
Foster menghambur ke Mina di ikuti mertuanya, Iren dan Matthew dari belakang. Mina terbaring di ranjang itu dengan keadaan tubuh yang dipenuhi luka-luka. Tangannya, kakinya, terutama wajahnya.
"Tuan, anda tidak boleh menyentuhnya dulu." tegur salah seorang suster yang ada di situ. Biasanya Foster akan langsung memarahi orang yang sembarangan memerintahnya begitu.
Namun karena ini rumah sakit, mereka adalah petugas medis yang menangani Mina dan keadaan istrinya yang sangat memprihatinkan, Foster hanya patuh. Ia takut akan lebih menyakiti istrinya.
Setelahnya ia mendengar ibu mertuanya menangisi sang istri.
"Sayang, kamu kenapa? Kok sampai kayak begini sih?" gumam wanita tua itu terisak kuat, Iren yang berada di sebelahnya menyapu-nyapu punggungnya, terus menenangkan. Ia melihat papanya terus menatap adiknya dengan ekspresi yang tak kalah sedih dari mamanya, bercampur marah. Iyalah marah, Mina tumbuh penuh kasih sayang, bahkan dibentak keras saja ia belum pernah.
Pandangan Foster beralih ke Garra. Hal pertama yang ia rasakan adalah marah. Ia lalu melangkah mendekati lelaki itu dan langsung menarik kerahnya. Mariam yang kaget, karena ia berdiri bersebelahan dengan Garra.
"Kenapa kau bersama istriku? Kenapa dia sampai terluka parah begitu, jelaskan padaku?" katanya dengan nada suara rendah yang begitu serius. Foster tahu Garra tidak bersalah, tapi ia hanya ingin melepaskan rasa marah dan frustasinya pada pria itu. Meski begitu, Foster masih sadar dan tidak melakukan apapun yang merugikan sahabat lamanya tersebut. Seperti memukuli laki-laki itu.
"Kakak, lepasin. Jangan buat kacau di sini." tegur Mariam dengan suara kecil. Kedua suster yang berada di situ sedang menatap mereka. Mariam takut kakaknya akan di usir karena mengacau.
Garra sendiri paham betul dan bisa memahami kemarahan Foster. Mungkin kalau hal seperti itu terjadi pada orang yang dia cintai, sikapnya akan sama. Tangan Foster turun.
"Maaf, aku terlalu emosi." ucapnya kemudian. Laki-laki itu memang terlihat sangat kacau.
"Tidak apa-apa, aku bisa memaklumi." balas Garra mengerti.
"Jadi, bagaimana kau bisa bersama Mina?" itu suara Matthew. Garra mengenalnya. Mereka pernah bertemu dan dikenalkan oleh Foster dulu. Iren dan orangtuanya ikut menatap Garra. Tentu mereka ingin tahu kejadian yang sebenarnya.
__ADS_1
"Begini," Garra mulai menjelaskan. Mereka semua mendengar dengan saksama, terutama Foster.
"Tadi aku sedang bertugas di sebuah daerah kecil dekat hutan. Jaraknya kira-kira dua jam dari sini. Saat kami mencari seorang anak yang hilang dalam hutan, kami menemukan wanita itu." Garra menunjuk ke Mina dengan dagunya.
Rahang Foster mengeras, tangannya mengepal kuat.
"Kondisinya sudah luka-luka saat kami temukan. Melihat keadaannya yang parah, aku dan rekanku langsung membawanya ke klinik. Awalnya aku menduga ada kekerasan seksual, tapi belum bisa dipastikan. Hasil visumnya keluar besok, sekali lagi itu hanya dugaan sepihak. Waktu kami menemukan istrimu, dia juga mengalami pendarahan hebat. Dokter yang memeriksanya tadi mengatakan dia meminum obat penggugur kandungan." Garra menjelaskan panjang lebar.
"Pendarahan hebat? Obat penggugur kandungan?" itu suara Iren. Raut wajahnya berubah drastis.
