Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 74


__ADS_3

Sejak mengalami mimpi buruk itu, penjagaan Foster ke Mina makin ketat. Memang hanya mimpi, tapi mengingat akhir-akhir ini ada yang dengan sengaja berniat jahat pada mereka, Foster jadi sangat waspada. Rumahnya makin banyak dengan bodyguard, pelayan rumah pun di seleksi satu persatu karena lelaki itu takut di antara mereka ada suruhan sih orang jahat.


Setiap sudut rumah, ia taruh cctv pemantau. Kalau tidak begitu, Foster tidak akan tenang meninggalkan Mina di rumah. Ia juga berpesan kepada para pengawal agar mengikuti kemanapun istrinya pergi. Setidaknya sampai sih penjahat tertangkap.


Mina hanya bisa pasrah. Ia lebih sering di rumah dan jarang keluar, seperti mau suaminya. Paling-paling ia akan keluar kalau kak Iren dan kak Matthew jemput, main ke rumah Ester dan Dira, ataupun karena sudah sangat terdesak. Mau bagaimana lagi, ia takut melawan suaminya dan terjadi hal-hal yang mengerikan. Seperti halnya ia takut melawan orangtuanya. Karena dari dulu Mina memang takut melakukan sesuatu kalau orang-orang terdekatnya sudah melarang dengan tegas.


Wanita itu belum pernah ke kantor lagi, apalagi ke kampus. Ia sudah mengajukan cuti kuliah karena hamil.


"Mbok, masak apa?" karena bosan dikamar, Mina ke dapur.


"Ayam rebus nyonya."


Para pembantu di sana membungkuk hormat. Namun Mina lebih senang mereka tidak memperlakukannya seperti itu, ia lebih suka mereka bersikap santai dan menganggapnya seperti teman. Memangnya dia ratu di rumah ini? Ia hanya sedikit lebih beruntung dari mereka, menjadi nyonya rumah.


"Nggak perlu kayak gitu. Santai aja. Aku nggak gila hormat kok. Masa tiap hari aku lewat kalian bungkuk gitu, emang nggak capek apa? Udah, besok-besok jangan gitu lagi ya." ucap Mina ke mereka. Tak lupa menunjukkan senyuman ramahnya yang enak dilihat.


"Tapi kami takut dimarahin tuan Foster, nyonya." kata salah satu dari mereka yang bernama Lily.


"Nggak akan. Kak Foster itu sebenarnya baik orangnya. Pokoknya kalian semua kerja santai aja. Aku pengen bisa bergaul kayak teman sama kalian. Kalian juga tahu kan akhir-akhir ini aku di larang keras keluar sama pria itu kalau nggak ada keperluan penting. Jadi aku butuh teman bergaul. Dan itu kalian."


Mina mulai berbincang-bincang asyik dengan mereka. Akhirnya mereka pun mulai santai berbicara dengan majikan muda tersebut. Tentu saja mereka tetap tahu bagaimana menempatkan diri mereka sebagai pembantu dan majikan. Mina senang melihat para pekerja di rumahnya tersebut tidak kaku-kaku lagi saat menyapa atau berbincang-bincang.


Habis berbincang-bincang dengan mereka, Mina beranjak ke taman belakang, bersantai sebentar di sana sambil menikmati angin sore. Beberapa hari terakhir ini suaminya sibuk bekerja. Ia memegangi perutnya lalu mengusap-usap bagian dengan gerakan memutar. Tidak terasa sekali masa kehamilannya kini sudah mau jalan tiga bulan. Tidak lama lagi perutnya akan mulai buncit.  


"Mama sama papa nggak sabar liat kamu lahir sayang," gumam wanita itu tersenyum senang.


Sssrrtt ... sssrttt ...


Ponselnya bunyi. Mina mengeluarkan benda pipih tersebut dari saku dan melihat siapa yang memanggilnya.


Dira?


Alisnya terangkat. Kenapa gadis itu nelpon sore-sore begini? Mina mengusap layar berwarna hijau lalu menempelkan benda itu ke telinganya.

__ADS_1


"Iya Dir?"


"Mina!" suara Dira terdengar sendu setelah memanggil namanya. Mina heran sekaligus bingung. Gadis itu menangis?


"Kenapa Dir?"


"Paul ... Paul dia ..." suara Dira makin jelas terdengar sedang menangis.


