
Karena sepi banget, Author up satu bab sehari aja YGY ... Kurang semangat ðŸ˜
...****************...
Keesokan harinya, Geon kembali lagi ke kampus dengan harapan dirinya dapat berjumpa dengan Andah. Meskipun tak mendapatkan hasil apa pun di hari-hari sebelumnya, tapi nyatanya Geon masih pantang menyerah dan kembali lagi menunggu Andah tanpa kepastian.
Pria itu menunggu Andah di sekitar pintu gerbang tanpa menutup wajahnya. Geon terus celingukan ke sana kemari, berharap Andah akan muncul dan melihat dirinya walau hanya sekejap.
Tring, tring! Di sela-sela penantiannya, Geon pun diganggu oleh dering ponsel yang berbunyi kencang di sakunya. Mendapatkan panggilan telepon dari sang asisten di kantor, membuat Geon terpaksa menghentikan kegiatannya saat ini dan beralih mengurus perusahaannya terlebih dahulu sebelum pria itu kembali mengurusi Andah.
Tepat saat Geon tengah mengotak-atik ponsel, di ujung jalan Andah pun mulai terlihat melangkah menuju gerbang kampus. Bukannya Geon yang melihat keberadaan Andah, tapi justru Andalah yang menyadari keberadaan Geon.
"Ojan?" gumam Andah saat melihat Geon sekilas.
Wanita itu berlari dan hendak memastikan siapa pria yang dilihatnya itu. Namun, sayangnya Geon sudah terburu-buru menaiki mobil dan bergegas menuju kantor untuk mengurus pekerjaan.
"Ojan!" Suara panggilan Andah pun tak digubris sama sekali oleh Geon. Andah pun dibuat kalut saat wanita itu tengah mencari cara untuk mengejar Geon yang mulai menjauh.
Terpaksa, Andah harus merelakan uangnya untuk menaiki taksi dan mengejar Geon yang sudah melaju bersama mobil yang dikendarai oleh pria itu. "Pak, tolong kejar mobil itu!" pinta Andah begitu ia mendapatkan taksi.
Mobil yang dibawa oleh Geon perlahan mulai merayap menuju kantor tempat Geon memimpin. Begitu turun dari taksi, Andah nampak ragu memutuskan untuk masuk ke dalam gedung kantor atau tidak.
Wanita itu cukup takjub saat melihat bangunan yang tinggi nan besar di depan matanya. Andah tampak tidak yakin dirinya bisa menemukan Ojan yang ia kenal di dalam gedung tersebut. "Siapa sebenarnya Ojan yang aku kenal?" gumam Andah mulai penasaran dengan identitas asli sang suami yang tengah mengalami amnesia itu, tapi Andah tak tahu jika ingatan Ojan alias Geon telah kembali.
"Haruskah aku masuk? Atau lebih baik aku kembali saja?" oceh Andah bimbang.
__ADS_1
Akhirnya, wanita itu pun memutuskan untuk masuk ke dalam dan mencoba mencari tahu sosok pria yang ia panggil dengan nama Ojan itu. "Permisi ... boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Andah pada resepsionis yang ada di pintu masuk.
"Silakan, Nona! Ada yang bisa kami bantu?"
Andah memainkan jemarinya dan bingung bagaimana ia harus mulai bertanya mengenai Ojan. "Apa Anda melihat pria yang baru saja masuk ke sini tadi? Pria yang bertubuh sedang, yang memakai mantel hitam. Aku melihatnya masuk ke sini. Apa ... aku bisa menemui pria itu?"
Resepsionis itu pun mencoba memahami orang yang dimaksud oleh Andah, tapi sayangnya penjelasan Andah yang kurang dimengerti membuat pegawai itu bingung. "Maaf, bisa sebutkan nama orang yang Nona cari? Nona bisa membuat janji terlebih dahulu atau menunggu sampai jam kerja usai," ujar sang resepsionis.
"Ah, begitu! Aku ... tidak tahu namanya," ungkap Andah. "Aku punya urusan penting dengan orang itu. Apa aku boleh menunggu sampai dia keluar?" tanya Andah dengan polosnya.
"Silakan, Nona!" sahut resepsionis mengizinkan Andah untuk menunggu.
Wanita itu duduk di lobi gedung perusahaan dan terus menatap ke arah lift, menanti sosok yang ia yakini sebagai Ojan keluar dari dalam lift tersebut. "Siapa nama Ojan sebenarnya? Bahkan nama asli suamiku sendiri saja, aku tidak tahu," gumam Andah dengan wajah muram.
Hingga sore hari, wanita itu terus menunggu tanpa kepastian. Kemarin Geon yang harus tersiksa dalam penantian. Kini giliran Andah yang harus merasakan beratnya menunggu yang dialami oleh Geon sebelumnya.
