Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 77


__ADS_3

Di gudang tempat Mina dan Dira di sekap, Dira terus berusaha melepaskan ikatan ditangannya. Pandangannya sesekali menatap lurus ke Mina yang belum bangun. Perempuan itu sudah pingsan hampir satu jam.


Dira merasa sangat bersalah. Ketika Dian mendatanginya, menculik dan memaksanya melakukan skenario sialan itu terhadap Mina, Dira sangat ketakutan. Dia tidak berdaya dan hanya bisa mengikuti perintah Dian karena takut sesuatu yang buruk akan terjadi padanya.


Namun Dira tidak menyangka Dian akan sekejam itu. Menyiksa Mina, bahkan sengaja mau membunuh bayi dalam kandungan sahabatnya. Dira menyalahkan dirinya sendiri. Ini semua karena dirinya. Ia yang bersalah atas semua peristiwa yang terjadi. Dia berdoa semoga bayi dalam kandungan Mina masih selamat. Dia memohon kepada Tuhan agar supaya sang mahakuasa mengasihani Mina.


Dira tidak mau menangis lagi. Sedikit lagi tali itu terlepas. Dia sudah melihat ada jendela dalam gudang kotor ini. Mereka bisa melarikan diri. Dira terus berdoa supaya orang-orang jahat itu tidak masuk sampai mereka berhasil kabur.


Begitu ikatan ditangannya terlepas, Dira cepat-cepat menghampiri Mina. Membangunkan wanita itu.


"Mina ... Mina ... Ayo bangun ..." ia memanggil-manggil Mina dengan suara pelan, hampir berbisik. Takut kalau ia bicara kuat, pengawal Dian diluar akan mendengar dan masuk memeriksa.


"Mina ..." Dira terus memanggil Mina. Tangannya menggoyang-goyangkan badan sahabatnya.


Berkali-kali Dira memanggil sampai akhirnya ia melihat mata Mina membuka perlahan. Perempuan itu sangat lemah. Siapa juga yang akan masih kuat kalau mendapat siksaan kejam seperti tadi. Belum lagi harus menanggung bebas pikiran ketakutan dan kesakitan akibat ...


Dira menggelengkan kepala. Jangan pikirkan hal lain dulu. Sekarang yang harus mereka lakukan adalah kabur jauh-jauh dari tempat terkutuk ini. Ia membantu membuka ikatan di tangan Mina.


"Kita harus kabur secepatnya dari sini. Tadi aku dengar wanita itu sedang pergi. Ayo kabur."


Mina membiarkan dirinya dibantu oleh Dira. Tenaganya sudah hampir habis. Tidak ada kekuatan lagi untuk berjalan. Ia seperti orang yang sudah  pasrah mati.


"Ayo ..."


Dira membantu menarik tubuh Mina. Untung jendela dalam ruangan itu tidak terlalu tinggi. Mereka tidak perlu memanjat. Dira membuka jendela itu dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Ia mengeluarkan Mina lebih dulu baru dirinya.


"Sialan! Mereka kabur! Cepat kejar!"


Suara kencang dari dalam ruangan mengagetkan Dira dan Mina. Mereka panik. Untungnya keduanya sudah berhasil melompat keluar. Dengan sekuat tenaga Dira menarik Mina berlari kencang. Entah tempat apa ini, tapi sepertinya ini hutan karena tidak ada satu rumah pun yang Dira lihat.

__ADS_1


Pengawal Dian mengejar mereka. Dira dan Mina berlari makin kencang.  Sejauh mungkin. Kaki Mina terasa perih akibat ia berlari tanpa alas kaki. Ia merasa tidak sanggup lagi. Suara penjahat itu mulai terdengar, sepertinya makin dekat.


Tidak, tidak bisa seperti ini. Kalau seperti ini terus mereka akan tertangkap lagi. Dira tidak mau usaha mereka sia-sia. Ia melihat Mina yang sudah sangat lemah. Setelah berpikir keras, ia berhenti. Tentu Mina ikut berhenti.


Dira menarik Mina bersembunyi dibalik semak-semak. Gadis itu sudah mengambil keputusan, setidaknya satu dari mereka harus berhasil kabur.


