
Foster dan Mina resmi menikah. Pernikahan dibuat dengan sangat meriah. Dihadiri oleh banyak sekali kenalan Foster, orang tua pria itu, teman-teman Mina, kerabat dekat keluarganya serta teman-teman orang tuanya. Pokoknya malam ini orang yang datang sangat banyak, seperti kemauan mama Mina sendiri.
Mia, mamanya Foster pun senang dengan acara meriah begini. Ini baru namanya pernikahan beda ketika ia datang di pernikahan Foster dulu, yang ternyata cuma nikah kontrak.
Mina sangat cantik hari ini, tentu saja Foster pun sangat tampan dalam balutan baju pengantin mereka. Keduanya tampak sangat serasi. Semua wanita pasti iri pada Mina, begitupun semua pria yang iri pada Foster. Dilihat dari sisi manapun, mereka adalah pasangan yang serasi.
Sekarang acara sudah sampai pada sesi foto bersama pengantin dan keluarga. Walau sudah capek seharian ini, Mina tetap berusaha ramah pada para tamu. Karena pada dasarnya ia memang ramah. Ia tidak mau menunjukkan wajahnya yang sudah mulai bosan karena terlalu kelelahan.
"Kalau kamu capek, istirahat saja. Aku bisa melayani para tamu sendiri. Lagian sekarang sudah di penghujung acara." Foster berbisik di telinga sang istri. Ia paling tahu kalau wanita itu sudah lelah begini. Foster pun tidak mau membuat istrinya yang tengah hamil anak mereka itu mengalami rasa stres.
"Nggak apa-apa kak, aku masih bisa. Habis foto terakhir aja aku istirahat." balas Mina.
"Kamu yakin?" Mina mengangguk.
"Kalau begitu setelah ini aku panggil Iren anterin kamu ke kamar." Mina mengangguk.
Kamar yang di maksud Foster adalah kamar pengantin yang sudah disiapkan oleh pihak hotel. Karena pernikahan mereka di adakan di sebuah hotel berbintang tersebut. Biaya sewa hotel, catering, EO dan lain-lain terbilang sangat mahal, apalagi itu adalah pernikahan yang mendadak. Orang yang kehidupan ekonominya biasa-biasa saja tidak akan sanggup. Tapi bagi Foster, biaya tersebut masih bukan apa-apa. Bahkan belum dua persen dari hartanya yang ada.
Saat sesi foto berakhir, Foster langsung memanggil Iren dan meminta sahabat, yang kini berstatus sebagai iparnya tersebut mengantar Mina ke kamar pengantin. Sementara dirinya masih harus melayani para tamu.
"Mina mau kemana?" tanya Mia mamanya.
"Ke kamar, aku suruh dia istirahat. Dia sudah terlalu capek seharian ini." jawab Foster. Mamanya mengangguk mengerti. Iya sih benar.
Sementara itu dari kejauhan terdapat Dian yang berdiri dengan raut wajah sinis. Tak ada satu orang pun yang melihat dia hari ini. Ia selalu ingin berada di samping tante Mia tadi, sengaja mau menunjukkan kalau dibanding istri Foster, dialah yang jauh lebih dekat dengan wanita tua itu. Sayang sekali, tante Mia malah menyuruhnya menjauh dulu dari dia.
Marah? Jelaslah Dian marah. Ia marah pada wanita tua itu karena sama sekali tidak memberinya dukungan. Akhirnya dia tidak terlihat oleh siapapun sekarang, mereka semua bahagia dibalik penderitaannya.
__ADS_1
"Semua ini gara-gara perempuan sialan itu, dia sudah merebut mereka semua dariku. Aku tidak akan tinggal diam." ucap Dian pada dirinya sendiri. Ia mencengkeram gelas minumnya kuat-kuat. Kebenciannya terhadap Mina makin menjadi-jadi. Pandangannya kembali tertuju ke Foster, lelaki itu tampak sangat bahagia.
