Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
71. Pertama dan Utama


__ADS_3

Yana memberi kode gelengan kepala. "Kamu ini apaan sih? Jangan membuatku malu!" Yana kembali terkekeh.


"Tentu saja. Yana boleh bekerja di perusahaanku. Sepertinya dia sudah sangat baik padamu di saat aku tidak ada di sisimu." Geon mengucapkannya dengan bersahaja.


"Jangan!" cegat Yana dengan cepat. "Tidak perlu! Kehidupanku sudah di sini semenjak sepuluh tahun yang lalu. Aku rasa, aku tak akan bisa bertukar pekerjaan begitu saja."


Yana masih kukuh dengan apa yang ia selami selama ini. Karena, ia tertampar pada sebuah realita, hatinya sudah ciut duluan jika harus bergabung dengan pegawai kantoran. Dalam benaknya, sudah ketakutan, jika suatu saat nanti rekan kerja di sana mengetahui pekerjaannya sebagai penari yang tak ada bedanya dengan penjaja kemolekan tubuh beserta isinya.


"Tapi, Kak. Jika Kakak bekerja dengan suamiku, kita akan sering berjumpa. Kehidupanmu akan jauh lebih baik dibanding bekerja di tempat ini." Andah mengenggam erat tangan Yana, ada rasa sayang, yang tak bisa diungkapkan kepada sahabat layaknya saudaranya ini.


Yana tersenyum kecut. "Kamu jangan khawatir! Aku akan tetap seperti ini dan semua akan baik-baik saja. Jika aku main ke tempatmu, kamu jangan mengusirku yah?"


Andah terkekeh mendengar gurauan Yana. "Hal itu tak mungkin terjadi. Kami pasti akan menyambutmu dengan baik, Kak."


Yana mengusap pundak Andah. "Baik lah, sampai jumpa lagi. Sepertinya suamimu sudah tidak sabar membawamu kabur dari tempat ini?" Yana melirik Geon yang sudah terlihat lelah mematung di ujung ruangan sendirian.


"Jangan lupa mampir ke rumah kami yah? Nanti aku akan kasih alamatnya." Andah melambaikan tangannya berjalan ke arah suaminya berdiri.


Geon menengadahkan tangannya dan langsung disambut oleh Andah. Mereka menuju kendaraan dan Geon melirik istrinya menyipitkan mata.


"Tadi katamu hotel bintang lima yaaa?"


Andah membulatkan bibirnya menggelengkan kepala dengan cepat.


"Terlambat!" Geon tancap gas menuju sebuah hotel bintang lima yang ada di kota itu.


Pada malam hari, di atas ranjang di bawah selimut dalam sebuah kamar hotel, Geon meraba ponsel yang terus bergetar di atas nakas yang ada di samping ranjang. Geon melirik ponsel tersebut yang tercantum nama Lenanda. Ia memilih untuk merejeck panggilan itu dan kembali memeluk Andah yang bersembunyi di bawah selimut tanpa sehelai benang pun.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Andah.


"Bukan siapa-siapa." Geon mempererat pelukannya pada sang istri dan mengusap perut Andah dengan lembut.


"Masih kangen sama Daddy, boy?" bisiknya lagi.


"Udah, ah! Capek!" balas Andah.


"Masa segitu doang udah cap—" Perhatian Geon kembali teralih. Ia melirik ponselnya yang terus bergetar tiada henti. Dalam layar masih tertulis nama yang sama.


Sebelum ditolak oleh Geon, Andah menarik ponsel itu terlebih dahulu. Ia menatap nama yang membuat Geon memilih menutup panggilan. Beberapa waktu ia melirik sang suami.


"Lenanda ... Apa kamu tak tertarik untuk menjawab panggilannya?"


"Sudah lah, biar kan saja! Kecuali kamu mengizinkanku untuk berpoligami?"


"Sayaaang, kenapa kamu menolak panggilanku?" Terdengar suara ngeantur gadis yang menangis di ujung panggilan.


"Lenanda, kamu itu lagi mabuk! Tutup saja teleponnya!" Ada suara seorang pria yang tak dikenal oleh Andah, tetapi Geon seakan begitu hapal dengan suara itu.


"Jonathan bilang, wanita itu hanyalah wanita murah4n! Kenapa kau menikahi wanita murah4n? Apakah aku harus lebih murah dibanding biasanya padamu?" Suara wanita itu masih terdengar cukup serak sesegukan dalam tangisan.


Andah mengernyitkan dahinya melirik Geon. Geon berusaha merebut benda pipih itu, tetapi Andah memukul tangan Geon.


"Padahal, aku sudah cukup murah4n untukmu, tetapi kenapa masih saja kau lebih memilih dia ...."


Andah melirik Geon dengan mata tajamnya. "Jadi kau sudah menidurinya juga?" tanya Andah dingin.

__ADS_1


"Jadi, karena itu kau selalu menatapku dengan wajah mesummu, meski kau sedang hilang ingatan?"


Andah melempar ponselnya pada Geon, keluar dari selimut itu dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ada rasa yang membakar dalam hatinya, membayangkan suaminya tengah bercumbu dengan wanita lain jauh hari sebelum bertemu dengannya.


"Sayang, apa benar ibumu ini adalah perusak hubungan antara ayah dan wanita lain?" Andah meringkuk di bawah shower yang mengalirkan air hangat.


Gedoran pintu yang sedari tadi, dibiarkan oleh Andah tanpa mendengarkan apa yang diucapkan oleh Geon. Kamar mandi itu kedap udara.


"Sayaaang, dengar kan aku dulu. Kami memang sering ciuman, tetapi tidak pernah sampai 'begitu' dengannya. Aku hanya menganggapnya layaknya adik kecil yang selalu menghiburku. Kamu adalah yang pertama dan utama bagiku!"


Namun, tak satu pun jawaban yang terdengar. Tak ada suara sama sekali di dalam kamar mandi itu. Geon memasang kimono untuk menutupi tubuh dari dinginnya udara yang dikeluarkan oleh AC di kamar hotel ini. Cukup lama Andah berada di dalam kamar mandi itu. Hingga membuat Geon berpikir yang tidak-tidak.


Ia memilih untuk mencoba mendobrak pintu kamar mandi tersebut. Ketika ia sudah bersiap membenturkan tubuh pada pintu tadi, Andah telah kembuka pintu membuat Geon jatuh terperosok ke dalam kamar mandi yang cukup licin. Andah tampak cukup terkejut, menutup mulut tetapi membisu.


Meski tak bersuara, Geon mengernyitkan wajah, merasa bahu dan lengannya ngilu karena terbentur lantai. Ia melirik wajah istrinya yang tampak shock melihat dirinya jatuh seperti ini.


"Aduuuh, sakiiiit," rengeknya.


...****************...


Ayooo mampir yoook ... Karya kece badai milik temen Author.


Napen: Aveeiiii


Judul: Mendadak Punya Bayi


__ADS_1


__ADS_2