
Keesokan hari
"Karena sudah tertunda lama, acara pernikahan ini harus segera dilangsungkan. Selama aku tidak terlihat bersama Geon saja, telah menjadi buah bibir bagi yang lain. Aku tidak mau selalu menjadi bahan gosip bagi penikmat gibah!" kekeuh Lenanda, sedikit merengek agar Geon yang sejak tadi terlihat dingin, bisa menunjukkan kasih sayangnya. Namun, nihil.
"Lenanda, Geon hanya diam saja. Mungkin, dia masih pusing karena baru pemulihan. Menurutku, kita undur saja sampai beberapa bulan lagi. Kasihan Geon," sela Amanda, ibu dari Lenanda ikut menyela pembicaraan.
Saat ini, Geon tengah berada di kediaman keluarga Lenanda untuk memenuhi undangan makan malam dari Tuan Lee dan Amanda yang merupakan orang tua dari Lenanda. Begitu sampai di sana, Geon langsung didesak dengan pembahasan tentang pernikahan oleh Lenanda dan keluarganya.
"Sayang?" Lenanda kembali berdesis kala tak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Geon.
"Geon, bagaimana keputusanmu?" Tuan Lee bersuara, mempertanyakan keputusan Geon. Sebagai ayah dari calon mempelai wanita, tentunya Tuan Lee tak mau anaknya terus digantung oleh Geon seperti ini.
"Terserah bagaimana baiknya saja." Keputusan itu tercetus begitu saja tanpa raut wajah bahagia atau keantusiasan dari Geon. Pria itu tampak tak tertarik dengan pembahasan pernikahannya sendiri. Ada sesuatu yang sedang bergelut dalam pikirannya, memikirkan seseorang yang sudah beberapa hari ini tak ditemui lagi.
'Kenapa jawabannya seperti itu? Sikapnya juga berubah drastis setelah sembuh dari amnesianya. Sebenarnya, apa yang sudah terjadi selama dia menghilang?' batin Lenanda, tentu saja dia mempertanyakan sikap Geon, sang calon suami yang menurutnya sangat aneh.
"Boleh aku berbicara empat mata dengan Geon saja?" pinta Lenanda, memperhatikan orang-orang yang berada disekelilingnya secara bergantian.
"Tentu," jawab mereka serempak. Langsung beranjak meninggalkan Lenanda dan Geon yang masih diam.
Setelah semuanya keluar dari ruangan, Lenanda mengubah posisi duduknya menempel pada Geon dan menggenggam tangan calon suaminya itu yang selama ini teramat dirindukan.
"Sayang, kamu kenapa, sih? Responmu ini tidak seperti biasanya. Kamu masih pusing efek dari sakitmu itu? Kita bisa mengundurnya kok. Tapi, tolong jangan bersikap dingin padaku …." Lenanda memohon, menggenggam erat tangan Geon seraya menitikkan air mata.
"Ah, aku tidak bermaksud seperti itu. Maaf kalau aku sudah menyakiti perasaanmu dengan diamku." Geon menatap lekat mata Lenanda yang sudah berkaca-kaca.
"Jangan seperti ini lagi ... Kita sedang membahas pernikahan. Jangan sampai membuat orang tuaku meragu padamu! Aku sangat mencintaimu, dan kau tau itu semenjak pertama aku melihatmu belasan tahun lalu. Bisakan pernikahan ini segera dilangsungkan seperti keinginanku?" Lenanda kembali memohon pada calon suaminya, sengaja duduk di atas pangkuan Geon memagutnya dengan dengan manja.
Geon bukan tidak mau menanggapi. Hanya saja, setiap kali kata pernikahan terdengar di telinga, pikirannya langsung melayang pada seorang wanita yang telah sah menjadi istrinya. Wanita yang langsung dia tinggalkan setelah kecelakaan, wanita yang selama ini yang merawatnya hingga selama sakit dan tak tahu bagaimana ia mendapatkan biaya perawatan selama di rumah sakit.
Akan tetapi, Geon mencampakkan Andah begitu saja tanpa belas kasih, bahkan tak memberi waktu meski sekedar mengucapkan terima kasih.
"Aku tidak terlalu mengerti tentang ini. Apa pun keputusan kalian, aku akan menerimanya. Jika kamu mau pernikahan kita dipercepat, maka lakukanlah. Apa pun itu demi kebahagiaanmu!" kilah Geon, ia membuang muka, menyembunyikan segala asa yang terpendam di dalam dada.
__ADS_1
Logikanya terus bertentangan dengan hatinya yang memberontak, menolak keras akan keputusan yang terus ingin menikah dengan Lenanda.
'Jangan ragukan dirimu, Geon! Memang inilah jalan hidupmu. Lenandalah yang selama ini ada di sisimu, meskipun kamu hanya menganggapnya tak lebih dari sekedar adik perempuan. Pernikahanmu bersama Andah hanyalah sebuah kesalahan. Tidak perlu merasa bersalah karena telah meninggalkannya,' batin Geon, berusaha mencari pembenaran sendiri.
Lenanda tersenyum mengaitkan kedua tangan pada leher pria yang memberikan tompangan duduk di atas pahanya ini. Ia mendekatkan wajah supaya posisi bibirnya bisa menempel pada bibir Geon. Meminta ciuman, yang membuatnya selalu lupa diri akan rasa malu.
