Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 36


__ADS_3

Kejant*nan Foster berdenyut-denyut. Ia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ia menginginkan Mina. Menginginkan setiap jengkal dari tubuh gadis itu menjadi miliknya. Mina yang lugu, cantik, dan sekarang ini Foster bisa merasakan gadis itu pun sedang mode ingin disentuh. Ia bisa merasakan jantung gadisnya berdegup-degup kencang.


Pria itu mencondongkan tubuh lalu mencium bibir Mina dengan lembut. Memagutnya sesuka hati, mencecap seluruh rasa manis dari bibir ranum itu. Gairah mengalir di sekujur tubuhnya ketika Mina menanggapi. Jantung Foster ikut berdetak kencang tanpa dia minta.


Foster memperdalam ciumannya, menyelipkan lidah ke mulut Mina. Ia mendengar erangan nikmat yang lembut dari gadis itu, yang sungguh membuatnya hilang kendali. Ia harus memiliki Mina hari ini, tidak ada yang bisa menghentikannya. Selagi Mina tidak dalam keadaan yang ingin menolak keinginannya, Foster akan menggunakan kesempatan ini. Menunjukkan bagaimana perkasanya dia.


Foster menggeser bobotnya sampai ia menindih Mina di atas sofa. Tubuh lembut Mina terasa lunak di wajahnya. Pay udara gadis itu menekan dadanya. Foster mengarahkan ciuman ke telinga Mina, dan dengan lembut menggigit cup ing telinga gadis itu. Ia tersenyum ketika Mina kembali mengerang.


"Ternyata kau juga menginginkanku, nona kecil." gumam Foster menghentikan kegiatannya sebentar. Mina menelan salivanya. Ia mau bicara tapi telunjuk Foster menyentuh bibirnya, menghentikannya.


"Ssstt ... Aku tahu kau mau bilang tidak. Tapi tubuhmu tidak bisa menolak. Dia sedang dalam mode ingin dibelai. Sekarang biarkan aku menghangatkannya." gumam pria itu serak.


Foster menyusuri leher Mina dengan  ciuman panas, memberikan jilatan dengan gerakan memutar dibagian situ. Kemudian menyingkap t-shirt merah Mina dan menyingkirkan bra berwarna senada hingga tubuh bagian atas gadis itu polos tanpa sehelai benang pun.


Pria itu menatap puncak pay udara Mina yang sudah tegak dan berwarna merah muda. Pucuknya sudah keras. Ia lalu memandangi reaksi gadis itu yang malu-malu. Seakan baru pertama kali bagian itu dilihat oleh laki-laki. Foster tersenyum tipis, ia sangat suka malu-malu kucing gadis itu. Menambah rasa percaya dirinya untuk permainan selanjutnya.


Lalu Foster membelai lembut puncak dada Mina yang sudah tegang di antara jempol dan telunjuknya. Foster memelintir pucuknya dengan lihai hingga satu desa h an lolos dari mulut Mina.


"Oh ..." mata Mina membesar karena gairah. Foster mempermainkan dirinya dengan sangat amat menggoda dan tubuhnya menikmati. Ia tidak memungkirinya. Gerakan Foster memilin-milin bagian itu dengan sangat berpengalaman membuat Mina makin menggila.


"Kau menyukainya?"


Mina tidak menjawab. Ia malu. Tapi Foster pasti sudah tahu jawabannya hanya dengan melihat ekspresi wajah gadis itu.


Tanpa aba-aba Foster mengu l um puncak dada Mina, menghisapnya sampai gadis itu menggelinjang dibawahnya. Gairah Foster mengalir deras ditubuhnya, mendesaknya untuk tidak berhenti. Ia sangat menikmati tubuh elok Mina.

__ADS_1


Foster menggerakkan tangannya ke bawah dengan perlahan sambil membelai setiap titik yang ia lewati. Berhenti sebentar di pusar Mina, bermain di bagian situ, hingga tangannya yang kekar menyusup masuk ke dalam jins hitam Mina, lalu menyentuh titik sensitif gadis itu di dalam sana. Membelainya dengan lembut.


Mina terkesiap. Kembali merasakan kenikmatan sentuhan kakak iparnya seperti sebelum-sebelumnya. Gadis itu betul-betul sudah diluar kendali hingga membiarkan Foster melakukan apapun yang laki-laki itu mau pada tubuhnya. Dirinya sudah dipenuhi napsu yang sulit ia kendalikan. Apa lagi lawan mainnya yang begitu tampan dan berpengalaman.