"Cukup saja untuk hari ini. Aku bisa kembali lagi nanti, kan?" cetus Andah ingin mengakhiri acara menunggunya hari ini.
Dengan berat hati, tanpa mendapatkan apa pun, wanita itu pun pergi meninggalkan kantor Geon dan berniat untuk kembali lagi esok hari. Pasangan suami istri itu saling mencari satu sama lain dan tersiksa dalam penantian yang ia rasakan masing-masing saat menunggu orang yang ingin mereka jumpai.
Keesokan harinya, Andah benar-benar kembali ke kantor Geon, dan lagi-lagi menunggu di lobi gedung sejak pagi. Wanita itu terus menatap ke arah pintu masuk, berharap ia bisa mendapatkan kesempatan untuk bertemu pria yang mirip dengan Ojan itu lagi.
Tak lama kemudian, rombongan pria berjas pun mulai muncul di pintu masuk secara bersamaan. Di antara banyaknya pria berjas yang masuk ke dalam gedung itu, terdapat satu pria paling mencolok yang tak lain ialah Geon.
Geon nampak fokus melihat ke arah client-nya dan sibuk berbicara dengan client penting hari ini yang diundang olehnya untuk mengunjungi perusahaan. Pria itu sampai tak sadar jika ada seseorang yang menunggunya di pintu masuk, yang tak lain ialah istrinya, Andah.
__ADS_1
Andah langsung bangkit dari tempat duduknya dan bergegas menghampiri Geon. Namun, sayangnya pria itu nampak sibuk dan tak dapat diganggu. Tapi kalau bukan sekarang, kapan lagi Andah akan memiliki kesempatan untuk bertemu dengan pria mirip Ojan itu? Andah hanya ingin memastikan kalau pria yang ia lihat itu bukanlah Ojan.
"Ojan!" panggil Andah sembari berlari kecil menghampiri Geon.
Langkah Geon pun terhenti sejenak, tapi pria itu tak menoleh ke arah sumber suara. Hanya ada satu orang di dunia ini yang akan memanggil dirinya dengan sebutan Ojan. Siapa lagi kalau bukan Andah?
Setelah berhari-hari menunggu wanita itu dan menelan kekecewaan karena tak dapat berjumpa, kini Andah justru muncul di waktu yang tidak tepat. Pria itu saat ini tengah menyambut client penting dan memiliki rapat dadakan hari ini.
Dengan amat sangat terpaksa, Geon kembali mengabaikan Andah dan memilih untuk mengurus client-nya terlebih dahulu. 'Kenapa Andah bisa muncul di sini?' batin Geon terkejut bukan main.
Andah hanya bisa terdiam menelan pil pahit dan sakitnya diabaikan begitu ia melihat Geon yang memalingkan wajah dan meninggalkan dirinya. "Apa aku salah orang? Sepertinya ... dia memang bukan Ojan," gumam Andah pasrah.
Entah mengapa tiba-tiba saja bulir bening mulai mengalir deras membasahi pipinya begitu ia tersadar, jika pria yang ditunggunya ternyata bukan Ojan. "Lebih baik aku cari Ojan di tempat lain," cetus Andah berjalan lemas meninggalkan gedung perusahaan itu.
Sementara, di dalam sana, Geon nampak gundah dan kehilangan konsentrasi setelah melihat Andah. Tak ingin menyesal untuk kedua kalinya karena mengabaikan Andah, Geon pun memutuskan untuk meninggalkan client-nya demi menemui Andah.
Geon bergegas berlari menuju lift dan nampak tergesa-gesa mencari Andah di lobi. Sayangnya, pria itu sudah terlambat dan Andah sudah telanjur pergi.
"Apa kalian melihat gadis yang ada di sini tadi? Dia sudah pergi?" tanya Geon pada resepsionis.
Resepsionis pun mengangguk, kemudian mengeluarkan pesan kertas kecil yang ditulis oleh Andah untuk Geon. "Sebelum pergi, wanita itu meninggalkan pesan untuk Tuan!" ungkap resepsionis memberikan pesan yang ditulis oleh Andah untuknya.
[Maaf, sempat salah mengira dirimu sebagai orang yang bernama Ojan. Kamu sangat mirip dengan orang yang aku cinta. Maaf sudah mengganggu kenyamananmu.]
Geon menggenggam kuat kertas kecil tersebut hingga remuk. Lagi dan lagi ia dibuat menyesal karena ulahnya sendiri. "Geon! Mau sampai kapan lagi kau menyia-nyiakan kesempatan?" gumam Geon penuh sesal.
__ADS_1
****