Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 68


__ADS_3

Pagi harinya, Foster tersenyum melihat istrinya meringkuk dalam pelukannya. Wajahnya nampak begitu damai, membuat tangan Foster jadi gatal untuk mencubit pipi tembem itu. Tangan Mina memeluk tubuh suaminya, lagi-lagi Foster tersenyum, tingkah sang istri persis seperti anak kecil yang sedang tidur. Foster makin mempererat pelukannya.


Dia masih ingin berlama-lama menatap istrinya yang cantik, yang terus membuatnya mabuk cinta. Sungguh, Foster selalu merasa mabuk jika berada di dekat perempuan yang dia cintai ini. Kemudian lelaki itu merasakan ada pergerakan dari Mina. Kelopak matanya perlahan membuka.


"Good morning, sweety." pria itu mengecup pelipis Mina, salah satu bagian di wajah wanita itu yang selalu senang ia cium. Mata Mina mengerjab-ngerjab, lalu ia sadar mereka tidur di hotel. Foster bahkan tidak sempat mandi karena semalam dirinya sudah terlalu kelelahan.


"Kamu sudah siap hari pergi ini?" Mina menatap pria itu tidak mengerti.


"Pergi kemana?"


"Bulan madu. Kamu lupa? Aku sudah menyiapkan kapal pesiar khusus untuk berbulan madu denganmu."


Ah benar. Kemarin lelaki itu sudah bilang akan berbulan madu dengannya. Mereka berdua cuti seminggu, tentu untuk menghabiskan waktu berdua, demi kebahagiaan mereka.


"Ayo mandi." Foster berdiri dari kasur. Tangannya terulur membantu Mina berdiri.


"Kak Foster mandi duluan saja." ujar Mina. Ia yakin kalau mereka mandi bersama, bisa sampai berjam-jam nanti. Karena pasti bukan hanya mandi saja. Foster akan meminta lebih. Dan Mina belum ada keinginan melayani suaminya pagi ini. Nanti juga lelaki itu akan menang banyak saat bulan madu.


"Kamu yakin nggak mau mandi bersama?" Foster mengerling nakal padanya. Mina mencebik.


"Seratus persen yakin. Kak Foster mandi saja sana, aku lagi simpan tenaga aku buat bukan madu nanti." Foster terkekeh. Alasan yang pas.


Baiklah kalau begitu, ia tahan saja.


"Kalau begitu, persiapkan dirimu baik-baik. Kau yang akan memimpin nanti." balas Foster tak lupa mengedipkan mata ke istrinya. Mina tertawa kecil. Dasar laki-laki itu. Sulit sekali membuatnya puasa biar hanya tiga hari atau seminggu, maunya gempur terus.

__ADS_1


Mina lalu membuka lemari dan memilah-milah baju untuk suaminya. Semenjak resmi menjadi istri pria itu, Mina sudah mulai melakukan tanggung jawabnya. Termasuk menyiapkan pakaian buat suaminya. Ia senang dengan pekerjaan itu, apalagi kak Foster selalu senang dengan apa saja pakaian yang dia pilih.


"Beres," ucap wanita selesai menyiapkan baju untuk dikenakan Foster. Sesaat kemudian ponselnya bergetar. Mina melihat siapa yang memanggil. Itu Dira.


"Iya Dir?" ia mengangkat telpon.


"Astaga Mina, aku masih nggak percaya kamu udah nikah. Sudah gitu suami kamu tampan banget lagi. Paul masih jauh. Eh, bukannya pria itu adalah kakak ipar kamu yang waktu itu jemput kamu dikantor ya? Semalam aku merasa wajahnya sangat familiar, terus aku tiba-tiba ingat pertama kali liat dia waktu dikampus, kata Ester dia bos di perusahaan kalian magang. Yang benar yang mana sih?"


Dira langsung memberinya pertanyaan bertubi-tubi begitu dirinya mengangkat telpon. Mina sampai lelah sendiri mendengar gadis itu. Selama ini ia memang tidak pernah cerita tentang hubungannya dengan kak Foster pada mereka. Makhlum mereka heran dan kaget begitu mendengar dia tiba-tiba menikah.


