
Layla terisak didalam kamar dengan kesedihan yang dialaminya, ia merindukan kedua orang tuanya.
‘’Seandainya ayah dan ibu masih hidup aku tak akan seperti ini, Aku rindu kalian’’ Gumam Layla di sela-sela tangisnya untuk menumpahkan segala derita yang selalu dialaminya.
Beberapa menit kemudian Layla teringat harus memasak untuk bibi dan sepupunya, ia segera menghapus air matanya lalu bergegas menuju ke dapur dan menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasaknya.
Tak butuh lama untuk Layla memasak, makanan pun sudah siap untuk dihidangkan, setelah menata makanan di meja makan ia memanggil bibi dan sepupunya.
Layla makan di sudut dapur sedangkan bibi dan sepupunya di meja makan. Setelah makan Layla kembali masuk kedalam kamarnya, kamar Layla berada di belakang dekat dengan dapur, kamar yang kecil berukuran dua kali dua meter.
Setelah mandi Layla merebahkan tubuhnya diatas kasur lipat, ia menatap langit-langit kamar merenungi nasib hidupnya yang sengsara.
‘’Kenapa kalian ninggalin Layla sendiri, apa ayah dan ibu tau bagaimana hidup Layla setelah kalian pergi, Layla hidup susah ayah, ibu’’ Gumam Layla dalam hati sambil terus menatap langit-langit kamarnya.
Sedangkan di tempat lain Natan masuk kedalam kamarnya. Baru saja hendak merebahkan tubuhnya tiba-tiba terdengar suara ketokan pintu.
‘’Tok..tok..tok..Nat, ini papah, aku masuk yah’’ Kata Badang ayahnya Natan.
__ADS_1
‘’Masuk aja pah’’ Jawab Natan dari dalam kamarnya.
Sang ayah membuka pintu dan masuk ke dalam kamar itu, kemudian menutup pintu lagi lalu duduk di tepi ranjang di samping anaknya.
‘’Ada apa pah?’’ Tanya Natan.
‘’Papa mau bicara hal penting sama kamu’’ Ucap Badang kepada anaknya.
‘’To the point aja pah gak usah berbelit-belit’’ Kata Natan cuek.
‘’Tapi aku masih ada proyek lain pah’’ Jawab Natan.
‘’Proyek kamu biar clint aja yang pegang dan kamu pegang proyek papah. Ini proyek besar papah gak mau terjadi sesuatu dalam pelaksanaannya’’ Badang menjelaskan kepada anaknya supaya serius dalam proyek itu.
‘’Baiklah akan Nat usahakan, kapan papah berangkat ke Bogor?’’ Ucap Natan dan balik bertanya.
‘’Besok papa akan berangkat ke Bogor, semua berkas ada di ruangan papah, kamu ambil saja sama filenya nanti akan papa kirim ke email kamu’’ Kata sang ayah.
__ADS_1
‘’Baiklah’’ Hanya itu yang terucap dari mulutnya Natan.
‘’Makasih Nat, kamu mau membantu papah’’ Jawab Badang sambiol tersenyum.
‘’Ya pah’’ Kata Natan singkat.
Badang bangkit dan keluar dari kamar anaknya itu lalu masuk kedalam kamarnya yang sudah ditunggu oleh sang istri.
‘’Bagaimana pah? Apa Natan mau menggantikan papah?’’ Tanya Lesley yang penasaran.
‘’Iya dia mau mah’’ Jawab Badang sambil membelai rambut istrinya.
‘’Syukurlah kalau dia mau pah, tapi mamah ga bisa nemenin papah ke bogor gak papa kan?’’ Kata sang istri sambil mengelus dada suaminya.
‘’Iya gak papa, mamah juga ada urusan penting disini, papah janji untuk berusaha menyelesaikan masalah disana dengan cepat, papah gak tega kalau Natan harus mengurus banyak proyek’’ Kata Badang yang merasa kasihan kepada anaknya.
*BERSAMBUNG*
__ADS_1