Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 41


__ADS_3

Hampir seminggu ini Mina tinggal seorang diri di rumah Foster dan kak Iren, karena pemilik rumahnya tidak ada. Tapi kakak iparnya menyewa seorang pembantu rumah tangga untuk tinggal di rumah tersebut, menemaninya. Karena Mina takut tinggal sendiri. Pasangan suami istri tersebut sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Kalau kakaknya pergi ke Hawaii untuk menghadiri acara pertunangan kak Matthew. Awalnya kak Matthew memaksa kak Iren dan kak Foster untuk pergi. Tapi karena kakak iparnya terlalu sibuk dengan bisnis pria itu, jadinya hanya kak Iren saja yang pergi. Alhasil, Mina merasa kesepian. Kerjaannya kalau tidak ke kantor, pasti ke kampus dan nonton di rumah. Ia jarang keluar kecuali ada urusan penting.


Dira sempat menyemprotnya juga beberapa hari yang lalu. Karena banyak orang dikampus akhirnya tahu Paul dan gadis itu sudah putus, bahkan bukan itu saja, mereka juga menyebarkan gosip tentang laki-laki itu yang terang-terangan mau mengejar teman Dira. Siapa lagi kalau bukan Mina. Ester juga pake acara nggak sengaja nanya gimana rasanya makan berdua sama Paul, di depan Dira pula. Akhirnya Dira marah dan menyemprot Mina juga Ester. Mina  sudah berusaha menjelaskan tapi Dira masih belum bicara pada mereka sampai sekarang. Mudah-mudahan kemarahan Dira akan segera reda. Ia tidak mau persahabatan mereka rusak.


"Hufft ... Kalau pak Foster nggak ada, ternyata nggak asyik. Kita nggak bisa liat laki-laki tampan gratis lagi." seru salah satu karyawan perempuan ketika memasuki pantry dengan temannya. Yang bicara tadi namanya Melly, sedang yang berjalan bersama Melly kalau tidak salah namanya Ranti. Mina lupa bagaimana caranya ia ingat nama mereka. Gadis itu sedang duduk di meja bar pantry ketika dua wanita itu masuk. Ia tidak akrab dengan mereka. Mereka pun tampaknya tidak berniat berteman dengannya, atau sekedar bertegur sapa. Mungkin karena Mina hanya anak magang.


"Memangnya sampai kapan sih bos diluar kota?"


"Nggak tahu. Dengar-dengar sih tiga hari lagi baru balik. Proyek di sana ada sedikit masalah, jadi pak Foster harus selesain dulu semuanya baru bisa balik."


"Eh, aku dengar sih Dian ikut ke sana juga?"


Mereka terus berbicara dengan lantang, seolah tak menyadari keberadaan Mina. Entah tidak sadar atau memang sengaja tidak mau menghiraukan keberadaannya. Tapi Mina cukup tertarik mendengar pembicaraan mereka.


"Iya. Dia salah satu karyawan yang mengerjakan proyek itu juga. Tapi aku dengar dari Rene, sih Dian selalu cari-cari kesempatan deketin pak Foster. Semalam aja waktu mereka kumpul bareng klien di restoran, dia sengaja minum sampai mabuk biar bisa di anterin pulang ke hotel sama pak Foster.


"Gila ya tuh perempuan. Berani banget. Padahal denger-denger pak Foster udah nikah."


"Iya bener. Nggak tahu malu banget tuh perempuan."


Cukup lama kedua karyawan wanita itu asyik bergosip di pantry, sampai akhirnya mereka keluar dan Mina menghela napas lega. Akibat gosip dua orang tadi, pikirannya kini melayang ke kakak iparnya.


Kira-kira pria itu sedang apa ya? Apa sih Dian lagi sama dia? Entah apa yang merasuki Mina. Ia jadi penasaran dengan keberadaan kakak iparnya. Gadis itu menggigit bibir, mempertimbangkan apa yang sedang ia pikirkan.

__ADS_1


"Nggak apa-apa. Hanya menanyakan kabar saja. Apalagi selama berhari-hari ini lelaki itu belum menghubunginya juga." Ia lalu meraih ponsel dan mencari nomor kakak iparnya. Beberapa kali tidak diangkat sebelum akhirnya telepon diangkat di ujung sana dan...


"Halo?"