"Ceritanya panjang Dira. Nanti aku cerita pas pulang berbulan madu."


"Oh iya, aku salah waktu ya nelpon kamu? Apa aku mengganggu? Apa kamu lagi bersama suami kamu sekarang?" Dira malah terdengar antusias sekali dari seberang.


"Suami aku lagi ...


Teriakan Foster kedengaran sampai ditelinga Dira. Mina merutuk dalam hati, ya ampun, toa sekali.


"Astaga Min, kayaknya aku gangguin waktu berdua kalian. Kalau begitu aku tutup dulu ya. Nanti ngobrol-ngobrol lagi kalau kalian sudah pulang dari bulan madu. Bye." setelah mengatakan kalimat tersebut, telpon terputus. Mina menghela napas, lalu menarik handuk dari dalam lemari dan memberikannya ke Foster dari luar kamar mandi.


"Ini handuknya kak," ucapnya dari luar.


"Makasih, istriku."


Mina hanya menggeleng-geleng kepala. Kemudian kembali memilah-milah baju untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


______________


Mobil yang menjemput mereka langsung membawa pengantin baru itu di kapal pesiar. Kapal pesiar besar yang mampu membuat mulut Mina membuka lebar hanya dengan melihatnya. Makhlum, ini pertama kalinya ia naik kapal. Biasanya ia hanya melihat benda-benda laut seperti itu di film-film atau foto. Dia juga masih bingung sampai sekarang kenapa dirinya tidak pernah naik kapal. Padahal kalau mau bilang keluarganya punya uang untuk bersenang-senang dengan menyewa kapal pesiar seperti ini. Mungkin karena keluarganya tidak punya hobi naik kapal.


Pasangan baru tersebut diantarkan ke kamar mereka yang berada di dek paling atas. Mina tercengang.


"Di kapal ada lift?" ia bertanya dengan wajah takjubnya menatap Foster. Pasalnya mereka diantarkan naik ke kamar mereka yang berada di dek paling atas dengan menggunakan lift. Bahkan semuanya serba dilayani.


"Udah, nikmati saja." Foster berbisik pelan ditelinga Mina.


Begitu sampai dikamar mereka, Mina kembali melongo. Kamar itu serba mewah, barang furniture yang ada dikamar tersebut semuanya mengkilat seperti baru. Benar-benar mewah.


"Tuan dan nyonya, silahkan menikmati waktu kalian. Kalau butuh sesuatu langsung telpon saja dengan telpon yang tersedia di sana." kata pelayan kapal yang melayani mereka. Tangannya menunjuk ke telpon Yan berada di atas nakas samping tempat tidur.


"Baik, terimakasih." balas Mina ramah. Pelayan itu lalu pamit undur diri. Detik itu juga Mina langsung melompat ke tempat tidur yang sangat empuk tersebut. Sungguh, berbulan-bulan pun ia tinggal di sini, ia yakin tidak akan pernah bosan. Foster melangkah mendekati kasur selesai mengunci pintu kamar. Ia tersenyum senang melihat istrinya yang nampak bahagia.


"Gimana, kamu suka?" Mina mengangguk.


"Suka sekali." serunya.


Wanita itu berjalan menuju pintu yang langsung terhubung dengan balkon pribadi dan berhadapan langsung dengan lautan lepas. Tak lama kemudian mereka merasakan kapal tersebut mulai bergerak.


Mata Mina terpejam sambil menghirup udara yang perlahan mulai kencang menerpa wajah dan tubuhnya, kapal mulai berlayar. Mina merasakan sepasang tangan melingkar diperutnya, punggungnya terasa hangat bertemu dengan dada suaminya.


"Aku senang kamu bahagia kita bulan madu di kapal pesiar." bisik Foster ditelinga Mina. Wanita itu tersenyum menyentuh lembut tangan suaminya yang setia melingkari perutnya.

__ADS_1


"Ayo tidur dulu. Istirahat yang banyak karena nanti malam kita akan praktek lagi." Foster berbisik lagi. Mina tersipu, tentu ia tahu kemana arah pembicaraan suaminya.


__ADS_2