Gadis Penari & Tuan Amnesia

Gadis Penari & Tuan Amnesia
54. Sebuah Penjelasan


__ADS_3

Geon memesan dua porsi makanan yang disukai Andah. Segelas jus jeruk dan air putih hangat untuk Andah, istrinya itu.


"Aku tidak menyangka kamu masih ingat dengan hal sesepele ini," ujar Andah bermaksud mengejek.


"Hanya hal sepele, bukan hal yang aneh jika aku masih bisa mengingatnya dengan baik," jawab Geon, memperhatikan wajah Andah seksama. Tidak banyak yang berubah dari istrinya rahasianya itu. Namun, cekungan di matanya terlihat sangat jelas.


"Sudah berapa bulan? Apa dia bertumbuh dengan baik?" tanya Geon, sangat penasaran dengan kondisi kehamilan istrinya itu.


Andah enggan mengatakan usia kehamilannya. Ada sesuatu yang ditakutkan oleh wanita itu. "Aku tidak bisa menjamin ia bisa bertumbuh dengan baik. Tapi, aku akan terus berusaha untuk memberikannya yang paling baik dari apa yang aku miliki. Kamu bisa melihatnya sendiri."


Ujaran Andah seakan menampar Geon. Pria itu langsung terdiam seribu bahasa, karena hatinya baru saja terhujam oleh sesuatu yang tajam. Tanpa kata hanya helaan nafas yang terdengar silih berganti.


"Maafkan aku," ucap Geon, wajahnya tertunduk. Tidak berani menatap netra Andah, wanita yang selama ini berhasil membuat hatinya kacau.


"Maaf? Untuk apa? Kamu tidak memiliki kesalahan apa pun padaku," ucap Andah.


"Jangan seperti ini. Aku tahu, kesalahanku padamu sangatlah besar. Aku malah menelantarkan istri yang sedang mengandung anakku." Geon semakin tertunduk. Merasa sangat malu dengan kenyataan.


"Rasa penyesalan saja tidak cukup, bukan?" Andah tertawa sumbang. "Tapi, semuanya sudah terjadi. Tidak ada lagi yang perlu disesali," ujar Andah.


"Aku sudah menerima apa pun keputusanmu, termasuk Jika kamu mau meninggalkan aku," pungkas Andah. Matanya pun mulai berkaca-kaca. Andah tidak bisa menahan pilu dalam hatinya, tidak dapat membohongi hatinya yang terus mengikrarkan cinta untuk Ojan, sang suami. Namun, sekarang Andah sangat sadar, pria yang saat ini berada di depannya bukanlah Ojan. Hanya rupa mereka yang sangat mirip. Tetapi, kepribadiannya jelas berbeda.


Andah pun sangat sadar, mereka tak lagi sejalan. Walaupun perasaan cinta itu masih terus bergelayut, tetapi Andah juga harus bisa belajar untuk merelakan pria di depannya itu.

__ADS_1


"Aku memang tidak bisa lagi bersamamu." Bibir Geon begitu kelu ketika mengatakan sesuatu yang berbanding terbalik dengan hatinya.


"Aku tahu, kamu mencintai Lenanda. Tidak perlu mengutarakan apa pun, aku sudah mengerti." Andah berusaha menegarkan dirinya dari perasaan hati yang begitu kacau.


"Andah, sekali lagi maafkan aku. Aku tidak bisa mengatakan bagaimana isi hatiku, hanya saja aku tidak bisa meninggalkannya. Bahkan, kami sudah bersama jauh sebelum aku bertemu dan menikah denganmu," ujar Geon lagi.


"Tidak apa-apa. Aku juga cukup tahu diri kok." Andah kembali tersenyum. "Berarti, selama ini kamu menghilang karena kamu sudah kembali pada keluargamu? Selama ini kamu mengatakan tidak mengenalku, ternyata itu hanyalah kepura-puraan karena kamu mau menjaga perasaan calon istrimu? Sudah kuduga, kamu memang hanya berpura-pura." Andah manggut-manggut. Dia juga tidak bisa menyalahkan Geon, keadaan yang mempertemukan mereka.


"Maafkan aku," ucap Geon. "Minggu depan kami akan menikah …." Geon terdiam, tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ada perasaan tak tega, tetapi Geon tidak bisa menyadari kalau itu adalah cinta. Dia berpikir, itu hanyalah perasaan kasihannya pada wanita di depannya ini.


"Sudah kukatakan, jangan selalu mengucapkan maaf. Di antara kita tidak ada yang bersalah. Mungkin, takdir memang sedang menguji batas kesabaranku, makanya aku diperlakukan seperti ini," ucap Andah. "Tapi tidak mengapa, suatu saat aku juga pasti akan bahagia. Kamu berbahagia dengan istrimu kelak. Tidak perlu memikirkan aku," ucap Andah yang bisa dari tadi berusaha sok tegar, menahan diri untuk tidak menangis.


