
"Kak Foster mau ikut aku ke kebun teh? Emang kakak nggak kerja?"
Mina menyisir rambutnya sambil menghadap cermin, sesekali ia memiringkan kepala menatap laki-laki yang tengah duduk di atas kasurnya dengan kedua tangan terlipat di dada. Mina melihat lelaki itu mengangguk dari balik cermin.
"Aku mengambil cuti dua hari. Siapa suruh kau lari sampai ke sini dan belum mau pulang. Sudah kubilang aku akan berada di manapun kau berada bukan?" pria itu terus menatap Mina yang membelakanginya.
"Cih," Mina tidak percaya dengan kata-kata Foster. Mana ada yang seperti itu. Kan ada waktu manusia itu pengen sendiri dan disibukkan sama kerjaannya.
"Kau tidak percaya?" Foster sengaja memasang wajah terluka, sontak Mina tertawa sumbang.
"Baiklah, baiklah. Aku percaya." balas Mina memutar bola matanya malas.
Foster tersemyum puas. Matanya tak lepas sedikitpun dari gadisnya.
"Jangan dandan terlalu cantik, tidak dandan saja kau sudah sangat cantik, apalagi berdandan. Aku tidak mau laki-laki lain menatapmu. Kau hanya milikku, nona kecil."
"Hufftt ..." Mina menghembuskan napas lelah. Sejak tadi pria itu terus merecokinya dengan berbagai macam kalimat-kalimat yang membuatnya pusing. Bagaimana tidak pusing coba, orang dia pakai baju yang dia suka saja, kalau lengannya terbuka lelaki itu akan suruh ganti.
"Mana ada aku dandan, tuan Foster. Anda tidak lihat apa aku hanya menyisir rambutku dari tadi?" Lama-lama dia tendang juga ini laki-laki. Tampan sih iya, tapi menyebalkan kalau sudah melarang dia ini dan itu. Lagian apa salahnya sih kalau dia dandan, kan dia cewek.
Foster tertawa.
"Jangan galak-galak. Nanti aku tambah sayang," godanya sambil mengedipkan mata nakal.
Mina menutup matanya dalam-dalam kemudian berdiri mendekati Foster. Ia meraih tangan pria itu dan mendorongnya keluar kamar.
"Kak Foster tunggu diluar aja. Kalo di sini terus bisa-bisa aku nggak kelar-kelar bersiapnya."
"Tuhkan galak. Pengen cium deh."
__ADS_1
Brakkk!
Belum sempat pria itu melaksanakan aksinya, Mina sudah mendorong dan menutup pintu kamarnya dengan kuat, menguncinya dari dalam. Alih-alih marah, Foster malah tertawa.
"Aku tunggu di ruang tamu, jangan lama-lama sweeety!" serunya kemudian beranjak ke ruang tamu.
Tatapannya kembali datar begitu sampai di ruang tamu. Beberapa pelayan rumah yang bekerja dekat situ mencuri-curi pandang padanya. Ekspresi mereka seperti baru saja melihat artis besar. Ya, Foster memang setampan itu di mata mereka.
"Santi, kamu tahu siapa dia nggak?" bisik salah satu pelayan ke Santi. Mereka seumuran. Jumlah pelayan di rumah itu terbilang cukup banyak. Karena Oma Winda suka keramaian, jadi ia mengerjakan banyak pekerja di rumahnya. Pakai uangnya sendiri. Wanita tua itu punya bisnis kebun teh yang menghasilkan banyak uang setiap bulannya, sanggup untuk memperjakan banyak pembantu dan membayar para karyawannya. Konon katanya, ahli waris Oma Winda akan jatuh ke cucu bungsunya, Mina.
"Laki-laki itu kayaknya pacarnya non Mina," sahut Santi. Ia juga menatap Foster diam-diam beberapa kali. Pria itu tampak sibuk melihat hapenya.
Pertama kali Santi melihatnya kemarin, ia bermimpi bisa punya pacar tampan dan kaya seperti pria itu. Ia bermimpi bisa menjadi seperti cucu majikannya yang sangat beruntung.