"Kau sudah sangat basah di bawah sini, manis." gumam Foster dengan raut wajah yang sangat bergairah. Mina menggigit bibirnya malu.


"Kita pindah ke kamar." kemudian dengan santainya Foster menggendong tubuh Mina, membawanya masuk ke dalam kamar laki-laki itu.


Kamar bernuansa abu-abu dan biru tua. Warna pilihan Foster yang menurut pria itu menenangkan.  Sandaran kepala tempat tidurnya dekoratif dengan banyak elemen putih, membantu memantulkan cahaya di sekitar ruangan yang memiliki dinding abu-abu dan biru tua tersebut. 


Foster mendudukan Mina di pinggir tempat tidur, lalu membantu gadis itu melucuti jinsnya. Meninggalkan celana da l am berwarna merah, senada dengan bra-nya tadi.


"Kita lakukan pemanasan dulu, sebelum masuk ke menu utama." gumam Foster menatap Mina intens.


Lalu sebelah tangan pria itu dia jalarkan ke paha dalam Mina. Mina menegang, gadis itu dilanda gugup dengan jantung berdebar-debar cepat.


"Tampaknya kau sangat malu, padahal aku sudah pernah melihat dan menyentuh bagian ini." ucap Foster lagi. Pria itu berlutut di depan Mina yang meng*ngkang lebar dihadapannya. Foster menjilat bibir tebalnya yang terasa kering karena melihat pemandangan menggiurkan ini.


"Relaks, kau akan suka," kata Foster pelan dan mulai menciumi paha Mina.


Jilatan lidah pada paha bagian dalamnya membuat Mina merintih, kedua tangannya yang memegangi lututnya yang bergetar. Kemudian celana dalmnya dilucuti oleh sang kakak ipar. Dengan sigap Mina merapatkan kedua kakinya. Biar bagaimanapun dia tetap malu.


"Tidak perlu malu manis, aku sudah pernah lihat sebelumnya." gumam Foster dengan kedua tangannya memegangi paha Mina, membantu gadis itu membuka lebar kakinya agar ia bisa melihat ke bagian dalam paha, pada titik paling sensitif Mina yang sudah basah. Foster puas.


"Kau sangat cantik," pujinya, kali ini menatap wajah Mina.

__ADS_1


"Ahh ..." Mina spontan mende sah begitu merasakan colekan tiba-tiba pada kewa n itaannya. Lalu telunjuk Foster keluar dari dalam lubang sempit itu, dan diganti dengan mengelus-elus lembut va g ina Mina.


"Ahh ..." gadis itu mende sah untuk yang kedua kalinya.


Dan ketika tangan Foster diganti dengan lidahnya menyentuh bagian itu, Mina terkesiap kaget. Rasanya luar biasa enak.


"Ouch ... kak ..." rintih Mina refleks menekan kuat kepala Foster.


Lidah pria itu makin cepat menusuk-nusuk bagian intim Mina, lalu menyesapnya kuat-kuat. Pria itu mengulanginya berkali-kali, bahkan menggigit-gigit klit oris Mina hingga gadis itu mengerang keras, tidak kuat lagi menahan segala kenikmatan yang Foster berikan padanya.


"Sshh ..." Mina mengangkat pinggulnya. Tubuhnya rebah ke tempat tidur, tangannya meremas erat spray ranjang.


"Aahhhh ..." seketika cairan kental keluar dari milik Mina.


Di sela gadis itu menikmati pelepasannya, Foster berdiri dan mulai melucuti seluruh pakaian yang masih ia kenakan. Matanya tak lepas dari Mina. Kini keduanya sama-sama tel a njang bulat. Foster naik ke atas kasur, miliknya yang perkasa sudah tidak sabar untuk memasuki gadis itu.


"Boleh?" Walau miliknya sudah sangat gatal untuk segera memasuki lubang Mina, pria itu tetap bertanya dulu.


Mina menatap kakak iparnya, pria itu memegangi miliknya yang sudah siap, tinggal menunggu jawaban Mina.


Benda itu sangat besar, batin Mina.


"Ta ... tapi bisa masukkan kak?" gadis itu ragu-ragu dan sedikit takut.


Foster terkekeh.

__ADS_1


"Ayo kita coba,"


__ADS_2