Andah menyeruput jus jeruk dingin kesukaannya. Andah selalu menyukai hal-hal yang sederhana. Tetapi, nasibnya tak sesederhana seperti yang dia inginkan. Kaki Andah selalu dipaksa kuat untuk melewati jalan yang curam. Namun, Andah meyakini, jalan yang sedang ditempuh saat ini merupakan jalan untuk menjemput kebahagiaannya kelak.


Selesai makan bersama, Geon mengantarkan Andah pulang.


"Kamu sudah akan menikah dengan wanita lain. Aku … tidak mau memiliki status yang tidak jelas," ujar Andah, sesekali melirik Geon.


"Kamu pasti tahu apa maksudku, kan?" Andah kembali bersuara. Namun, Geon masih bergeming.


'Walaupun aku tahu apa yang sedang kamu singgung, entah kenapa mulut dan hati ini masih terlalu berat untuk mengucapkan kata yang membuat kita berpisah. Aku tidak bisa, entah memang tidak mau. Tapi, aku juga tidak tega melihatmu hidup tanpa status yang jelas seperti itu,' batin Geon meringis dan bingung pada dirinya sendiri.


"Ojan?" panggil Andah lagi. "Satu minggu lagi kamu akan menikah dengan wanita yang kamu cintai. Aku tidak meminta banyak, cukup jangan ambil anak yang aku kandung saja. Dan lepaskanlah aku. Aku juga berhak bahagia, bukan?" perasan Geon begitu sakit ketika Andah terang-terangan meminta Geon untuk menceraikannya.

__ADS_1


"Kenapa kamu hanya diam saja?" Andah mulai kesal dengan diamnya Geon.


Geon menghentikan mobilnya di sebuah gang. Sebelum Andah turun, Geon mengeluarkan sebuah kartu kredit dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada Andah.


"Ini untukmu. Meskipun aku tidak bisa bersamamu membesarkan anak ini, tapi aku tidak akan melepaskan apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabku. Ambil lah, pergunakan sesukamu, aku akan mengirimkan sejumlah uang untuk keperluan anak kita," ujar Geon, memaksa Andah untuk menerima kartu kreditnya.


"Apa aku dan anak ini hanya seharga uang saja? Maaf, aku tidak bisa menerima pemberianmu ini. Aku masih bisa bekerja untuk menghidupiku dan anakku. Jangan meragukanku, aku kuat untuk melakukan apa saja. Tidak perlu khawatir tentang anakku. Setelah kamu memutuskan untuk meninggalkanku, maka putuslah semua hubungan diantara kita. Jangan berpura-pura peduli, aku tidak suka dikasihani!" Andah mengembalikan kartu kredit itu dengan meletakkannya di saku jas Geon.


Andah berjalan tergesa-gesa ke rumahnya. Air matanya tumpah ruah, dan ia hanya bisa mengusap bulir bening itu sepanjang perjalanan menuju rumahnya. Dia tidak peduli dengan para tetangga yang menyapanya. Tujuannya saat ini hanyalah rumah dan menumpahkan segalanya seorang diri. Padahal, setiap hari Andah selalu menekankan dirinya untuk bersikap kuat dalam menghadapi semua cobaan yang datang menderanya.


Tapi, setelah bertemu dengan Geon, apalagi ketika Geon mematahkan hatinya, kekuatan yang selama ini dia kumpulkan seperti hangus begitu saja.


"Andah, kamu pasti kuat. Jangan cengeng, kasihan calon anakmu!" Andah kembali menekankan kekuatan dalam dirinya.


"Andah, dari mana saja kamu? Sudah dapat pekerjaannya, kan? Mana uangnya? Beras habis!" Inggrid menengadahkan tangan, meminta uang pada Andah yang tak memiliki uang sepeser pun.


"Bu, aku belum mendapat pekerjaan. Aku tidak memiliki uang sedikit pun. Pakai uang Ibu saja dulu." Air mata yang sudah menganak sungai langsung lenyap ketika mendengar suara teriakan Inggrid.


"Uangku? Apa kamu gila? Dari mana aku mendapatkan uang kalau bukan dari kamu?" bentak Inggrid. "Lihatlah! Ayahmu kejang-kejang, dia juga butuh makan!" sentak Inggrid lagi.


"Apa? Ayah kejang-kejang?" Andah segera berlari ke dalam kamar ayahnya untuk mengecek kondisi sang Ayah.


__ADS_1


Terima masih yang udah jadi teraktif ... Saranghae ....


__ADS_2