Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
50. Asal Mendapat Uang


__ADS_3

Geon begitu terkejut ketika Lenanda menyebutkan nama Andah.


"Jadi, dia yang menanyai semua itu? Apa kamu yakin dia hamil?" tanya Geon lagi.


Lenanda mengangguk sembari menelisik raut wajah Geon yang tak biasa.


"Kenapa kamu sekaget itu? Kamu kenal dengan Andah?" tanya Lenanda lagi.


Geon teringat malam indah yang mereka berdua habiskan. 'Andah ... kamu ...."


"Sayang, Apa yang kamu pikirkan?" Kali ini suara Lenanda terdengar lebih tinggi.


Geon tersentak dan menggeleng cepat. "Aku hanya merasa namanya sedikit unik," jelas Geon, tidak membiarkan kecurigaan Lenanda semakin kuat.


"Benarkah? Kenapa aku malah tidak yakin, ya?" Lenanda terkekeh.


"Sudahlah, Nan, yang aku katakan ini benar kok," ucap Geon tetapi wajahnya terlihat mengawang panjang.


Reaksi yang ditunjukkan Geon tersebut, membuat kecurigaan Lenanda semakin besar. Wanita itu semakin penasaran dan tertarik untuk mencari tahu, hubungan apa yang sudah tercipta di antara keduanya.


***


Setelah pulang dari kampus, Andah langsung ke datang ke kafe Mamih Lova untuk menemui Kak Yana dan menceritakan apa yang dilihatnya hari ini.


"Andah, kamu kenapa ke sini? Kamu mencari Mamih Lova? Mamih Lova sepertinya sedang pergi keluar," ucap Kak Yana.


"Tidak, Kak. Aku hanya ingin mengunjungimu saja. Aku … kesepian. Bisa temani aku mengobrol sebentar?" Andah menghela nafas panjang.


"Kamu sudah makan siang?" tanya Kak Yana, kasihan melihat wajah pucat Andah. Andah juga tidak bersemangat seperti biasanya. Kini, wanita itu terlihat sayu.


"Sudah sih, Kak. Hanya saja, aku masih merasa lapar. Apa yang aku makan, pasti keluar kembali," keluh Andah, duduk di samping Kak Yana yang sedang memainkan gadgetnya.


"Tunggu sebentar di sini, aku akan membelikanmu beberapa cemilan sebagai pengganjal perut," ucap Kak Yana, benar-benar tidak tega dengan kondisi Andah.

__ADS_1


"Tak perlu, Kak. Nanti aku beli sendiri saja. Ada yang ingin aku sampaikan sama Kakak," ucapnya.


"Apa? Langsung katakan saja!" desak Kaka Yana.


Andah mulai menceritakan jika dirinya tadi bertemu dengan Ojan. Semuanya Andah ceritakan tanpa ada yang terlewat sedikitpun.


"Kamu bertemu dengan Ojan tetapi dia malah buru-buru melarikan diri?" tanya Kak Yana seakan tidak percaya dengan penjelasan Andah.


Andah mengangguk. "Sebenarnya aku sudah bertemu dengan pria yang mirip dengan Ojan ini, beberapa kali. Penampilannya juga sangat berbeda. Hingga membuatku tidak mengenalinya," sambung Andah.


Kak Yana turut merenung mendengar cerita Andah. "Apakah ini mengartikan bahwa sebenarnya Ojan itu pria kaya raya? Sepertinya, ingatan Ojansudah kembali pulih," terka Kak Yana, hanya dijawab oleh diamnya Andah.


"Sudahlah. Jangan memikirkannya lagi. Yang harus kamu perhatikan sekarang adalah anak di dalam kandunganmu itu. Jika kamu stress, dia juga akan merasakan hal yang sama. Lupakan sejenak beban yang sedang menderamu. Jika Ojan memang mencintaimu, dia tidak akan berusaha menghindar seperti yang kamu katakan." Andah mengangguk dalam diam, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena sadar kalau apa yang dikatakan Kak Yana memang benar adanya.


"Kamu masih mau di sini? Aku harus segera bersiap-siap," tukas Yana lagi.


Andah kembali mengangguk. "Aku akan duduk di sini sebentar. Kak Yana lanjutkan saja kegiatannya. Aku sedang tidak ingin pulang. Aku malas mendengar suara teriakan ibu. Aku lelah, ibuku sudah mengambil banyak uang selama beberapa hari ini," ungkap Andah dengan wajah muram.


"Kalau begitu, duduk di sini saja dulu. Kau bisa menghabiskan waktu di sini kalau kau bosan, tapi sebaiknya kau banyak beristirahat. Di sini banyak asap rokok dan bau minuman keras, jangan lama-lama berada di sini!" ujar Kak Yana menasihati.


"Baiklah!"


Usai puas menghabiskan waktu di sana, Andah pun bergegas pulang ke rumah dan memeriksa kembali pekerjaan barunya. Setelah mendapatkan beberapa project kecil beberapa waktu lalu, sampai saat ini Andah belum lagi mendapatkan project baru.


