
Layla masih enggan untuk menerima tumpangan dari Natan.
‘’Aku tunggu angkot lewat saja’’ Kata Layla sambil memanyunkan bibirnya.
‘’Yakin kamu mau nungguin angkot disini sampai pagi’’ Kata Natan, Layla pun menengok kanan dan kiri ternyata jalanan cukup sepi.
‘’Ya...kin’’ Balas Layla ragu-ragu.
‘’Gak usah keras kepala, cepat naik dari pada kamu jadi santapan preman lagi’’Ucap Natan dan akhirnya Layla langsung naik membonceng Natan.
Sepanjang perjalanan mereka hanya saling diam tanpa ada yang mau bicara, sesekali Natan berdehem untuk memberi sinyal kepada Layla.
Keesokan harinya setelah pulang dari kantor Natali menghampiri Layla.
‘’La nanti malam keluar yuk mumpung besok hari minggu’’ Natali mengajak Layla untuk mingguan.
‘’Boleh juga, sekalian lihat-lihat kota ini’’ Balas Layla.
‘’Gimana kalau kita ke mall, kita cari baju-baju supaya kita bisa berganti bukan yang itu-itu aja’’ Ucap Natali.
‘’Baik, sekali-kali beli baju buat gonta-ganti’’ Jawab Layla sambil tersenyum.
Malam harinya kedua wanita itu pergi ke mall sambil menikmati indahnya kota itu.
‘’Aduh sakit’’ Ucap seorang nenek di depan pintu mall.
__ADS_1
‘’Nenek gak apa-apa?’’ Tanya Layla sambil memapah nenek itu.
‘’Sepertinya vertigo saya kambuh’’ Balas nenek itu sambil memegangi kepalanya.
‘’Nenek sendirian?’’ Layla bertanya lagi.
‘’Sama sopir nak, dia ada di parkiran’’ Ucap nenek itu memberitahu kepada Layla.
‘’La, kamu antar nenek ini dulu, aku mau ke toilet’’ Kata Natali.
‘’Baiklah, ayo nek saya anatar ke mobil nenek’’ Ucap Layla sambil memapah nenek itu menuju ke parkiran.
‘’Mobil nenek yang mana?’’ Tanya Layla.
‘’Mobil yang warna putih itu nak’’ Jawab sang nenek sambil menunjuk ke arah mobil yang berwarna putih.
‘’Ini pak, tadi saya lihat nenek ini sedang kesakitan sambil memegang kepalanya, kata beliau vertigonya kambuh’’ Layla menjelaskan kepada sopir tersebut.
‘’Ya sudah, mbak tolong bantu masukin majikan saya kedalam mobil’’ Kata sopir itu.
Layla pun membantu nenek itu supaya duduk di dalam mobil.
‘’Terimakasih nak sudah mau menolong saya, ini ada sedikit uang sebagai tanda terimakasih saya’’ Ucap sang nenek sambil menyodorkan uang ratusan ribu.
‘’Saya ikhlas membantu nenek, jadi maaf saya tidak bisa terima pemberian nenek’’ Jawab Layla sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
‘’Tapi nak’’ Kata nenek.
‘’Nek, berbuat baik yang mengharapkan imbalan itu tidak baik, jadi saya benar-benar ikhlas bantuin nenek, semoga nenek cepat sembuh ya, kalau begitu saya pamit dulu’’ Ucap Layla dengan keramahannya sambil tersenyum.
‘’Gadis yang baik dan sopan santun’’ Gumam sang nenek dalam hatinya.
‘’Zak, kamu cari tahu nama gadis itu’’ Perintah sang nenek sambil senyum simpul yang menandakan dia punya sebuah rencana.
‘’Baik nyonya’’ Balas sang sopir.
Esok harinya Natan mengunjung neneknya karena tadi malam ia mendapat telefon dari asisten sang nenek.
‘’Dimana nenek’’ Tanya Natan kepada salah satu asisten rumah tangga dirumah itu.
‘’Nyonya sedang istirahat di kamarnya tuan muda, sepertinya beliau sakitnya kambuh lagi’’ Balas asisten tersebut.
‘’Baik saya keatas dulu’’ Sahut Natan dan langsung berjalan menuju ke kamar neneknya.
‘’Ceklek’’ Natan pun masuk kedalam kamar itu.
‘’Nenek sakit?’’ Tanya Natan sambil menghampiri wanita tua yang sedang berbaring diatas ranjang.
‘’Biasalah Nat, nenek sudah tua jadi mudah terserang penyakit’’ Jawab sang nenek sambil mencoba duduk.
‘’Jika tidak kuat jangan dipaksakan duduk nek’’ Ucap Natan.
__ADS_1
‘’Kamu tumben kesini?’’ Tanya sang nenek.
*BERSAMBUNG*