Dian tersenyum sinis. Ia sudah dengar dari tante Mia kalau Mina sekarang tengah mengandung anaknya Foster. Lihat saja, kebahagiaan mereka tidak akan lama. Ia akan membuat mereka semua merasakan apa yang ia rasakan sekarang ini. Wanita itu tertawa jahat lalu pergi dari situ. Percuma juga dia ada di sini, keberadaannya sama sekali tidak di anggap.
***
Foster masuk ke kamar sudah larut malam. Tamu mereka yang datang sangat banyak, jadi ia harus menunggu mereka semua pulang barulah bisa dia ke kamar. Ketika Foster masuk, Mina masih bangun. Masih menunggu suaminya dengan terkantuk-kantuk duduk di tepi ranjang, dia mendongak ketika lelaki itu menutup pintu kamar pengantin mereka.
"Semua tamu sudah pulang?"
Foster menatapnya lama, lalu menjawab singkat.
"Sudah. Kenapa belum tidur?" Foster masih berdiri di dekat meja rias, dan mulai melepas dasi, jasnya ia disampirkan di kursi rias. Wajah terlihat sangat kelelahan. Tadi ia pikir ia bisa main dengan istrinya malam ini, ternyata tidak sanggup lagi. Badannya terlalu lelah.
Mina menggeleng,
Tidak ada apa-apa. Lagipula ini adalah Hotel berbintang yang keamanannya terpercaya. Mana ada orang jahat atau semacamnya yang bisa sembarangan masuk sini.
"Nggak ada siapa-siapa, mungkin perasaan kamu saja sweety. Lagian hotel ini keamanannya sangat tinggi, penyusup bisa langsung ketahuan." ujar Foster. Tapi Mina masih sedikit kalut.
"Tapi gimana kalo bayangan tadi itu hantu? Kan bukan nggak mungkin hantu itu ada." Katanya. Ia adalah tipe yang kadang suka percaya pada cerita hantu. Apalagi di gedung-gedung besar kayak begini.
Foster tertawa kecil mendengar penuturan sang istri. Pria itu mendekat ke tempat tidur lalu mendorong istrinya sampai terbaring dan lelaki itu sendiri ikut berbaring di sebelahnya, sambil memeluk tubuh sang istri.
"Hantu nggak bakalan ada kalau nggak kamu pikirin, nona kecilku." katanya, tangannya lalu turun mengusap-usap perut Mina.
"Jangan mikirin yang aneh-aneh. Nanti anak kita ikutan takut loh." gumamnya. Mina tertawa. Benar juga sih.
__ADS_1
"Mina,"
"Mm?"
"Terimakasih."
Mina menengadah menatap Foster.
"Terimakasih buat apa?"
"Semuanya. Terimakasih karena sudah bersedia menjadi bagian dalam perjalanan hidup aku."
Mina tersenyum, lalu mengecup singkat bibir Foster.
"Terimakasih juga karena kak Foster sudah milih aku jadi istri kakak." ungkapnya tulus.
Ia tidak menyangka pada akhirnya dirinya benar-benar jatuh cinta pada lelaki ini. Mina berjanji akan memperlakukan suaminya dengan baik. Ia akan menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anak mereka. Ah, sudah tidak sabar rasanya ia melahirkan anak yang ada dalam kandungannya saat ini.
"Oh ya, nanti aku pengen makan masakannya kak Foster lagi." serunya kemudian.
Foster melongo.
"Lagi?!" Mina mengangguk pasti.
Padahal pria itu sudah tobat memasak. Ribet sekali menurutnya. Memang sih tutorial yang dia dapat dari Matthew sangat berguna, tapi memasak sama sekali tidak ada dalam daftar hobinya. Huftt ... Tidak apa-apalah mencoba sekali lagi, demi istri tercinta.
"Ya sudah. Apapun aku lakukan demi calon mama ini ..." Foster mengeratkan pelukannya, sampai keduanya tertidur.
__ADS_1