Gairah Liar Office Girl Cantik

Gairah Liar Office Girl Cantik
Dikira mau bunuh diri


__ADS_3

Neneknya Natan tersenyum melihat anak kecil itu gembira dan senang, anak yang polos tanpa beban dengan wajah ceria dan menggemaskan.


‘’Nat, papahmu kesini dia ada di ruang keluarga’’ Kata nenek sambil menoleh kepada Natan.


‘’Kapan papah pulang nek?’’ Tanya Natan.


‘’Tanya aja sendiri’’ Jawab nenek.


‘’Baiklah aku akan temui papah’’ Ucap Natan lalu berjalan ke ruang keluarga dan di ikuti oleh sang nenek sambil menggandeng Nana.


‘’Hallo pah’’ Sapa Natan yang melihat papahnya sedang duduk di sofa.


‘’Kamu sudah pulang Nat’’ Balas papah Badang.


‘’Sudah pah, kapan papah sampai?’’ Balas Natan dan balik bertanya.


‘’Tadi siang Nat, mana katanya ada anak kecil yang membuatmu betah di rumah nenek?’’ Tanya Badang kembali.


‘’Itu pah sedang bersama nenek’’ Jawab Natan.


‘’Vexsana’’ Ucap Badang lirih ketika melihat anak kecil itu sambil matanya berkaca-kaca.

__ADS_1


‘’Kenapa pah? Ada apa?’’ Tanya Natan yang melihat papahnya bersedih.


‘’Kenapa dia bisa bersama kamu?’’ Balas Badang bertanya.


‘’Maksud papah?’’ Natan bingung, sepertinya papah mengenal anak kecil itu.


‘’Bawa dia pergi dari sini! kembalikan dia Nat!’’ Bentak Badang yang membuat Nana ketakutan dan menangis.


‘’Nek bawa Nana ke kamar’’ Pinta Natan sambil menoleh.


Entah kenapa melihat Nana nangis membuat dada Natan terasa sesak seperti ada hubungan batin dengan anak kecil itu.


‘’Papah kenapa? Sampai membentak segala, ada apa pah? Anak kecil itu tidak bersalah’’ Kata Natan.


Seakan di sambar petir, Natan merasa dunianya berhenti seketika, ia teringat dengan ibunya yang dulu telah meninggalkannya.


‘’Mungkin hanya mirip saja pah, bukan berarti Nana anaknya ibu’’ Kata Natan yang masih belum percaya.


‘’Papah dapat informasi kalau ibumu melahirkan anak tujuh tahun yang lalu, mungkin seusia dengan anak itu’’ Balas Badang.


‘’Maksud papah Nana adalah anak ibu, yang telah meninggalkan kita itu?’’ Tanya Natan.

__ADS_1


Natan pergi dengan sepeda motornya entah mau kemana, ia pergi tanpa tujuan.


Sedangkan Layla sedang ke warung membeli pembalut karena dia sedang datang bulan, Natan berhenti di jembatan.


‘’Argh...kenapa jadi seperti ini!’’ Teriak Natan di tepi jembatan.


Natan merasa hidupnya hancur mengingat ibunya dulu telah pergi dengan laki-laki lain tanpa peduli dengan anak dan suaminya, setelah Vexsana pergi dan tak ada kabar lalu Badang menikah lagi dengan Lesley yang sekarang menjadi ibu sambungnya Natan.


‘’Tuhan kenapa kamu tidak adil, apa aku tidak pantas untuk mendapat kasih sayang dari ibuku’’ Teriak Natan dengan keluhan batinnya.


Setelah pulang dari warung Layla melihat seseorang di tepi jembatan.


‘’Siapa dia? kenapa hujan-hujan begini ada di dekat jembatan, jangan-jangan?’’ Ucap Layla lirih dan khawatir barang kali orang itu mau bunuh diri.


Layla mendekati orang itu sambil hujan-hujanan, ‘’mas jangan bunuh diri? Dosa loh mas, semua masalah pasti ada jalan keluarnya tapi bukan dengan car seperti ini mas’’ Kata Layla berusaha mencegah lelaki itu untuk bunuh diri.


Pemuda itu menoleh melihat Layla yang sudah basah kuyup terkena air hujan.


‘’Natan’’ Ucap Layla yang melihat wajah pemuda itu.


‘’Apa kamu sudah gila? Kenapa kamu tega mau bunuh diri? Apa kamu gak kasihan sama orang tuamu dan Nana hah?’’ Kata Layla memberi pencerahan kepada Natan.

__ADS_1


Natan berjalan lagi ke tepi jembatan, Layla langsung menarik tangan Natan membuat pemuda itu jatuh diatas tubuh Layla dan ‘’cup’’ bibir mereka bertemu.


*BERSAMBUNG*


__ADS_2