
Mereka masih lahap dengan makanan, namun Natan hanya diam tanpa bersuara, Melisa sesekali curi pandang kepada pemuda itu.
‘’Rencanaku bulan depan acara pertunangan mereka, apa kamu setuju?’’ Kata Badang dan bertanya kepada Zilong.
‘’Aku ngikut aja’’ Jawab Zilong.
‘’Sebelumnya aku minta maaf, aku belum siap dengan acara pertunangan ini, sekali lagi aku minta maaf. Permisi’’ Kata Natan mengutarakan isi hatinya dan langsung pamit pergi.
‘’Nat, tunggu!’’ Kata Badang namun Natan terus melangkah keluar.
Zilong memberikan isyarat kepada putrinya untuk mengejar pemuda itu. Melisa pun mengejar Natan yang sudah berjalan lebih dulu, lelaki itu duduk di taman kecil yang ada di restoran tersebut.
‘’Kenapa kamu pergi?’’ Tanya Melisa.
‘’Kenapa kamu kesini mengikutiku?’’ Jawab Natan dengan pertanyaan lagi.
‘’Kalau kamu emang belum siap, kita jalan aja dulu supaya kita saling mengenal’’ Kata Melisa sambil duduk di sampingnya Natan.
‘’Maaf, aku membuatmu kecewa’’ Balas Natan.
‘’Aku ingin mengenalmu lebih jauh lagi Nat’’ Kata Melisa sambil menoleh.
__ADS_1
‘’Tapi aku gak bisa’’ Balas Natan cuek.
‘’Atau kamu sudah punya pacar’’ Kata Melisa penuh selidik.
‘’Bisa dibilang begitu, makanya sebelum kita lebih jauh sebaiknya kita berteman saja’’ Ucap Natan menegaskan kepada Melisa.
(Aku harus cari tau siapa wanita itu. Natan harus menjadi milikku) Gumam Melisa penasaran dengan wanita yang di cintai oleh Natan.
Sedangkan Layla dan Natali sudah bersiap-siap untuk tidur, kedua wanita itu berbaring dengan selimut yang menutupi sebagian tubuh mereka.
‘’Apa kamu sudah jadian dengan dia?’’ Natali bertanya ketika Layla hendak memejamkan matanya.
‘’Maksud kamu?’’ Layla balik bertanya.
‘’Oh itu, belum sih, kita masih berteman saja’’ Jawab Layla.
‘’Apa kamu gak mau cari laki-laki yang tajir seperti pak Martis?’’ Tanya Natali lagi sambil membalikkan badan supaya berhadapan dengan sahabatnya itu.
‘’Kaya atau miskin sama saja yang terpenting setia dan jujur. Kaya tapi suka selingkuh buat apa?’’ Jawab Layla sambil menatap sahabatnya.
‘’Iya juga sih, tapi kalau seperti Natan yang hanya sebagai OB apa gajiannya cukup untuk keperluan kita’’ Sahut Natali.
__ADS_1
‘’Cukup atau tidak cukup itu tergantung orangnya, banyak di luar sana orang kaya dan punya jabatan tapi masih aja korupsi’’ Balas Layla.
‘’Cukup dan tidaknya itu bukan dinilai dari nominal uangnya, tapi rasa bersyukur kita kepada sang pencipta karena Dialah yang maha kaya dan sang pemberi rizqi’’ Ucap Layla sambil tersenyum.
‘’Kamu kayak ustadzah aja sih, pake ceramah segala’’ Balas Natali.
‘’Aku ini bukan ustadzah tau, sholat aja kalau kepengin’’ Jawab Layla.
‘’Ngomong-ngomong tentang Natan, OB kok selalu bersih ya gak seperti kita yang terkadang terkena kotoran dan debu, dan aku belum pernah melihat dia membersihkan toilet kamar mandi’’ Ucap Natali.
‘’Dia kan tugasnya di ruangan CEO’’ Balas Layla.
‘’Bukannya di ruangan CEO itu tugas kamu La?’’ Tanya Natali.
‘’Benar memang aku tugas di sana tapi dia juga selalu ada di sana bahkan sering duduk bareng sama pak Martis’’ Balas Layla.
‘’Tunggu-tunggu, apa katamu? Dia sering duduk bareng pak Martis? Ada yang aneh’’ Ucap Natali penasaran dan mulai curiga.
‘’Aneh, maksud kamu apa?’’ Balas Layla bertanya.
‘’Masa seorang OB duduk bareng sama seorang CEO kan aneh La. Biasanya kan OB mana berani duduk sama atasannya.’’ Kata Natali.
__ADS_1
Natali mulai curiga dan penasaran namun berbeda dengan Layla yang hanya cuek saja tanpa ingin tau.
*BERSAMBUNG*