Wanita itu membuka dompetnya yang tipis, tapi sayangnya dirinya tak menemukan uang sepeserpun di dalam dompet miliknya itu. Andah hampir kembali gila memikirkan ke mana lagi gadis itu bisa mencari uang untuk membeli kebutuhan esok hari.


"Sepertinya mengambil pekerjaan web designer cukup sulit. Apa sebaiknya aku mencari pekerjaan di toko atau restoran saja?" gumam Andah terpaksa harus memutar otak kembali untuk memenuhi kebutuhannya.


Wanita itu kembali berselancar di internet untuk mencari informasi pekerjaan ringan yang bisa ia lakukan dalam keadaan hamil. Ingin sekali Andah meminta bantuan teman untuk sekedar menanyakan lowongan untuk pekerjaan paruh waktu, tapi sayangnya wanita itu sudah tak memiliki orang-orang yang bisa ia hubungi untuk dimintai bantuan.


Dirinya yang saat ini menjadi korban penguncilan di kampus akibat ulah Tama, sudah tak lagi memiliki muka dan tak akan ada lagi teman yang membantunya, meskipun Andah menjelaskan jika dirinya memang tidak hamil di luar nikah.


"Ke mana lagi aku harus mencari uang?"

__ADS_1


Untuk ke sekian kalinya wanita itu dibuat putus asa karena uang. Andah pun juga bingung ke mana lagi ia harus mencari pinjaman dalam keadaan seperti ini.


Utang wanita itu sendiri masih cukup menumpuk di tempat Mamih Lova. Andah tak lagi memiliki keberanian untuk menambah pinjaman demi membeli kebutuhan hidup.


"Siapa lagi yang bisa meminjami aku uang?" gumam Andah frustasi.


Wanita itu pun mengobrak-abrik seisi kamarnya dan mencari sesuatu yang bisa ia jadikan uang untuk pegangan selama ia belum mendapatkan pekerjaan tetap.


Tiba-tiba, ia teringat sesuatu yang ada di plafon kala itu. Dia kembali menyusun kursi di atas meja. Namun, ia teringat terakhir kali saat memanjat itu, ia terjatuh dan disambut oleh Ojan. Tiba-tiba, ia meringis memeluk dirinya sendiri, menggeleng pelan.


Ia membelai perut yang telah terisi buah hatinya bersama Ojan. "Ibu akan menjagamu ... Meskipun, ayahmu tak lagi memikirkan kita, Ibu akan tetap menjagamu. Karena hadirmu, adalah sebuah cinta yang tak terhingga."


Ia beralih pada laptop menunggu project web designer yang tak kunjung dapat juga. Kalau pun ada, hasilnya tak seberapa.


Namun, sebenarnya web designer sendiri bisa menghasilkan uang yang cukup besar, jika saja Andah mendapatkan banyak project.


Namun, sebagai pemula, tentu saja wanita itu masih kalah jauh dengan penyedia jasa profesional yang sudah memiliki jam terbang tinggi. Andah belum bisa merebut project besar dan masih harus merangkak dari bawah untuk meniti karir. Wanita itu juga masih harus menunggu skripsinya selesai, jika dirinya ingin memperbaiki nasib dengan mencari pekerjaan yang lebih layak.


"Ayo, Andah! Pasti masih banyak pekerjaan yang bisa kau lakukan! Mungkin ada yang bisa kulakukan di luar rumah," gumam Andah, kemudian memutuskan untuk pergi keluar mencari kegiatan yang menghasilkan uang.


Wanita itu menghampiri sebuah warung yang nampak ramai dan menawarkan diri memberikan bantuan pada pemilik warung yang kerepotan. Beruntung, pemilik warung yang masih tetangga Andah itu berbaik hati memberikan tugas ringan pada Andah dengan imbalan sepiring nasi dan lauk.


"Terima kasih banyak sudah mengizinkanku membantu di sini, Bu!" ucap Andah sembari membereskan piring kotor yang ada di warung dan mencucinya hingga bersih.


"Sama-sama, Andah. Tapi Ibu tidak bisa membayar banyak. Sekedar makan malam saja untukmu dan juga ayahmu, tidak masalah, kan?" cetus pemilik warung.


"Tidak masalah, Bu! Terima kasih banyak sudah memberiku kesempatan!"


"Kenapa kau sampai menawarkan diri sebagai tukang cuci piring? Apa keluargamu sedang ada masalah?" tanya pemilik warung.


"Masih banyak pekerjaan di luar sana yang bisa kau lakukan. Bekerja sebagai pencuci piring seperti ini tidak bisa menghasilkan uang."


"Tidak masalah, Bu. Yang penting ayahku bisa mendapatkan makan malam saat ini," timpal Andah.

__ADS_1


Bukan saatnya bagi Andah untuk memilih-milih pekerjaan saat ini. Wanita itu akan melakukan apa saja demi sang ayah dan juga calon buah hatinya.


__ADS_2