Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 53


__ADS_3

"Kak Foster, kemejanya kenapa basah?" Mina baru memperhatikan. Mereka sudah sampai di perkebunan teh milik Oma Winda. Mina mendekati pria itu dan menyentuh kemejanya.


"Ini basah kenapa?" Ia bertanya lagi.


"Menurutmu aku tampan tidak?"


Yang ditanya apa, jawabnya apa. Mina memutar bola matanya malas.


"Apa hubungannya sama pertanyaan aku?"


"Ada. Jawab dulu."


"Hm." gadis itu menjawab dengan setengah hati.


"Jawab yang benar. Bilang dengan mulutmu aku tampan atau tidak?"


"Iya. Kak Foster sangat tampan, puas?" Foster tersenyum mengacak pelan rambut gadis itu.


"Tadi salah satu pembantu rumah oma sengaja menjatuhkan diri padaku. Sekalian saja air yang dia bawa tumpah mengenai pakaianku. Mungkin karena aku sangat tampan jadi perempuan itu pura-pura jatuh." Pria itu bercerita dengan santai.


"Kakak yakin dia sengaja?" Mina menyipitkan mata.


"Terlalu banyak wanita seperti itu yang mencoba mendekatiku dengan cara begitu, sweety."


Mina mendengus. Pede sekali.


"Ayo turun." katanya kemudian.


__________


"Hmmm ... sejuknya." gumam Mina merasakan udara sejuk perkebunan teh milik oma-nya. Ada banyak pekerja yang sibuk memetik pucuk daun teh yang ada di sana. Beberapa mengenali Mina langsung menyapanya.


Foster telah berdiri disampingnya. Mata lelaki itu memandang ke segala arah. Kebun teh milik Oma Winda ini sangat luas. Pantas pekerjanya banyak. Sayang sekali bisnis Foster tidak bergerak di bidang itu, kalau tidak ia pasti sudah membuat kerjasama dengan Oma Winda. Bisnis Oma Winda ini sangat bagus. Sebagai pebisnis besar, Foster tahu keuntungan yang dihasilkan tiap tahun sangat menjanjikan.


"Aku dengar kau adalah ahli waris dari semua harta kekayaan Oma Winda. Ditambah dengan seluruh hartaku, kau akan jadi perempuan terkaya."


"Perempuan terkaya apaan, aku nggak butuh harta yang banyak."


Foster terkekeh.

__ADS_1


"Cucu-cucunya Oma udah baikan ternyata." Oma Winda muncul entah darimana dengan mengedipkan sebelah matanya ke Foster. Foster membalas kedipan mata perempuan tua itu. Ia ingat semalam Oma Winda mengajarinya tentang cara-cara membuat seorang Mina luluh. Wanita tua itu semangat sekali mengajarinya, padahal Foster punya cara sendiri, tapi tidak apa-apa juga mendengarkan nasehat Oma Winda. Orangnya juga asyik. Foster yakin sekali ia memang ditakdirkan menjadi menantu keluarga itu.


"Oma, kok aku ngerasa Oma suka banget sama penipu ini sih? Cucu Oma kan cuma aku sama kak Iren." Mina tidak terima.


"Kamu bilang aku apa? Penipu? Coba bilang sekali lagi!" Foster sengaja memasang tampang galak.


"Tuh Oma liat, selain suka nipu dia galak juga." Mina semakin meledek sambil berlindung di belakang oma-nya. Oma Winda sendiri hanya geleng-geleng.


"Oh, mulai berani sekarang ya ...'


"Wleee ... Wleee ..." Mina memeletkan lidahnya ke Foster berkali-kali lalu kabur. Tentu saja Foster mengejar. Alhasil pasangan itu malah kejar-kejaran di kebun teh-nya Oma Winda, menjadi tontonan para pekerja.


"Jangan pedulikan kan mereka. Cucu dan cucu mantu saya lagi kasmaran, harap maklum." kata Oma Winda pada para pekerjanya. Mereka memasang raut wajah mengerti dan lanjut kerja. Oma Winda melirik ke Mina dan Foster lagi yang hampir menghilang dari hadapannya. Wanita tua itu tersenyum.