"Berarti orang jahat itu tahu kalau Mina sedang hamil, kalau adikku mengalami pendarahan ... Bagaimana dengan bayinya?" tanya wanita itu cemas. Foster juga terus menatap Garra dengan tangan terkepal dan rahang mengetat, menunggu pria bicara lagi.
"Beruntung bayinya masih bisa diselamatkan." jawab Garra. Iren, mama dan papanya yang tadi menahan napas, kini bisa bernapas lega.
Lalu terdengar makian kasar Foster yang menggelegar. Emosinya membuncah, ia ingin meninju apa saja yang ada di tempat itu, tapi Matthew cepat-cepat menahannya.
"Tenangkan dirimu." tegur Matthew.
"Aku tidak bisa tenang melihat istriku di siksa seperti itu! Percayalah, aku tidak akan segan-segan membunuh siapa saja yang menyakiti Mina! Lepaskan aku!"
"Foster!" suara Matthew meninggi, setengah berteriak.
"Aku tahu bagaimana perasaanmu sekarang, tapi kalau kau mengacau di sini, kau hanya akan mengganggu istrimu yang terbaring tidak berdaya di sana." kata Matthew lagi. Foster sontak terdiam begitu mendengar kata istri yang keluar dari mulut Matthew. Pandangannya berpindah ke Mina,
__ADS_1
"Aku yakin saat ini Mina sangat membutuhkanmu berada di sisinya. Sekarang yang paling penting kau lakukan adalah menemani istrimu, biarkan orang pertama yang dia lihat ketika ia bangun adalah dirimu."
Benar kata Matthew. Foster melangkah mendekati Mina. Duduk di tepi ranjang dan menggapai jemari istrinya dengan amat berhati-hati. Menyentuhkan jemari indah itu ke pipinya. Melihat istrinya yang terbaring tidak berdaya, tanpa sadar butiran air keluar dari matanya.
Ya. Foster menangis. Seumur hidup ini ia belum pernah menangisi siapa pun. Tapi hari ini, ia benar-benar tidak berdaya, merasa frustasi. Merasa bahwa dia adalah suami tidak becus yang tidak bisa melindungi perempuan yang dia cintai. Hatinya begitu sakit.
Iren yang dari tadi terus menahan airmatanya ikut menangis. Adiknya yang malang. Iya dan mamanya menangis bersama.
Mariam pun ikut terenyuh karena suasana dalam ruangan ini tiba-tiba menjadi hening dan semua mata hanya tertuju ke satu arah, ke perempuan yang tengah berbaring di ranjang pasien itu.
Mariam meringis. Siapa orang kejam yang tega berbuat seperti itu pada istri kakaknya ... Ia ikut merasa iba dan marah begitu mendengar penjelasan dari sih detektif tampan. Jelaslah siapapun yang mendengarnya akan marah. Apalagi kalau musibah itu terjadi pada anggota keluarga mereka. Mariam memang belum begitu dekat dengan istri dari kakaknya tersebut, tapi dia tahu wanita itu hatinya baik dan tulus. Sangat cocok dengan kakaknya. Kalau Mariam tidak sibuk dengan dirinya sendiri dan rajin bertemu Mina, iya yakin mereka pasti akan cocok dan menjadi teman baik.
Pandangan Mariam beralih ke keluarga dari istri kakaknya. Mereka keliatan sangat sedih.
"Bagaimana dengan pelakunya?" tanya Matthew menatap Garra.
"Rekan-rekanku sedang memeriksa di hutan. Mudah-mudahan jejak sih pelaku masih ada." jawab Garra. Matthew mengangguk. Orang jahat sialan. Berani-beraninya menyakiti calon adik iparnya sampai seperti ini.
"Kalau istri Foster sadar, harusnya kita bisa dengan mudah menemukan pelakunya." ucap Garra lagi melirik Foster dan Mina.
Benar. Mina adalah korban sekaligus saksi. Mina harus sadar dulu untuk di mintai keterangannya.
"Kalian tenang saja. Aku berjanji akan membantu menemukan pelakunya." kata Garra. Dalam hatinya ia juga marah dan kesal. Ia harus menemukan pelaku kejam itu. Harus. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan istri sahabat lamanya dalam keadaan menyedihkan begini.
__ADS_1