Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 66


__ADS_3

Pernikahan Foster dan Mina sudah tersebar di seluruh kantor. Foster memang sengaja. Ia tahu orang-orang dikantor mungkin merasa aneh karena banyak dari mereka yang mengetahui dirinya sudah menikah. Tapi Foster bilang pernikahan awalnya tidak pernah ada. Jadi orang-orang itu percaya saja, apalagi mereka tidak pernah melihat istrinya.


Pada waktu mengetahui Mina lah yang akan menjadi pengantin bos mereka, seluruh kantor langsung heboh. Mereka yang merasa tidak pernah bersikap ramah pada Mina sebelumnya kini menyesali sikap mereka.


"Kalau saja aku tahu sih anak magang itu adalah calon istri sih bos, dari awal aku sudah baik-baikin dia."


"Aku masih tidak menyangka istri bos  adalah anak magang itu.


"Mulai sekarang kita harus bersikap baik padanya.


"Benar, pantesan aku pernah melihat dia turun dari mobil pak Foster sekali. Aku pikir itu hanya kebetulan. Ternyata mereka memang punya hubungan."


"Kasihan sih Dian dong, udah ngejar-ngejar dari lama tapi malah di tinggal nikah. Hahah."


"Betul, saingannya satu kantor lagi. Udah gitu lebih cantik dan masih muda pula. "


Orang-orang yang asyik bergosip tersebut tidak sadar kalau Dian sedang mendengar pembicaraan mereka dari tempatnya berdiri. Wanita itu mengepal kedua tangannya kuat-kuat.


Wajahnya merah padam. Ia emosi. Rasa bencinya terhadap Mina kian bertambah. Wanita itu berbalik pergi dari situ dengan langkah kasar. Orang-orang sialan. Lihat saja nanti.


Di perjalanannya, kebetulan sekali Dian berpapasan dengan Mina. Langkah keduanya terhenti dan mereka saling berpandangan. Mina tidak mau terlalu lama berada di situ, apalagi Dian terlihat jelas membencinya. Seperti kata Foster, kalau bertemu wanita itu sebaiknya menghindar. Mina melakukan seperti yang suaminya bilang. Ia hendak berjalan meninggalkan Dian, tetapi perkataan wanita itu menghentikan langkahnya.


"Kau pasti senang bisa menikah dengan Foster," tersirat rasa tidak suka Dian dalam kalimatnya. Mina bisa merasakan.

__ADS_1


"Kau tidak kenal Foster, dia itu gampang bosan. Apalagi dengan wanita yang lebih muda. Aku tumbuh bersamanya sejak kecil, dan hanya aku yang tahu sifat aslinya. Waktu


SMA aku mulai tinggal di rumahnya, dan hubungan kami sangat dekat. Apa dia tidak cerita kalau aku adalah mantan pacarnya? Kami putus karena salah paham. Aku yakin dia masih cinta sama aku. Dari dulu dia berhubungan dengan banyak perempuan karena sengaja mau membuatku cemburu."


Oh ...


Mina tertawa dalam hati. Wanita itu pikir bisa mempengaruhinya apa? Dia sendiri bisa merasakan ketulusan kak Foster. Gampang bosan? Huh! Itu kalau perempuannya tidak beradab seperti wanita di depannya ini. Dan apa katanya tadi? Mantan pacar Foster? Astaga, halusinasinya tinggi sekali. Kesal juga Mina lama-lama sama wanita tukang halu ini.


"Tapi aku dengar kalian sama sekali tidak dekat. Kak Foster sudah tinggal sendiri waktu kamu pindah ke rumah orangtuanya. Dan selama itu kalian tidak pernah bertemu. Katanya kalian bertemu lagi waktu kak Foster terpaksa menyetujuinya mamanya mempekerjakan kamu dikantor ini, setahun yang lalu. Itu pun karena sangat terpaksa." Mina mengatakan fakta yang dia dengar dari Foster langsung. Dan dia percaya suaminya, karena Dian memang keliatan sekali tukang halu. Lama-lama dia jengkel juga pada wanita ini. Tipe-tipe perusak hubungan orang.