"Ya ampun, mereka sangat serasi."


Di ujung sana, Mina terus berlari sambil tertawa dan Foster terus mengejarnya. Begitu pria itu mendapatinya, Mina berteriak, perutnya terasa geli.


"Sudah berani nantangin aku, hmm ... bilang apa tadi?" Foster menggelitiknya.


"Hahah ... Kak Foster geli .. udah ah ..." begitu Foster lengah Mina kembali berlari.


"Udah kak, aku capek." ucap Mina membungkukkan badan dan mengelap keringat yang bercucuran di dahinya. Foster berjalan mendekati kekasihnya.


"Ayo istirahat di sana." Foster menarik Mina ke sebuah pondokan dekat situ.


"Tunggu di sini sebentar, aku minta air ke Oma Winda." ujar cowok itu hendak meninggalkan Mina, namun Mina cepat-cepat menarik tangannya. Tidak mau dia pergi.


"Kakak jangan kemana-mana. Aku takut sendirian di sini." ujarnya manja. Foster tertawa pelan, lalu mengusap-usap kepalanya yang masih basah karena keringat.


"Memangnya kamu nggak haus?" gaya bicara pria itu berubah lembut."


Mina menggeleng. Foster lalu duduk dan menyandarkan kepala Mina dibahunya. Mereka berduaan sambil menikmati indahnya pemandangan kebun teh milik Oma Winda.


"Mau selfie bareng?" gumam Foster lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya. Mina mengangkat kepada dari bahu pria itu dan menatapnya.


"Nggak ah, aku masih keringetan. Nanti hasilnya jelek." tolaknya.


"Nggak. Kamu tetap cantik di mata aku kok. Ayo."

__ADS_1


Foster membuka aplikasi kameranya lalu merangkul bahu Mina, bahu mereka saling menempel dan pria itu mulai menjepret.


"Satu, dua, tiga."


Cekrek.


"Sekali lagi. Satu, dua, tiga."


Cekrek.


Mereka berdua melihat hasil foto itu.


"Tuhkan, cantik."


"Cih," Mina mencebik. "Kak Foster aja yang ganteng sendiri. Liat, aku kucel banget."


"Kamu cantik."


"Terus aja boong." gadis itu memasang wajah cemberutnya. Foster tertawa. Hening kemudian.


Kali ini Foster menatap Mina serius.


"Mina," ia memanggil nama gadis itu. Mina mendongak. Tatapan mereka bertemu.


"Mungkin kamu pernah berpikir aku cuma main-main sama kamu, karena kebanyakan wanita berpikir, laki-laki yang tidur dengan mereka sebelum menikah bukanlah laki-laki yang serius menjalin sebuah hubungan. Mereka hanya ingin bersenang-senang."


Mina terdiam. Sampai sekarang pun ia masih berpikir seperti itu.


"Aku sendiri pernah berpikir, mungkin aku memang hanya menyukai tubuhmu saja." Foster melanjutkan. "Tapi kemudian aku sadar. Aku sudah jatuh cinta padamu. Kamu percaya cinta pada pandangan pertama? Aku pikir, aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali melihatmu."


Jantung Mina berdegup kencang. Apalagi ketika Foster menggenggam lembut jemarinya. Matanya sangat tulus menatap.


"Percayalah. Aku merasa bahagia bersama denganmu. Senang, marah, cemburu, itu adalah hal yang biasa dalam hubungan. Tapi aku ingin membangun hubungan yang serius denganmu, menikah dan  membesarkan anak-anak kita bersama sampai kakek nenek. Kamu mau kan?"


Perkataan itu begitu tulus hingga Mina tidak dapat membendung airmatanya. Ia terharu. Ia pikir selama ini pria itu hanya main-main, ia juga tidak berani bertanya. Ternyata ...


"Hei, kenapa nangis? Ssstt ... jangan menangis." Foster menarik gadis itu ke dalam pelukannya, mengusap-usap kepalanya penuh sayang. Menenangkannya.


"Aku cinta kamu." Lalu lelaki itu mengecup singkat puncak kepala Mina dan memeluknya lagi.

__ADS_1


__ADS_2