Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 71


__ADS_3

Meski mendapatkan masalah tidak menyenangkan yang di sebabkan oleh sih penjahat bercadar itu, Foster dan Mina tetap menyelesaikan bulan madu mereka dengan bahagia. Bagi pasangan baru tersebut, ini adalah bulan madu pertama seumur hidup mereka, jadi mereka memutuskan untuk melupakan sejenak apa yang telah mereka alami.


Dan akhirnya delapan hari berlalu sudah. Kapal pesiar yang mereka naiki telak berlayar kembali ke Kota tempat tinggal mereka dan sampai dengan sempurna. Mina merentangkan tangannya lebar-lebar  merasakan angin yang bertiup menerpa wajahnya.


"Bagaimana perasaanmu? Senang?" Foster berbisik di telinganya, sambil memeluk sang istri dari belakang. Mina mengangguk.


Jelaslah dia senang walau ada masalah sedikit di hari pertama mereka berbulan madu. Tapi semuanya seakan terlupakan karena suami tampannya ini sangat memanjakannya.


"Aku masih ingin liburan denganmu. Menghabiskan waktu berdua, saling menggoda, saling menyentuh dan banyak lagi. Aku ingin melakukan semuanya berdua denganmu. Rasanya kalau bersamamu waktu berputar sangat cepat. Aku benci itu." Foster mengusel-usel dagunya di ceruk leher Mina.


Wanita itu tertawa pelan, menyentuh rambut suaminya dan mengacaknya pelan. Foster mulai manja padanya. Dan kalau mode manja pria itu datang, Mina jadi geli sendiri. Tapi ia senang karena Foster hanya mengeluarkan sisi lain dari dirinya kepadanya. Hanya pada dia.


Orang-orang yang tidak mengenal baik Foster pasti akan berpikir kalau pria itu adalah jenis pebisnis dingin yang kejam dan tak tersentuh. Tapi di mata Mina, suaminya adalah sosok yang sangat lembut, pengertian dan sangat baik hati. Tapi juga akan berubah sangat kejam pada mereka yang menyakiti orang-orang terdekatnya.


Setelah menjalani hubungan cukup lama dengan lelaki itu sampai menjadi istrinya, Mina semakin memahami Foster. Cintanya yang tumbuh pada suaminya kian hari kian besar. Pria itu berhasil merebut hatinya. Berhasil membuatnya jatuh cinta. Walau pendekatannya pertama kali dilakukan dengan cara yang tidak benar.


"Setelah ini mau langsung pulang rumah atau mampir makan di restoran?" tanya Foster lagi. Sebenarnya ia sudah menyiapkan kejutan untuk Mina, ia ingin langsung membawa wanita itu pulang tapi ingin memberi sang istri pilihan.


"Pulang aja. Aku pengen istrihat seharian. Masih capek."


"Capek kenapa?" Foster sengaja bertanya. Jelas dia tahu arti capek yang dimaksud istrinya.

__ADS_1


"Udah tahu masih aja pura-pura. Pokoknya seharian ini aku mau istirahat. Kak Foster nggak boleh gangguin apapun alasannya, titik." Mina harus mempertegas dengan setegas-tegasnya karena ia tahu suaminya ini suka sekali ingkar janji kalau masalah menahan napsu.


Foster hanya tertawa. Ia juga sudah kelelahan beberapa hari ini. Karena tiada hari yang mereka lewati untuk bermain bersama di atas ranjang. Yang anehnya, pasangan itu sama sekali tidak merasa bosan. Gimana mau bosan coba kalau rasanya membuat mereka ketagihan. Hanya saja badan Mina sudah sampai di ambang batas dirinya butuh banyak istirahat. Apalagi kondisinya masih dalam masa hamil muda. Foster pun tahu itu. Makanya lelaki itu sangat berhati-hati ketika berhubungan badan dengan istrinya. Malah Mina yang kebanyakan bermain kasar. Tapi Foster suka, apalagi dari hari ke hari istrinya tambah nakal dan pintar saat melayaninya. Ada kebahagiaan tersendiri dalam hati Foster.


"Jadi kita langsung pulang sekarang?


