
Dian melemparkan tatapan cemburu yang berapi-api ke Mina. Perempuan sialan. Berani-beraninya dia jalan berduaan dengan Foster di tempat umum begini. Memangnya dia siapa? Istri Foster saja tidak pernah ia lihat mereka jalan berdua.
Dan ... Pandangan Dian jatuh ke tangan Foster dan Mina yang saling bertaut. Ingin sekali Dian mendorong Mina jauh-jauh dari Foster, tapi ia berusaha keras menahan diri. Foster jelas-jelas menyukai gadis itu. Dian akan menjelek-jelekan gadis sialan itu di depan mamanya Foster. Mungkin Foster memang menyukai gadis itu, tapi ia punya mama pria itu yang selalu berpihak padanya.
"Foster, siapa dia? Kamu selingkuh dari istrimu?" wanita paruh baya itu bertanya dengan nada tegas. Mina menunduk, merasa tidak enak. Mamanya Foster keliatan galak sekali. Ia lalu merasakan genggaman Foster makin kuat, seolah pria itu sedang menenangkannya.
"Jangan takut. Kita tidak melakukan kesalahan apapun. Aku akan melindungimu." bisik lelaki itu kemudian. Mina merasa lebih berani setelahnya. Karena ada pria itu, ia yakin semuanya akan baik-baik saja.
"Foster, jawab mama!" tante Mia mulai merasa kesal karena merasa putranya tidak menghargainya sebagai seorang ibu.
"Sabar tante. Aku kenal perempuan ini. Dia adalah mahasiswi magang dikantor Foster." Dian angkat suara, pandangannya lurus ke Mina dan memanggil gadis itu dengan gaya sombong dan tidak sopan.
"Heh, kau sengaja kan mau godain Foster? Jangan-jangan kamu memang sengaja magang di perusahaan Foster untuk merayunya lagi. Kamu tidak tahu dia sudah menikah hah?!" tukas Dian dengan nada membentak.
Foster menatap wanita itu geram. Tidak ada yang boleh bicara kasar pada calon istrinya, siapapun itu.
"Sekali lagi kau membentak kekasihku, aku tidak akan segan-segan merobek mulutmu." nada suaranya amat rendah dan sarat akan ancaman. Mina sendiri merasa senang karena pria itu membela dia di depan wanita yang pernah menamparnya dulu. Mina tidak suka Dian, karena wanita itu sok berkuasa dan semena-mena. Juga suka mencari-cari cara mendekati kak Foster. Mina bukanlah perempuan suci dan sempurna yang bisa memaafkan begitu saja orang yang pernah menyakitinya. Apalagi orang tersebut tidak merasa bersalah sama sekali.
Jelas-jelas dia sendiri bukan perempuan baik-baik, tapi malah mengatai Mina wanita penggoda. Ingin sekali dia berteriak di depan wanita itu kalau Foster yang mendekatinya lebih dulu, dengan cara yang tidak pernah dia bayangkan.
"Tante Mia lihat, otak Foster sudah di racuni oleh sih anak magang ini." Untuk kesekian kalinya Dian berlindung di belakang mama Foster. Memang perempuan ular. Mamanya pun mau saja termakan oleh semua kata-kata wanita itu. Foster tahu mamanya sudah menganggap Dian sebagai putrinya sendiri karena mama perempuan itu sudah lama meninggal, tapi bisa kan melihat dari sisi pria itu juga. Bukan terus percaya dan membela satu pihak saja.
"Foster, kamu nggak boleh kejam begitu sama Dian. Jangan kecewakan mama, sekarang kamu bilang ada apa di antara kamu dan perempuan ini?"
__ADS_1
"Dia kekasihku. Dan dia punya nama, namanya Mina." sahut Foster tegas. Mamanya melotot, hati Dian makin panas.
"Tapi kamu sudah menikah Foster!"
"Itu hanyalah sebuah pernikahan kontrak, dan sudah berakhir. Iren dan aku tidak terikat apa-apa lagi sekarang. Pengadilan sudah membatalkan pernikahan kami, dan tidak lama lagi aku akan segera menikahi adiknya. Satu-satunya gadis yang aku cintai." kata Foster lagi.
Mamanya makin dibuat heran. Dian pun sama kagetnya. Perempuan di depannya ini adiknya Iren? Sial, kakak beradik itu selalu merusak rencananya untuk mendapatkan Foster.
