
"Mina!"
Panggilan Ester menghentikan langkah Mina yang hendak keluar kantor. Gadis itu berbalik menghadap sahabatnya.
"Kamu sudah mau pulang?" Mina menganggukkan kepala. Jam kantor sudah selesai, ia juga tidak ada urusan apa-apa lagi. Jadi ia akan langsung pulang ke rumah.
"Ke rumah Dira yuk," ajak Ester. Mina cukup terkejut mendengarnya. Duh, dia belum berani ketemu Dira sekarang, dia takut. Kan Dira masih marah sama mereka.
"Memangnya Dira udah nggak marah lagi? Aku takut ke rumahnya kalo dia masih marah Ter." ujar Mina. Dira itu kalau marah semua barang pasti dia lempar-lempar. Marahnya Dira seram, wajarlah Mina takut. Lebih baik cari aman.
"Tenang aja. Dira udah maafin kita kok. Barusan dia telpon aku. Katanya dia nelpon kamu juga tapi nomor kamu sibuk." kata Ester. Oh, mungkin karena Mina lagi telponan sama kak Foster tadi. Tapi Mina masih berpikir dua kali. Benarkah Dira tidak marah lagi?
"Kamu yakin dia udah nggak marah?"
"Mm. Yakin. Ayo ikut saja. Dia udah lupain Paul kok." Ester lalu menarik tangan Mina. Mereka naik taksi yang sudah ia pesan lewat aplikasi gojek barusan.
Selama perjalanan ke rumah Dira, Mina masih ragu-ragu. Tapi kemudian keraguan itu mendadak hilang ketika Dira menyambut mereka dengan senang hati, gadis itu sudah kembali menjadi Dira yang ceria seperti biasanya.
"Beneran kamu udah nggak marah lagi?" Ester bertanya. Mereka bertiga sekarang sedang bersantai di balkon kamar Dira.
"Mm. Aku sadar aku yang terlalu berlebihan. Padahal yang salah itu Paul. Dia memang pria brengsek. Percuma tampan, populer, kaya, tapi kelakuannya brengsek. Lebih baik cari cowok lain aja. Aku nggak mau berharap sama tuh cowok lagi." kata Dira panjang lebar. Setelah berhari-hari ia berpikir Paul memang tidak cocok dengannya.
"Mina," Dira melirik Mina.
__ADS_1
"Ya?"
"Aku minta maaf ya, udah kasar sama kamu. Tapi tenang aja, sekalipun benar Paul mau ngejar kamu, aku nggak apa-apa kok. Udah nggak respek aku sama dia. Tapi kalo boleh aku saranin sih kamu jangan gampang termakan sama semua sifat lembutnya dia. Yang keliatan baik diluar belum tentu hatinya benar-benar baik." tutur Dira gamblang. Ia sudah terlalu kecewa sama perbuatan laki-laki itu, jadi sekarang ia hanya bisa lihat segala keburukan dari lelaki semacam itu.
"Hussh Dira, kamu nggak boleh jelek-jelekin Paul dong. Semua orang juga tahu tuh cowok paling baik seantero kampus. Paling suka nolongin orang susah." tegur Ester. Mina mengangguk setuju dengan Ester. Orang dia sendiri juga selalu liat sikap baik senior mereka itu pada banyak orang.
"Biarin." ucap Dira enteng, saking dendamnya dia sama Paul. Ester dan Mina hanya menggeleng-geleng kepala.
"Sekarang jangan bahas Paul lagi. Gimana kalo kita bertiga jalan-jalan ke pasar malam? Udah jarang banget loh kita jalan bertiga." Mina langsung setuju begitu mendengar Ester menyebut pasar malam. Dia suka yang namanya pasar malam, karena ada banyak sekali aneka makanan yang bisa ia makan.
Sebulan lalu ia pernah pergi ke tempat itu dengan kakak iparnya, namun waktu itu ia tidak bisa bebas memilih karena dilarang kak Foster. Katanya makanan-makanan yang dijual dipinggiran jalan begitu harus di uji dulu kebersihannya, kalau tidak dia akan sakit begitu makan. Dan banyak lagi alasan kak Foster melarangnya makan jajanan pinggir jalan yang berujung pada Mina sama sekali tidak jadi makan satupun.