"Hmm, orang kaya memang beda. Mereka bisa bertemu, pacaran dan menikah dengan siapa saja yang mereka mau. Sedangkan kita-kita yang hanya pembantu ... hanya bisa bermimpi saja." kata wanita disamping Santi lagi.
Santi tersenyum tipis. Memang benar sih. Tapi dalam hati kecilnya, ia punya ambisi yang besar untuk mengubah hidup. Ia tidak ingin terus menerus hidup di dalam kemiskinan. Ia bermimpi menjadi kaya. Karena kalau memiliki segalanya, ia bisa melakukan apa saja.
"Tu ... tuan muda," panggilnya malu-malu.
Foster mengangkat wajahnya, menatap Santi datar.
"Ada apa?" nada bicaranya dingin, seperti yang biasa pria itu lakukan pada orang lain, terkecuali Mina tentu saja.
"A ... Anda haus? Mau minum apa, nanti saya buatkan." Santi menawarkan. Foster berpikir sebentar,
"Ambilkan saja aku air putih." katanya datar.
"Baik," balas Santi lalu berbalik ke dapur. Di dapur ia baru bisa menghembuskan napas panjangnya. Ya Tuhan, dari dekat tadi pria itu sangat tampan, Santi menyukainya. Wanita itu tersenyum. Ia menetralkan napasnya lagi kemudian mengambil segelas air putih, merapikan rambutnya sebentar agar terlihat cantik di mata Foster, lalu kembali ke ruang tamu.
__ADS_1
Ketika posisinya berada makin dekat di tempat pria itu duduk, ia mendapatkan sebuah ide. Mudah-mudahan idenya berhasil. Lalu dengan sengaja wanita itu pura-pura menabrak sesuatu sehingga tubuhnya limbung dan terjatuh menindih Foster. Hape yang Foster pegang melompat ke lantai dan pembantu-pembantu lain di sekitar situ menonton mereka.
Santi pikir pria itu akan menolongnya berdiri dengan lembut, sayang sekali pria itu malah mendorong tubuhnya dengan kasar, seperti jijik ia jatuh menindih pria itu. Pria itu berdiri dari sofa dan menatap Santi tajam.
"Ma ... Maaf tuan, aku tidak sengaja." Santi mencoba membersihkan kemeja Foster yang sudah basah, tapi pria itu menghempaskan tangannya kuat-kuat.
"Jangan sentuh aku!" tukas pria itu kasar. Santi tersentak. Gadis itu tertunduk.
"Dengar, aku pernah bertemu dengan banyak wanita rendahan sepertimu. Kau pikir aku tidak tahu? Wanita sepertimu, aku sudah tahu hanya dengan sekali lihat."
"Lain kali jangan lakukan perbuatan murahan seperti itu lagi. Kau akan membuat banyak lelaki jijik. Jadilah pembantu yang terhormat, kau tidak bisa memanjat ke atas dengan cara menjijikan." perkataan pria itu teramat dingin.
Santi menggigit bibirnya menahan tangis dan malu. Sakit hati? Tentu saja.
"Kak Foster, aku sudah siap. Ayo!" panggilan Mina langsung mengubah mimik marah Foster. Pria itu meninggalkan Santi dan berlari ke perempuan yang dia cintai. Memang hanya Mina yang paling baik dan polos di matanya.
"Sudah aku bilang jangan dandan kan?"
"Aku nggak dandan kok, darimana kak Foster liat aku dandan?"
"Ini, ini, kenapa pakai lipstik? Lihat, kamu cantik sekali sweety, laki-laki lain akan ..."
"Stop! Apa kak Foster pengen aku pakai arang aja di wajah biar jelek?"
"Boleh sekali, bagus malah."
"Kak Fosteerr ... aku ngambek lagi nih nanti."
Foster tergelak.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah. Begini saja. Ayo." lalu lelaki itu meraih tangan Mina dan berjalan bersama keluar rumah.
Dari ruang tamu, Santi merasa marah, malu, dan terhina. Ia merasa dirinya dipermalukan habis-habisan di depan pembantu rumah itu yang lain. Liat tatapan mereka, mereka semua seperti merendahkannya. Karena tak kuat dengan tatapan-tatapan itu, Santi berlari masuk ke kamar pembantu dan menangis di sana.