Saat bibir mereka sedikit bersentuhan, Geon langsung bangkit membuat pagutan itu terlepas. Lenanda tercengang, meskipun ia selalu mendapat penolakan dari laki-laki yang sama.
"Ge-Geon, kenapa kamu selalu begini?" rona wajah Lenanda berubah datar.
"Maafkan aku. Tapi, aku sedikit pusing. Panggilkan saja keluargamu tadi agar bisa melanjutkan pembicara tadi. Aku lelah, ingin segera pulang dan beristirahat," resahnya sembari memijat pelipis yang terasa pusing.
"Baiklah." Lenanda memilih untuk memgerti, dia tidak mau memperpanjang masalah yang ada.
"Kalau kamu pusing, beristirahatlah di kamarku. Nanti, apa pun keputusannya, aku akan memberitahumu," saran Lenanda tetapi langsung ditolak oleh Geon.
"Tidak usah. Aku masih bisa mendengarkannya secara langsung."
"Kami sudah berdiskusi. Rencananya, pernikahan kalian akan dilangsungkan tiga minggu lagi. Selama tiga minggu itu, kita bisa mempersiapkan segala sesuatu dengan matang. Bagaimana, apa kalian merasa keberatan dengan keputusan kami?" ujar Tuan Lee, menatap Geon dan Lenanda secara bersamaan.
"Aku setuju, Pa. Geon juga akan setujui kok. Tadi, kami juga sudah berbicara," tukas Lenanda, bergelayut manja pada lengan calon suaminya.
Geon hanya mengangguk.
Setelah hari pernikahan mereka ditetapkan, Geon buru-buru pulang. Dia menatap jam di pergelangan tangan, masih ingat pada jam seperti ini, adalah waktu Andah baru pulang menari di tempat kerjanya.
"Pak, lewat jalan Cemara saja," pinta Geon pada supirnya.
"Baik, Tuan," jawab sang supir.
Ketika tiba di jalan yang sering dilewati Andah ini, perasaan Geon bergemuruh. Matanya terus memandangi jalanan sepi itu, teringat saat Andah bergelayut manja di punggungnya.
'Aku sangat merindukanmu, Sayang.'
__ADS_1
Tanpa sengaja, dari kejauhan ia dapat melihat seorang wanita yang sedang bersandar pada sebuah pohon besar.
"Andah?" lirih Geon, hatinya memaksa untuk turun, menghampiri istrinya itu. Tapi, tubuhnya terasa kaku.
"Tuan, ada seorang wanita yang sedang muntah-muntah. Apa kita perlu menolongnya?" tanya sang supir, menatap wajah Geon dari spion depan.
Sang supir sedikit heran, Geon juga melihat wanita itu, tapi tidak ada respon apa pun dari pria ini.
"Tuan?" panggilan sang supir menyadarkan Geon.
"Tidak perlu. Lanjutkan perjalanan! Aku pusing," jawab Geon.
Sementara itu, Andah masih bersandar di sebuah pohon di pinggir jalan. Mual dan rasa pusing akibat hamil muda membuatnya tidak sanggup untuk berjalan lagi. Rasa lelahnya juga ikut mendera, membuatnya merasa menderita tapi tidak boleh mengeluh.
Ketika melihat mobil lewat, Hampir saja Andah ingin menumpang, tapi kekuatannya masih tidak cukup meski hanya sekedar untuk melambaikan tangan.
"Bagaimana caraku pulang? Sudah jam sebelas malam, tidak mudah mendapatkan taksi di jalanan sepi seperti ini," gumam Andah.
"Tampaknya, aku harus kembali merepotkan Kak Yana." Andah mengeluarkan ponselnya, menghubungi sahabatnya itu untuk menjemputnya. Wanita itu baru saja kembali dari tempat kerja lamanya untuk membicarakan utang dengan Mamih Lova. Begitu urusannya selesai, Andah bergegas pulang karena dirinya memang tak lagi bekerja sebagai penari di tempat Mamih Lova.
"Andah? Ada apa?" tanya Yana, hatinya sedikit khawatir mengingat kondisi terakhir Andah.
"Kak, bisakah kamu menjemputku? A-aku tidak sanggup melanjutkan perjalanan sendirian. Tubuhku terasa sangat lemas," pintanya.
"Dari tadi aku sudah menawarkan untuk mengantarmu. Tapi, kamu malah bersikeras pulang sendiri. Kamu lagi hamil, Andah… lain kali, harus mendengar saran baik dari orang lain!" sembur Yana, dia kurang suka dengan sikap keras kepala Andah.
"Maafkan aku, Kak," ucap Andah sambil tersenyum getir. Hatinya sangat berharap, disaat-saat seperti ini, ada Ojan, sang suami yang akan menemani dia melewati masa-masa sulitnya ini.
"Kirimkan posisimu saat ini! Aku akan segera ke sana," pinta Kak Yana.
"Baik. Cepat, ya, Kak!" pinta Andah, suaranya bergetar. Dia mulai takut berada dalam kegelapan.
Rupanya, Kak Yana menyadari perubahan suara Andah. "Andah, kamu menangis?"
__ADS_1