Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 89


__ADS_3

"Ahh ... Ya begitu .. Yes ...." erang Matthew kuat. Kocokan Iren makin cepat, turun naik sampai Matthew meremas punggung sofa kuat-kuat. Wanita memang sangat berpengalaman. Menyentuhnya dengan cara yang sangat ia suka.


"Ahh ... Ahh ..." Matthew hampir keluar. Ia membuka mulutnya lebar-lebar. Sedikit lagi, sedikit lagi ...


"Lebih cepat ... ssshh ..." pria itu mendesis keras begitu mendapatkan pelepasannya. Napasnya memburu. Jantungnya memompa cepat tapi Iren tak memberi jeda sama sekali, ia memegang junior Matthew dan mengarahkan batang pria itu ke lubangnya.


"Sekarang menu utama." ujar wanita itu dengan tatapan menggoda. Matthew ikut tersenyum. Dia suka sekali mendengar suara Iren. Namun, baru ujung batangnya yang masuk ke lubang Iren, gerakan wanita itu terjeda karena bel pintu tiba-tiba berbunyi.


Ting tong ...


Iren tampak kesal. Apalagi Matthew. Siapa sih, dasar pengganggu. Wanita itu menatap Matthew.


"Aku tidak tahu." ucap pria itu. Belum ada yang bertamu di apartemennya selain Iren dan Foster. Bahkan orang tua pria itu belum pernah menginjakan kaki di tempat tinggalnya ini.


"Jangan hiraukan, lanjutkan saja. Sudah nanggung sayang."


Iren mendengar pria itu, mencoba menghiraukan. Mereka hendak melanjutkan kegiatan yang terjeda tadi, namun lagi-lagi gagal. Bunyi bel makin mengganggu.


Ting tong ... Ting tong ... Ting tong ...


"Astaga siapa sih!" kesal Matthew. Iren berdiri dari pangkuannya.


"Lihat dulu sana." kata Iren. Mau tak mau dengan jengkel Matthew berdiri, mengenakan pakaiannya lagi dan berjalan ke arah pintu.


"Kau tunggu di kamar." kata ke Iren. Tidak mungkin kan Iren duduk manis di ruang tamu dengan keadaan telanjang begitu.

__ADS_1


Ketika pintu depan terbuka, terpampang wajah Mariam yang tersenyum tanpa dosa sambil melambai padanya.


"Hai kak Matt ..." sapa gadis itu tersenyum lebar. Ah, pantas cara bertamunya tidak tahu diri begitu. Ternyata Mariam, sih gadis perusuh.


Matthew memutar bola matanya malas.


"Kamu kenapa ke sini? Dari mana tahu tempat tinggalku?" tanya pria itu dengan nada suara jengkel. Ya iyalah jengkel, gadis ini kan sudah merusak waktu bersenang-senangnya dengan Iren.


"Temanku tinggal di apartemen  seberangnya kak Matt, tadi aku nggak sengaja liat kak Matt sama kak Iren masuk ke sini. Sekalian aja nyapa. Oh ya, kak Irennya mana?"


Pandangan Mariam melongok ke dalam tapi tidak melihat siapa-siapa.


"Lagi tidur." sahut Matthew cepat.


Mariam tersenyum penuh arti ke Matthew.


Matthew mendengus pelan. Ya ampun, gadis ini betul-betul tidak ada malunya.


"Udah, nggak usah tanya urusannya orang dewasa. Kamu masih bocah, meski agak bar-bar dan nakal tapi nggak punya pengalaman apa-apa. Belum boleh tahu urusan orang dewasa."


Mariam mencebik mendengar perkataan sahabat kakaknya. Cih, nyebelin.


"Umurku sudah dua puluh empat tahun kak Matt, sudah dewasa. Gimana sih. Ya udah, lanjutin aja mainnya sama kak Iren. Yang penting aku udah nyapa, bye-bye!" pamit Mariam kemudian. Ia langsung menghilang dari hadapan laki-laki itu.


Matthew tertawa kecil sambil menggelengkan wajah. Kalau dia jadi anggota keluarga Foster, mungkin dia akan ikut pusing diperhadapkan dengan modelan gadis itu begitu. Tapi senang juga.

__ADS_1


"Siapa tadi?" Iren muncul dari belakang. Mengenakan kimono Matthew. Lelaki itu mengunci pintu dan berbalik.


"Mariam." sahutnya. Iren mengernyitkan dahi.


"Adik Foster?"


"Mm, siapa lagi? Hanya satu nama Mariam yang kita kenal."


"Tumben dia ke sini. Foster yang ngasih tahu dia alamat kamu?"


Matthew menggeleng.


"Dia tahu sendiri. Katanya temannya tinggal di apartemen sebelah. Kebetulan dia lihat kita berdua tadi masuk ke sini, jadi dia pengen nyapa katanya." jelas pria itu.


"Oh, terus kenapa tidak memanggilku?"


"Aku bilang kamu lagi tidur."


"Arghh!"


Matthew langsung mengangkat tubuh Iren tanpa aba-aba. Menggendongnya ala bridal style dan memberi tatapan menggoda.


"Kita lanjutkan yang tertunda tadi. Aku belum puas kalau belum bergerak di dalammu." lelaki itu berbisik serak. Iren memukul lengannya pelan sembari tersenyum malu.


Dan kegiatan panas itu kembali berlanjut setelah mereka memasuki kamar. Matthee menggempur Iren dengan sangat liar, begitu pun sebaliknya. Iren tidak mau kalah dan bermain dengan sesuka hatinya di tubuh Matthew sampai keduanya habis tenaga.

__ADS_1


                                   


__ADS_2