
"Jangan digigit kak," ucap Mina ketika Foster dengan sengaja menggigit. p u ting susunya pelan.
"Biasanya juga digigit." Foster lalu menyesap kuat pu ting Mina hingga gadis itu mengeluh ngilu.
"Ahh ..." pekiknya. Foster menghentikan kegiatannya sebentar dan tersenyum menatap Mina.
"Terlalu kuat ya? Maaf," ucapnya. Setelah itu mulutnya berpindah ke dada Mina yang sebelah, yang belum di jamahnya. Kali ini gerakannya lebih lembut, sehingga yang timbul adalah gadis itu kembali terangsang. Foster sangat pandai membuatnya merasa ingin diperlakukan lebih.
"Mmmph ..." gadis itu menutup mata, menikmati setiap sentuhan-sentuhan, gigitan, dan cecapan yang Foster berikan pada seluruh bagian tubuhnya.
Mulut Foster makin turun hingga ke bawah pusar Mina, menuju kenikmatan yang sebenarnya. Lidahnya bermain di sana dengan liar, tanpa mengijinkan Mina menyiapkan diri. Memakan habis milik gadis itu hingga Mina menggelinjang hebat begitu mendapatkan pelepasan pertamanya dengan permainan lidah Foster. Pria itu sangat tahu titik-titik yang membuat Mina tidak berkutik.
"Ahh ... Eumh ..." gadis itu kembali mendapatkan pelepasannya.
Kali ini Foster tidak memberinya waktu jeda, pria itu membuka paha Mina lebar-lebar lalu menyatukan miliknya dengan gadis itu.
"Ohh ..." erang Foster. Milik Mina meremas miliknya sangat kuat. Pinggul Foster mulai bergerak. Makin lama makin cepat, dan kasar.
"Ahh ... ahh ..." Mina menerima setiap tusukan demi tusukan dengan mulut membuka lebar. Suara de s ahan keduanya memenuhi seluruh ruangan kamar. Foster makin semangat mendengar suara seksi Mina. Pinggulnya terus bergerak kasar, sehingga Mina mencengkeram kuat rambut pria itu.
"K ... Kak ... Foster ahh ... Pelan-pelan pleasee ... mmph ..."
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah lebih cepat lebih enak? Ini hukumanmu sweety, ohh ..." bukannya mendengar permintaan Mina, Foster malah tambah menggempurnya habis-habisan.
Mina tidak bisa berkata-kata lagi. Pria itu benar-benar berhasil menghabisinya malam ini. Bahkan tak puas dari depan, ia melakukannya dari belakang, sampai Mina betul-betul kewalahan melayani hasrat pria itu. Tubuhnya tak berhenti-henti mendapatkan serangan dari Foster hingga ia bergetar hebat, tubuhnya serasa melayang.
Foster melepaskan cairan cintanya ke dalam rahim Mina. Ia terengah-engah, mendekap tubuh Mina dari belakang lalu mengeluarkan miliknya dari lu b ang kenikmatan gadis itu kemudian berbaring disampingnya.
"Kau luar biasa." gumam Foster masih terengah-engah. Tubuh mereka berkeringat. Pria itu menarik Mina berbaring di dadanya. Mina masih tidak ada kekuatan habis di tempur sedemikian rupa. Lutut dan seluruh badannya lemas. Hari ini pria itu sangat buas menerjangnya. Jauh lebih buas dari sebelum-sebelumnya.
"Besok kita temui orangtuamu. Pernikahan kita tidak bisa ditunda lagi."
Mina mengangguk. Sesaat kemudian ia tiba-tiba merasa mual. Gadis itu berdiri dan cepat-cepat berlari ke kamar mandi. Ia muntah di wastafel.
Hoeekk ...
Hoeekk ...
"Kamu kenapa muntah lagi?" wajahnya khawatir. Tangannya mengusap-usap punggung Mina.
Hoeekk ...
Gadis itu terus muntah.
__ADS_1
"Jangan-jangan salah makan lagi? Apa yang kamu makan hari ini?"
Tak lama kemudian muntah Mina mereda. Masih mual tapi tidak semual tadi. Ia menggeleng ke Foster ketika pria itu menanyakan apa saja yang ia makan hari ini. Pria itu membimbingnya kembali ke dalam kamar, mereka duduk di ranjang. Tubuh keduanya masih polos sehingga Foster harus menarik selimut dan menutupi tubuh polos calon istrinya. Ia takut Mina masuk angin.
"Atau jangan-jangan masuk angin?" ucap pria itu lagi sembari membantu memijat leher Mina.
Mina tidak bicara apa-apa. Ia malah berpikiran lain. Sudah dua hari ini ia merasa agak mual. Apa jangan ... jangan ... Tidak, tidak. Jangan langsung memikirkan hal itu dulu. Tapi kalau diingat-ingat, datang bulannya juga sudah telat seminggu.
"Sayang, kita ke dokter aja gimana?" tawar Foster. Ia takut terjadi apa-apa sama kekasihnya. Ia tidak mau.
"Besok aja kak, aku udah nggak apa-apa kok." ujar Mina. Apalagi sekarang sudah lebih dari jam sepuluh malam dan tubuh mereka masih lengket akibat percintaan panas tadi. Kalau mau ke rumah sakit sekarang, mereka harus membersihkan diri. Tentu mandi. Dan badan Mina sudah terlalu lelah untuk mandi malam ini. Ditambah perutnya mual lagi. Jadi lebih baik besok saja. Dia masih bisa tahan.
Namun keyakinan Mina kian bertambah. Sepertinya kak Foster akan mendapatkan surprise besok. Mina berharap betul. Ia ingin pria itu semakin bahagia dengan kehadiran seorang buah hati. Buah hati mereka.
"Kamu yakin nggak apa-apa?" Foster menatap gadis itu,
"Iya aku yakin." Mina mengangguk.
Foster lalu merapikan anak rambut Mina ke belakang telinga dan mengecup singkat dahinya. Lalu pelipis dan matanya.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang istirahatlah." ia kemudian membantu Mina berbaring, masuk ke dalam selimut gadis itu dan menepuk-nepuk lembut punggungnya sampai Mina tertidur. Tak lama kemudian Foster ikut tertidur.
__ADS_1