaanmu terdahapku, kan?" Lenanda berdecak kesal.


Bahkan, Geon seakan tak ada niat untuk membujuknya meskipun saat ini dia sedang marah. Pria itu akan terus membiarkan sampai Lenanda mengemis cintanya seperti itu.


"Maaf kalau aku membuatmu kesal. Tapi, begini lah aku—"


"Ya, kamu memang selalu begitu!" potong Lenanda, benar-benar kesal dengan sikap Geon yang terus-terusan menolaknya.


"Maaf!" Geon menggenggam akhirnya memaksa kan diri untuk menggenggam tangan Lenanda.


"Bagaimana kalau aku mentraktirmu ice cream coklat?" tawar Geon, berharap bujukannya itu dapat mengurangi kadar kekesalan Lenanda terhadapnya.


"Ice cream coklat?" mata Lenanda membelalak kaget. " Geon, kamu lupa …?" Lenanda sengaja menggantung ucapannya. Tentu, karena dia ingin melihat reaksi Geon.


"Lupa? Apa yang sudah aku lupakan?" tanya Geon.


"Kamu lupa aku tidak suka makan coklat? Wanita mana yang menyukai ice cream coklat itu? Katakan padaku!" mata Lenanda berkaca-kaca.


"Sepertinya dugaanku memang benar. Ice cream coklat itu kesukaan wanita lain, bukan aku!" ketus Lenanda, membuang muka ke arah lain.


"Geon, katakan padaku, wanita mana yang berhasil merebut hatimu dan menggantikan aku?" setetes air bening terjatuh di pipi Lenanda.


"Sudah lah! Kamu jangan terus-terusan berprasangka buruk kepadaku. Aku tidak seburuk itu!" Geon kekeuh tak mau mengakui. Baginya, pernikahan yang pernah dia jalani bersama Andah hanyalah rahasia yang harus disembunyikan rapat-rapat. Sebagai Ojan, bukan Geon.


"Tapi, semua perubahanmu mencerminkan kalau kamu memiliki wanita lain di luaran sana, Geon! Bagaimana mungkin aku tidak berprasangka padamu?" isakan Lenanda semakin keras terdengar.


"Maafkan aku. Mungkin, aku masih lupa dengan semua kebiasaanmu dulu." Tidak ada yang bisa Geon lakukan selain meminta maaf pada calon istrinya itu.


Geon menarik Lenanda ke dalam pelukannya. Mengusap-usap pelan punggung Lenanda supaya Isak tangisnya bisa segera mereda.


"Maafkan aku," ucapnya lagi.


"Apa kamu bisa memastikan, kalau tidak ada wanita lain selain aku? Hanya aku yang akan menjadi istrimu?" Lenanda berucap setelah sedikit lebih tenang.

__ADS_1


"Aku tidak perlu membuktikan apa pun. Karena memang cuma kamu yang aku mau. Sudah, jangan menangis lagi!"


"Semua orang sudah menunggu, kita jalan sekarang, ya?"


Setelah mendapat anggukan dari Lenanda, Geon langsung melajukan mobilnya. Sepanjang jalan, mereka hanya diam. Lenanda sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Geon, pikiran pria itu dipenuhi oleh Andah. Ia tahu, wanita itu pasti tengah menderita menunggunya.


"Tadi ada salah satu mahasiswiku yang sangat aneh," ujar Lenanda memecahkan keheningan.


"Aneh? Kenapa?" Geon menanggapi. Fokusnya masih jalanan yang lumayan padat.


"Ada mahasiswiku yang mual muntah, seperti orang hamil pada umumnya. Tapi, saat aku menanyainya, dia malah beralasan kalau dirinya kelupaan sarapan. Sebenarnya … berita kehamilan gadis itu sudah diketahui oleh banyak dosen dan semua mahasiswa." Lenanda berdecak, kecurigaannya pada Andah masih terus berlanjut.


"Dari mana kamu tau kalau dia sedang hamil? Mungkin saja, itu hanya gosip saja, kan? Memangnya ada buktinya?" Geon sedikit tertarik dengan pembahasan kali ini.


"Memang aku tidak tahu bagaimana kelanjutan kabar ini, tapi aku mendengar sendiri dia berkata, 'Nak, Ibu akan terus berjuang untukmu meskipun Ibu tidak tahu di mana keberadaan Ayahmu!' itu dia katakan sesaat setelah dia morning sickness!" terang Lenanda, dia tak ingin disalahpahami oleh Geon yang berpikir jika dirinya telah menuduh orang lain.


"Benarkah?" Geon menatap wajah Lenanda yang serius.


"Tentu saja, emangnya untuk apa aku bercanda? Mungkin, dia hamil di luar nikah dan pacarnya tidak mau bertanggung jawab?" Lenanda malah menarik kesimpulan sendiri.


"Entahlah. Untuk apa kita memikirkan sesuatu yang tidak penting. Lebih baik, pikirkan saja tentang persiapan pernikahan kita." Geon hendak mengalihkan pembicaraan.


"Yang membuatku tertarik untuk membicarakan wanita itu, bukan karena kehamilannya. Tetapi, karena dia malah bertanya-tanya tentangmu juga. Entah kenapa, aku malah mencurigai ada sesuatu yang salah." Lenanda masih menatap Geon yang bergeming.


"Kamu tidak penasaran apa yang ditanyai wanita itu tentangmu?" Lenanda kembali memancing. Dia berpikir, mungkin bisa mencari jawaban atas kecurigaannya dari Geon.


"Memangnya apa?" suara Geon terdengar malas.


"Dia bertanya ada hubungan apa antara kamu dan aku. Yang lebih anehnya, dia malah bertanya apa kamu memiliki saudara kembar?" Lenanda terkekeh.


"Dia pikir, jikalau kamu memiliki saudara kembar, saudara kembarmu mau menikah dengannya?" Lenanda meledek.


"Andah, Andah, lucu sekali kamu!" ucap Lenanda sambil terus tertawa.


"Siapa? Andah?" sela Geon.

__ADS_1


__ADS_2