"Pernikahan kontrak? Adik Iren? Astaga Foster, bagaimana bisa kamu bermain-main sama pernikahan? Dan sekarang mau menikah lagi dengan adiknya. Mama tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu." Mia dibuat pusing sekali oleh putra sulungnya.
"Tidak perlu mama pikirkan. Aku sudah dewasa. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Termasuk menikahi perempuan yang benar." Dian merasa tersindir begitu mendengar Foster mengatakan kalimat tersebut. Ia tahu laki-laki itu pasti sengaja bilang begitu untuk menyindirnya.
"Kamu," tante Mia menatap Mina. Gadis itu mengangkat wajah.
"Berapa umur kamu?"
"Du ... dua puluh satu."
"Kamu yakin mau menikahi anak saya? Kamu masih muda, perjalanan hidup kamu masih panjang, kamu masih harus menggapai cita-cita kamu, mungkin kamu akan bosan suatu hari nanti dengan anak saya."
"Mama," Foster tidak senang mendengar perkataan mamanya ke Mina. Apalagi dia sudah berusaha sampai sejauh ini, sampai di titik Mina mau menikah dengannya.
"Umurnya juga masih terlalu muda untuk Foster tante. Masih anak kecil." Dian menambahkan. Wanita itu langsung diam begitu mendapatkan tatapan mematikan Foster. Mina ikutan kesal dikatain anak kecil. Dengan berani dia akhirnya angkat bicara, menjawab pertanyaan mama Foster.
__ADS_1
"Aku yakin tante. Aku nggak akan pernah bosan sama kak Foster. Menurut aku kak Foster sangat dewasa, dia juga nggak bakal melarangku menggapai cita-cita yang aku mau. Tapi aku tahu, kalau aku sudah menjadi istrinya nanti, tugas utama aku adalah melayaninya dengan baik. Melahirkan anak, melakukan pekerjaan sebagai ibu rumah tangga, dan apa saja yang bisa mendukung suamiku kelak."
Memang calon istri idaman. Foster tersenyum. Ah, senangnya dia mendengar penuturan Mina. Makin cinta jadinya kan. Lihat, mamanya hanya bisa terdiam sekarang. Ia melihat wanita paruh baya itu terus menatap Mina.
Anak ini cukup dewasa ... Kalau Iren adalah kakak kandungnya, berarti dia juga dari keluarga terhormat. Masa depannya tidak diragukan. Status sosial mereka bisa dibilang setara. Hanya umur yang cukup terpaut jauh. Tapi tujuh tahun, tidak bisa dibilang jauh sekali juga. Masih wajar. Satu hal lagi, gadis ini punya prinsip yang kuat dan wajahnya sangat cantik. Dari semua segi memang cocok dengan putranya, mereka serasi.
"Bukan pernikahan kontrak lagi kan?" tanya wanita tua itu kemudian.
"Dia adalah gadis yang aku cintai ma, mana mungkin kita menikah kontrak."
"Baiklah. Mama akan bicara dengan papamu nanti. Jangan lupa undangan pernikahan kalian."
Foster dan Mina saling berpandangan senang. Mina pikir karena mamanya Foster dekat dengan wanita bernama Dian itu, ia tidak akan setuju dengan hubungan mereka, ternyata ia salah. Pikiran wanita tua itu cukup terbuka. Bukan seperti calon-calon mertua jahat yang di film-film.
"Ya sudah, kalian lanjutkan kencan kalian, mama dan Dian nggak akan ganggu lagi. Ayo Dian." tante Mia berbalik meninggalkan pasangan kekasih itu. Ia tidak melihat wajah Dian sudah merah padam karena emosi.
"Tante setuju mereka menikah?" Dian keberatan. Tidak boleh. Foster harus jadi miliknya. Kenapa tante Mia malah setuju dengan pernikahan mereka sih? Ini tidak bisa ia duga sama sekali.
"Kamu nggak liat, mereka saling mencintai. Foster juga kayaknya sudah tergila-gila pada gadis itu. Biarkan saja. Tante lihat mereka juga cocok. Apalagi sikap Foster ke tante tadi jadi lebih baik, begitu tante setuju mereka menikah. Tante yakin gadis itu akan jadi pengaruh yang baik kelak buat Foster."
"Tapi tante, aku rasa anak itu kelakuannya nggak baik." Dian terus berusaha mempengaruhi wanita tua itu.
"Itu hanya perasaan kamu saja. Perasaan tante malah sebaliknya. Ayo pulang."
__ADS_1
Brengsek! Dian tidak terima.