Dian sendiri marah dan merasa direndahkan. Berani-beraninya perempuan sialan ini melawannya?


"Maaf, kak Foster sedang menungguku di ruangannya. Aku harus segera ke sana." kata Mina lagi lalu pergi dari situ meninggalkan Dian yang kesal bukan main.


"Kau pikir bisa hidup bahagia dengan Foster? Hah! Jangan pernah berharap." ucap Dian tersenyum jahat.


                                    ***


Mina masuk ke ruang kerja Foster tanpa mengetuk. Dia masih kesal pada Dian hingga terbawa sampai sekarang. Wanita itu betul-betul tidak tahu malu. Dia sampai terpancing emosi tadi. Untungnya dia masih bisa tahan dan tidak menunjukkan ke wanita ular tadi kalau dia mulai terpancing emosi. Kekesalannya dia lampiaskan pada pintu ruangan Foster yang dia buka dengan kasar.


Foster yang tengah membaca laporan-laporan di meja sampai kaget. Untung yang masuk adalah istrinya, kalau orang lain pasti sudah dia bentak. Orang lagi fokus juga.


"Sweety, jangan bikin kaget gitu ih. Aku lagi fokus ini." tegur Foster, suaranya tetap lembut. Mina duduk di sofa sambil bersedekap dada. Raut wajahnya bete, mengundang rasa penasaran Foster. Lelaki itu menghentikan kegiatannya sebentar kemudian melangkah duduk di sebelah Mina.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Kok wajahnya kesal gitu?" Foster bertanya ingin tahu. Penasaran siapa yang membuat mood sang istri rusak.


"Itu sih Dian, Dian. Dia mau provokasi aku. Katanya dia pernah pacaran sama kak Foster, dan kalian putus karena salah paham. Katanya kak Foster juga kemungkinan masih cinta sama dia dan sengaja mau bikin dia cemburu dengan manfaatin perempuan lain. Kan aku jadi kesal dengar dia bilang gitu.


Foster ikut kesal mendengar cerita Mina. Perempuan seperti Dian itu betul-betul sakit jiwa kali ya. Foster tidak akan tinggal diam. Dia harus ambil tindakan. Tunggu setelah pesta pernikahan dia dan Mina selesai, dia akan coba bicara dengan mamanya memindahkan Dian dikantor orangtuanya saja. Foster takut wanita itu akan mengganggu hubungan rumah tangga dia dan Mina.


"Kamu jangan terganggu sama semua ucapan ngawurnya ya. Nanti aku cari cara ngomong sama mama pindahin dia ke perusahaan mereka. Sekarang kita fokus sama pesta pernikahan kita dulu. Kamu jadi pergi sama mama kamu dan mama aku buat bikin souvenir?" kata Foster sengaja membahas hal lain. Biar Mina lupa akan kekesalannya. Istrinya ini sedang hamil, jadi Foster tidak mau Mina sampai stres. Wanita itu harus happy-happy terus. Kalau Foster maunya sih dia cuti kuliah dulu dan banyak istirahat di rumah.


"Jadi kok, nanti siang mama jemput aku."


"Ya sudah. Setelah pesta nikahnya berakhir, kita bicara tentang masa depan kita. Aku ingin kamu cuti dulu selama masa kehamilan kamu."


"Ta ... tapi aku sedang nyusun skripsi kak." Mina sedikit keberatan. Sudah nanggung soalnya.


"Justru karena itu, sweety. Aku nggak pengen kamu banyak pikiran di masa-masa kehamilan kamu. Tolong kabulin permintaan suami kamu ini ya?"


"Tapi kuliah aku?"


"Lanjutin lagi setelah melahirkan."


Agak berat sih buat Mina. Tapi mau gimana lagi. Apa yang kak Foster bilang memang benar. Siapa suruh juga dia hamil di waktu-waktu begini.


"Ya udah kalo gitu." putusnya kemudian. Foster tersenyum kemudian menariknya bersandar di dada bidang pria itu sambil mengusap-usap rambutnya penuh sayang.

__ADS_1


__ADS_2