
"Ahh ... Berhenti M ... Matt ..."
Di tempat lain, kegiatan panas juga sedang berlangsung antara Matthew dan Iren. Iren yang sibuk mengaduk-aduk sop yang dia buat, sedang Matthew sibuk bermain dengan area sensitifnya dari belakang. Mereka di apartemen Matthew.
Matthew berlutut dibelakang Iren sambil terus menjilati tubuh Iren dari belakang. Wanita itu nyaris telanjang, hanya tersisa atasannya saja. Celananya sudah di lucuti oleh Matt dan dibuang ke sembarang tempat. Karena serangan gila Matt, Iren jadi tidak fokus mengaduk sop.
Akhirnya ia mematikan kompor karena Matt tidak mendengarkan permintaannya juga. Laki-laki itu terus menyerangnya dengan liar. Seperti dirinya adalah makanan terenak di dunia.
"Mmph ..." Iren berpindah ke meja makan. Matt mengikutinya. Masih dalam posisi yang sama. Wanita itu berdiri dengan tangan menopang di meja makan. Berpegang kuat di sana. Mata Iren tertutup menikmati gelombang demi gelombang yang ia rasakan akibat perbuatan Matthew.
Lidah laki-laki itu terus mencecap, menggigit, menusuk miliknya dengan sangat liar. Tubuh Iren sampai bergetar dengan hebatnya.
"Ouch ... Matt ..." suara wanita itu ikut bergetar. Mulutnya membuka lebar.
"Ahhh ... Mmphh ... " cairan cintanya keluar di dalam mulut Matthew. Laki-laki itu menelan habis cairan tersebut. Iren terengah-engah akibat orgasme yang begitu luar biasanya. Matthew ini gila kalau bercinta. Tapi Iren suka.
Matthew yang menyembuhkannya dari trauma yang ia alami sebelumnya. Matthew juga yang membuatnya merasa sangat bahagia seperti sekarang ini. Sahabat jadi pacar? Ia tidak tahu sudah berapa manusia di dunia yang memiliki kisah yang mirip dengannya.
"Kau suka tadi?" tanya Matthew. Lelaki itu sudah berdiri, ia memeluk Iren dari belakang. Kepalanya ia letakan di ceruk leher Iren, merasakan harum tubuh wanitanya yang amat menggodanya.
"Ya, kenapa kau suka sekali berbuat mesum di dapur?" Iren menjawab lalu balik bertanya. Dia sudah memperhatikan Matthew. Dan mulai dari mereka menjalin hubungan, sudah banyak kali mereka bergulat di dapur laki-laki itu. Iren bertanya karena penasaran. Matthew tertawa kecil.
"Mungkin karena lebih menantang." ucapnya. Padahal ia sendiri tidak pernah memperhatikan tempat. Mungkin karena keinginan untuk menyentuh Iren selalu timbul saat mereka ada di dapur, itu termasuk kebetulan. Bagi Matthew, selama mereka berada di rumahnya dan tak ada siapa-siapa, ia bisa melakukannya di mana saja yang dia mau.
__ADS_1
Matthew membalikan tubuh Iren menghadapnya. Tatapan mereka bertemu.
"Masih mau?"
Iren terkekeh.
"Tumben bertanya. Tadi saja kau langsung menyerangku." ia sedikit meledek. Matthew ikut tertawa kecil.
Tangannya kemudian meraih pergelangan tangan Iren, membawa wanita itu ke ruang tengah. Mendudukkannya di sofa.
Matthew menarik atasan Iren hingga terlepas. Lingerie hitamnya juga ia lepaskan. Iren telan jang bulat di depannya. Matthew tak henti-henti kagum, tubuh kekasihnya sangat indah di matanya.
"Tubuh bagus, kenapa kau tidak jadi model saja?" laki-laki itu sedikit bercanda.
"Jangan coba-coba." katanya langsung menyerang Iren, menggigit pu ting susunya.
"Mmphh ..." rasanya geli. Matthew nakal sekali. Pintar sekali pria itu membuatnya merasa keenakan. Wanita itu menutup mata menikmati setiap sentuhan Matthew. Jemari pria itu menyentuh pay u dara Iren yang bebas. Bermain di sana, memelintir pucuk merah muda yang sudah mengeras akibat ulahnya. Lalu menjilati lagi dengan sangat liar.
"Haa ..." sangat enak.
Lalu Iren mendorong tubuh Matthew. Ia naik ke pangkuan pria itu, menatap Matthew dengan wajah sayu yang amat sangat mendamba. Matthew masih berpakaian lengkap, sedangkan dia sudah tak terbalut sehelai benang pun.
"Sekarang giliranku." gumamnya.
__ADS_1
Iren membuka kenop kemeja laki-laki itu satu persatu. Dengan gerakan lambat. Sengaja mau membuat Matthew gemas.
"Jangan terlalu lambat sayang," ucap Matthew.
"Sabar," hanya itu yang wanita itu bilang. Matthew mengembuskan napas kesal.
Iren belum membuka semua. Baru kemeja laki-laki itu yang terbuka. Celananya masih utuh. Namun Iren memang sengaja. Ketika Matthew bertanya kenapa bagian bawahnya tidak Iren lucuti, tangan Iren sudah menelusup masuk ke dalam celananya menyentuh juniornya.
Napas Matthew tertahan, tidak jadi bicara. Ternyata Iren memang sengaja menyisakan celananya karena ada maksud.
"Ohh ..." remasan Iren sangat enak.
"Kau mau gerakan yang bagaimana?"
Iren sengaja bertanya. Padahal ia sudah tahu Matthew suka gerakan seperti apa. Ayolah, mereka sudah berkali-kali bercinta. Masa Iren tidak tahu sih yang Matthew suka.
"Kau tahu sa ... yang ..." Matthew menatap Iren dengan tatapan horny, tak sabar menunggu. Tapi gerakan Iren sangat lambat, membuatnya kesal.
"Ayolah sayang, cepat ..."
Iren tersenyum.
"Yang seperti ini?" lalu tangannya mengocok dengan tempo cepat.
__ADS_1