Paul? Kenapa dengan pria itu? Kenapa Dira tiba-tiba menyebut namanya? Bukannya Mina masih peduli. Tapi ia penasaran. Waktu ketemu minggu lalu, lelaki itu juga tidak terlihat baik, seperti ada beban yang dia simpan dalam hatinya.


"Paul meninggal, bunuh diri." lalu Dira menangis keras. Sangat keras.


Telpon genggam Mina terjatuh di tanah. Kaget? Jelaslah dia kaget. Paul pernah ada dalam hatinya, meski hanya sebentar. Paul adalah laki-laki yang baik, Mina jelas tahu itu. Paul dia ...


Meninggal?


Bunuh diri? Kenapa seorang Paul yang tampaknya tidak pernah ada masalah dan memiliki segalanya bisa bunuh diri? Mina syok. Ia meraih hapenya lagi.


"Kamu tahu kenapa Paul bunuh diri?" ia bertanya.


"Tidak tahu. Aku hanya dengar dari teman-temannya hubungannya dengan keluarganya tidak begitu baik akhir-akhir ini.


"Kamu punya waktu sore ini? Aku ingin memberikan sesuatu padamu. Sebelum meninggal Paul menitipkan sebuah surat padaku, ia memintaku memberikannya padamu."


"Surat?"


"Mm, aku ada di rumah Paul. Jenasahnya akan disemayamkan besok, kamu ingin melihatnya malam ini? Untuk terakhir kalinya."


Tanpa pikir panjang Mina mengangguk. Paul orang yang baik. Mati bunuh diri? Ia masih tidak percaya.


"Kirimkan alamat rumah Paul padaku. Aku akan segera ke sana."


Habis telponan dengan Dira. Mina menelpon Foster, ingin minta ijin pergi melayat. Tapi tidak diangkat oleh suaminya, mungkin pria itu sibuk. Mina lalu naik ke kamar, ia bergegas pergi setelah berganti pakaian.

__ADS_1


"Mau kemana nyonya?" Sih sopir bertanya


"Antarkan aku ke rumah temanku. Nanti aku bilang alamatnya."


"Bos udah tahu?"


"Belum. Nomor kak Foster sibuk."


"Gimana kalau saya yang kena marah nanti?"


"Udah jangan pikirin itu dulu. Teman aku meninggal, aku cuman pengen melayat, kamu yakin nggak mau anterin aku?" nada bicara Mina sedikit tegas. Mendengar itu, sih sopir pun mengiyakan.


Beberapa bodyguard yang Foster pekerjakan mengikuti mereka dari belakang. Tapi orang-orang itu tidak di ijinkan masuk begitu sampai rumah Paul. Ada sekitar empat orang bertubuh besar yang berjaga di depan.


Mina sedikit merasa aneh. Tapi ia tidak mau terlalu berpikir panjang. Ia hanya ingin melihat seniornya sekarang.


"Selain teman tuan Paul, yang tidak berkepentingan tidak bisa masuk." ujar salah satu dari penjaga pintu dengan suara tegas.


Para bodyguard Mina menatap mereka tidak suka. Sama-sama berbadan kekar dan besar, Mina yakin mereka tidak takut berkelahi.


Tapi ini rumah duka, Mina tidak mau mereka mengacau.


"Kalian tunggu di sini. Aku hanya sebentar saja di dalam. Jangan khawatir." kata Mina ke bodyguard-nya.


"Tapi nyonya,"


"Sebentar saja." Lalu Mina mendekati mereka dan berbisik.


"Kalau dalam tiga puluh menit aku tidak keluar, kalian boleh masuk mencariku." Ia bilang begitu agar dua lelaki tinggi besar tersebut mengijinkan dia masuk sendiri.


Mina pun masuk. Seseorang menunjukan jalan. Entah kenapa Mina makin merasa ada yang aneh. Rumah makam, tapi sepi. Apa semua orang terkumpul di satu ruangan? Ia masih berpikir positif.


Begitu sebuah ruangan terbuka, Mina kaget bukan main. Ia melihat Dira di sana, sedang diikat dengan mulut di tampal lem dan wajahnya babak belur. Ada sekitar enam orang yang berdiri di sana dan satunya lagi adalah wanita.

__ADS_1


"Selamat datang, Mina." wanita itu adalah Dian


__ADS_2