"Dengar," Dira mulai bicara selesai mengatur napasnya.


"Aku akan memancing mereka untuk mengejarku. Kau sembunyi di sini. Langsung turun ke arah sana setelah melihat mereka mengejarku. Aku melihat terang dibagian bawah sana, mungkin itu sebuah kampung. Kamu bisa mencari bantuan pada orang-orang di sana."


Mina menggeleng.


"Kita kabur sama-sama." ucapnya dengan suara lelah. Dira tersenyum pedih.


"Nggak bisa Mina. Hanya cara ini yang bisa membuat kamu selamat. Kita harus mengecoh mereka. Kau tenang saja, yang diincar wanita gila itu adalah kamu. Jadi dia pasti tidak akan membunuhku. Gara-gara aku juga kamu mengalami semua ini, aku akan sangat lega kalau kamu selamat."


Kali ini airmata Mina jatuh. Tidak bisa ia bendung lagi. Ia menggeleng-geleng. Ia punya firasat buruk. Tangannya menggenggam tangan Dira sambil menggeleng-geleng. Ia tidak marah. Dira pasti melakukan itu karena terpaksa juga. Dianlah yang sangat jahat.


"Dengar, kamu harus selamat. Tadi aku dengar obat yang kamu minum dari perempuan itu akan beraksi setelah dua jam. Masih ada sejam. Cepatlah ke kampung, mungkin bayimu masih bisa selamat."


Benar. Bayinya. Mina harus kuat. Demi bayinya dan kak Foster, juga keluarganya.


"Aku pergi." Dira tersenyum sekali lagi lalu berlari keluar dari semak-semak, meninggalkan Mina bersembunyi di sana.


"Sana mereka!"


Teriak salah satu dari laki-laki yang mengejar mereka. Mina menutup mulutnya dan menunduk. Suara itu sangat dekat. Sesaat kemudian ia mendengar suara yang membuat tubuhnya terdiam kaku.


Dor dor dor ...

__ADS_1


Suara tembakan. Mereka menembak Dira? Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin kan?


"Perempuan sialan! Rasakan itu, berani-beraninya kabur. Kau bawah dia kembali ke markas. Aku akan mengejar yang satunya lagi. Pasti belum jauh dari sini."


"Tapi bagaimana kalau perempuan ini mati. Kau menembaknya tiga kali."


"Kubur saja dibelakang markas."


Mina menekan tangan yang menutupi mulutnya kuat-kuat. Airmatanya jatuh membasahi pipinya yang penuh luka-luka.


Dira ...


Ia menggumamkan nama Dira dalam hati.


Dira ...


Mina terus menyebut nama Dira, ia berharap Dira tidak mati.


"Sampai di markas langsung telpon bos." Mina mendengar salah satu dari mereka bicara lagi, setelah itu mereka pergi dari situ, masing-masing berjalan beda arah.


Tubuh Mina kaku, ia tak dapat berdiri. Airmatanya terus jatuh, Dira pasti masih hidup, pasti. Ia terus menguatkan dirinya sendiri. Lama wanita itu diam dalam persembunyian, karena tidak mampu berdiri, seluruh badannya sudah lemas, kemudian Mina merasakan sakit yang luar biasa menyerang bagian perutnya.


Mina meringis kesakitan, ia ingin berteriak tapi tidak bisa. Takut penjahat tadi akan menemukannya.


Lalu samar-samar terdengar bunyi langkah beberapa orang melewati tempat itu.


"Kau yakin anak itu masuk ke sini?"


"Ya. Kata sih nenek, anak itu bermain ke hutan ini dan tidak kembali lagi. Cari saja dulu. Walau sekarang kita sedang menikmati liburan, kau tidak mungkin membiarkan anak yang hilang bukan."

__ADS_1


"Bos, di sini ada orang!"


Lelaki jangkung berwajah tampan dengan sorot mata datar yang dipanggil bos itu langsung berbalik. Ia berjalan ke arah yang ditunjuk bawahannya. Dan mata hitam pekatnya bertemu dengan mata seorang perempuan yang terlihat sangat kesakitan dibalik semak-semak.


__ADS_2