Mina mengerjap-ngerjap dan matanya melebar. Itu suara wanita. Pasti Dian. Suaranya mirip, ia sedikit ingat. Kenapa wanita itu yang angkat nomornya kak Foster? Jadi mereka sedang bersama? Di mana? Berbagai pertanyaan mulai timbul dalam benaknya.


"Halo?" kata suara itu lagi. Karena Mina tidak bicara-bicara juga, wanita diseberang sana yang bicara.


"Anda mencari Foster? Kalau anda mencarinya maaf sekali, sekarang Fosternya sedang mandi. Anda bisa menelponnya lagi nanti."


Tanpa sadar Mina mencengkeram ponselnya lebih erat sementara jantungnya seolah-olah berhenti sejenak ketika ia mendengar kalimat Foster sedang mandi. Jangan-jangan ...


Mereka berdua sedang di hotel sekarang dan ...


Pikiran Mina mulai merambat ke mana-mana.


Suara lantang di ujung sana menandakan kalau laki-laki itu sepertinya marah. Itu suara kak Foster. Mina tidak jadi mematikan ponsel. Ia masih menunggu pria yang ia telpon tersebut berbicara padanya.


"Halo," suara maskulin Foster terdengar amat berbeda ketika berbicara padanya. Kalau tadi nada suaranya kedengaran jelas sedang membentak Dian. Iya. Memang yang mengangkat panggilan Mina tadi adalah sih Dian Dian itu. Mina tidak terlalu suka.


"Bicaralah sweety, aku sudah di tempat sepi sekarang." kata Foster lagi.


Mina memutar otaknya. Aduh, dia mau bilang apa coba. Tadikan dia hanya asal telpon saja karena pengaruh gosip yang ia dengar. Mana mungkin kan dia bertanya kakak iparnya lagi apa sekarang, sama siapa dan dan dimana.


"Sweety, apa terjadi sesuatu di rumah? Kau takut sendiri?" Foster bertanya lagi karena Mina masih tidak bicara.

__ADS_1


"Nggak kok!" sahut Mina langsung.


"Lalu?"


"Mm," otak Mina mulai berpikir.


"Bisakah aku masuk ke kamar kakak untuk meminjam buku? Aku ingin mencari kalau ada buku yang bisa aku pakai buat referensi skripsi."


Kamu memang pintar Mina. Gadis itu bergumam dalam hati sambil tersenyum.


"Tidak perlu minta ijin, masuk saja. Bukankah waktu itu kau juga masuk kamarku diam-diam dan ..."


"Kak Foster, a ... jam istirahatku sudah habis, aku tutup telponnya ya. Bye!"


lalu panggilan terputus. Foster tertawa kecil.


"Dia malu-malu seperti seorang perawan, padahal sudah kucoblos." katanya pada dirinya sendiri sambil terkekeh pelan, lalu berbalik masuk. Ia sedang makan siang di hotel berbintang dengan klien mereka tadi. Laya, Dian juga salah satu staf laki-laki mereka ikut bersamanya. 


Kenapa hapenya bisa sampai diangkat oleh Dian? Itu karena ia lupa bawa waktu hendak pergi ke toilet. Perempuan itu benar-benar membuatnya kesal. Dari kemarin selalu saja mencari-cari kesempatan mendekatinya. Akan ia peringatkan nanti kalau urusan dengan para kliennya berakhir.


Foster sama sekali tidak menyadari kalau Dian mengikuti dan mendengar pembicaraannya ditelpon diam-diam dari tadi.


"Jadi nona kecil itu Mina," gumam Dian. Wanita itu tersenyum sinis. Dari tadi ia penasaran siapa sebenarnya nona kecil yang Foster tulis di daftar panggilan hapenya. Pake emotikon hati pula.


"Ternyata Mina." tampaknya hubungan mereka makin dekat. Apakah prempuan itu tinggal di rumah Foster juga? Lalu istrinya bagaimana? Sangat tidak masuk akal kalau Foster sampai nekat membiarkan istri dan selingkuhannya tinggal bersama. Apa jangan-jangan Foster beli rumah khusus untuk gadis ingusan itu? Benar, hanya itu yang paling masuk akal.

__ADS_1


Dian tertawa jahat, lalu tersenyum sinis. Ia masih heran kenapa seorang Foster yang dinginnya bagai kutub utara itu bisa memiliki ketertarikan pada bocah ingusan seperti Mina.


"Mau menggoda Foster? Tidak akan kubiarkan."


__ADS_2