Jadi begitu mendengar Ester mengajak ke pasar malam ia langsung setuju. Kali ini dia akan makan banyak jajanan enak itu.
"Kalo gitu tunggu aku ganti baju sebentar." ucap Dira beranjak dari duduknya masuk ke dalam kamar.
Diluar kota, Foster akhirnya bisa beristirahat sebentar. Kesibukan hari membuatnya sangat kelelahan. Pria itu sampai merasa tidak sanggup naik ke kamar hotelnya dilantai atas. Ia berhenti dan duduk sebentar di lobby hotel.
Pria itu mengeluarkan ponsel lalu menelpon Mina. Hampir seminggu ini ia tidak bisa menelpon gadis itu karena jadwalnya yang sangat padat. Dan semua itu bisa terobati siang tadi. Mina sendiri yang menelponnya, meski maksud gadis itu menelpon mau minta ijin pinjam buku, tetap saja Foster senang. Karena ia bisa mendengar suara indah wanitanya. Malam ini ia ingin mendengar suara Mina lagi, mumpung ada waktu sebentar.
Foster mengernyitkan dahi karena ponsel Mina tidak aktif. Pria itu lalu melirik ke jam tangannya sebentar.
"Apa dia sudah tidur?" ia bergumam sendiri.
__ADS_1
"Foster,"
Lagi-lagi suara yang tidak ingin ia dengar itu kembali mengganggunya.
"Kau kenapa di sini? Kelelahan? Mau aku bantu antar ke kamar?" Dian berdiri dihadapan Foster, berlagak sok dekat sekali. Bahkan dengan berani ia menunduk meraih lengan pria itu, padahal Foster saja belum bilang setuju.
"Berapa kali harus aku peringatkan padamu jangan menggangguku kalau bukan masalah pekerjaan." Foster menghempas tangan Dian yang sengaja menyentuhnya. Lalu menatapnya dingin. Ingin sekali dia memecat wanita itu dari kantor, tapi dia takut mamanya akan mengamuk. Kalau mamanya sampai mengamuk, masalahnya akan lebih panjang dan membuatnya sakit kepala.
"Tapi Foster, kau keliatan sudah tidak bertenaga lagi. Aku hanya mau membantumu saja. Aku takut dirimu tumbang kalau balik ke kamar sendirian." Dian bersikeras. Foster menatapnya tajam.
"Hanya membantu? Huh!" pria itu mendengus keras.
"Dengar, aku tidak butuh bantuanmu. Pergi!" usirnya sarkas. Sampai-sampai petugas resepsionis di depan sana memperhatikan mereka. Tapi Foster tidak peduli. Wanita tidak tahu malu seperti Dian ini memang perlu dikasari biar sadar. Semoga saja memang sadar. Soalnya dari dulu Dian ini tidak pernah berubah.
"Foster, kalau kau terus menolak niat baikku aku akan telpon mama kamu sekarang. Aku akan bilang kamu tidak mempedulikan kesehatanmu dengan bekerja siang malam nonstop." Dian mengancam.
Foster berdiri, menatapnya dengan tatapan yang amat sangat menusuk. Perempuan gila, caper.
"Coba saja kalau kau berani, jangan salahkan aku kalau besok kau mendapatkan surat pemecatanmu."
"Aku tidak takut dengan ancamanmu. Lagian aku melapor ke tante demi kebaikanmu juga." Dian mengangkat dagunya tinggi-tinggi, karena ia tahu Foster pasti tidak akan berani memecatnya.
"Kau tahu aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, kau juga tahu aku sangat ahli dalam menghancurkan hidup seseorang bukan? Tikus kecil sepertimu bukan lawanku."
__ADS_1
Senyuman di wajah Dian menghilang seketika. Kali ini ia berubah ciut. Dengan terpaksa wanita itu berbalik pergi dari situ.
Foster membuang napas kasar. Muak sekali dia dengan wanita itu.