"Mm,"


"Baiklah. Aku akan menelpon sopir mengambil barang kita. Setelah orang-orang itu berkurang baru kita turun."


Pengantin baru itu menunggu sampai kapal sepi baru turun. Foster terus membimbing istrinya selama perjalanan dari atas kapal menuju mobil. Sopir mereka yang tadi mengambil barang-barang mereka setia menunggu di samping mobil.


"Kita pergi sekarang bos?"


"Ya. Kau tahu akan mengantar kemana bukan?" Foster seperti memberi kode pada sopirnya lewat kaca spion.


"Kita mau ke rumah kan?" Mina bertanya karena merasa aneh dengan  interaksi suaminya dan sih sopir.


"Iya istriku." ucap Foster tersenyum lebar di sertai dengan cubitan kecil di pipi istrinya. Sopir pria itu ikut tersenyum. Jarang-jarang ia lihat bos dinginnya itu bersikap lembut pada orang. Ternyata memang benar, sedingin-dinginnya seseorang, tetap akan berubah drastis pada orang yang mereka cintai.


Sepanjang perjalanan Mina terus memandang keluar jalan. Dahinya mengernyit. Mau kemana ini? Jalannya beda, bukan jalan mau pulang ke rumah mereka. Wanita itu menatap suaminya curiga.

__ADS_1


Sebelum Mina sempat membuka mulut, Mobil mewah berwarna hitam itu mulai memasuki sebuah pekarangan mansion mewah yang terletak cukup jauh dari dalam kota. Lokasinya sangat tenang dan rindang.


Mina mengerjab-ngerjabkan matanya melihat betapa mewah dan besarnya mansion itu. Ia menatap Foster.


"Kak Foster ini ...?" ia ingat Foster bilang ingin membeli rumah baru untuk keluarga kecil mereka. Foster tersenyum.


"Rumah baru kita. Hadiahku untukmu. Aku membelinya atas namamu."


"Sebesar ini?" mulut Mina membulat seakan tidak percaya suaminya akan menghabiskan banyak uang untuk dirinya. Ia tahu harga rumah ini tidak main-main.


"Kenapa, tidak suka?" Wanita itu menggeleng. Tentu ia suka dan sangat mengagumi bangunan yang ada di depannya ini. Tapi, mendapatkannya dengan segampang ini betul-betul sulit di percaya. Keluarga Mina memang kaya, tapi dari dulu dia selalu hidup sederhana. Makanya tiba-tiba diberikan rumah, ia senang bukan main dan masih tidak bisa berkata-kata.


"Aku suka!" serunya lalu memeluk Foster kuat-kuat dan menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi. Siapa yang tidak suka hadiah coba. Foster ikut bahagia. Tidak sia-sia ia meminta bantuan Matthew dan Iren mencarikan rumah baru sebagai hadiah untuk istrinya.


Mina masih sibuk melihat-lihat dari dalam mobil, seraya masuk ke parkiran garasi. Ia tampak bersemangat. Foster mengelus surai rambut istrinya dan mengajaknya turun dari mobil. Pasangan itu saling bergandengan memasuki rumah. Bahkan rumah itu tersedia lift. Karena mereka masuk dari garasi bawah tanah, maka daripada berputar mengelilingi, lebih baik naik lift. Lebih cepat dan tidak bikin capek.


Sepanjang hari itu Mina ditemani Foster mengelilingi rumah baru. Mina senang bukan main. Ternyata ada pembantu juga. Mereka memperkenalkan diri dan mulai hari ini akan mulai bekerja di rumah tersebut. Mina bersikap ramah ke mereka semua. Ia ingin menjadi majikan yang baik. Ia tahu rumah sebesar ini memang butuh pembantu. Tidak mungkin kan dia berani tinggal sendiri saat suaminya pergi bekerja.


"Ayo istirahat sebentar di taman belakang." ujar Foster menarik lembut tangan Mina dan berjalan ke arah taman.


Semua tersedia di rumah itu. Mina merasa hidupnya jadi lebih enak setelah bersama Foster. Pria itu terus memanjakannya. Bahkan terlalu memanjakan dia. Tapi Mina suka. Ia senang.

__ADS_1


__ADS_2