Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 49


__ADS_3

Mina menatap Foster dan Iren bergantian. Masih dengan raut wajah kaget, tidak percaya dan ...


Kesal?


Ya, kalau apa yang dia dengar memang benar, tentu saja dia kesal. Siapa coba yang tidak kesal? Dia merasa dipermainkan sama dua orang terdekatnya.


Tadi ketika gadis itu balik ke dalam kamar, samar-samar ia mendengar suara kakak perempuannya. Karena penasaran, Mina keluar kamar untuk memeriksa. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar sih kakak ipar, ia mendengar suara orang ngobrol, pintunya tidak terkunci penuh. Ada sela kecil yang membuat Mina langsung dapat melihat ada orang lain selain kak Foster dalam kamar tersebut.


Saat dia menatap ke dalam dari sela kecil, ia melihat Foster berdiri membelakanginya dan Iren kakaknya berdiri menghadap pria itu. Pembicaraan mereka tampak serius, dan Mina diam-diam mendengar. Penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bahas.


Ternyata pasangan suami istri tersebut sedang membahas dirinya. Mina makin penasaran dan lebih parahnya lagi, iya kaget sekali mendengar kata nikah kontrak di antara mereka keluar dari mulut kakaknya sendiri. Ternyata memang benar keanehan yang dia rasa dulu terhadap pernikahan mereka. Ternyata memang benar hubungan mereka hanya sebatas menikah kontrak, tapi ia malah melupakan hal itu dan membuang kecurigaannya jauh-jauh dengan percaya bahwa kedua makhluk tersebut memang adalah benar pasangan suami istri yang sah.


Mina, Mina, kau sangat bodoh. Mau-maunya di prank oleh kedua orang itu. Karena kesal, Mina tanpa aba-aba mendorong pintu kamar Foster dan masuk.


"Menikah kontrak?" Serunya. Wajahnya merah padam karena kesal.


Iren kaget. Sedang Foster biasa-biasa saja. Ia malah lega, gadisnya itu akhirnya tahu. Meski dengan cara yang tidak ia bayangkan.


"Mina sayang," Iren menyapa adiknya lalu tersenyum. Mina mendekat ke mereka. Ia tahu adiknya pasti kesal, sebentar lagi mungkin akan ngambek.


"Kak Iren sama kak Foster beneran hanya nikah kontrak?" gadis itu bertanya sekali lagi.

__ADS_1


"Benar sweety," Foster menjawab mewakili Iren. Pria itu menjawab dengan penuh percaya diri. Mina akan segera menjadi miliknya yang sah. Dia sudah berpikir untuk segera membatalkan surat nikah kontraknya dengan Iren dan menikahi Mina. Gampang saja bagi seorang Foster menggantikan itu. Lagipula waktu nikah kontrak dengan Iren yang datang hanya keluarga dari kedua belah pihak, tidak banyak yang tahu rupa Iren.


"Maaf Mina, kakak tahu harusnya kita nggak tutupin ini ke kamu. Tapi waktu itu emang udah ada kesepakatan sebelumnya kok, sama papa mama juga. Jadi kami semua sepakat untuk nggak bilang ke siapa-siapa dulu. Selain Foster, kakak, Matthew, papa sama mama, nggak ada orang lain lagi yang tahu. Tapi karena hubungan kamu sama Foster kayaknya udah makin jauh, kami harus beritahu kamu yang sebenarnya." Iren menjelaskan dengan panjang lebar. Ia berusaha memberikan penjelasan yang bisa di terima oleh Mina. Tidak mungkinkan ia bilang mereka sepakat tidak cerita padanya karena gadis itu mulutnya sering ember. Bisa lebih tersinggung nanti.


"Papa sama mama juga tahu?" Mina merasa dikhianati. Jadi hanya dia yang tidak tahu? Pantas waktu ia cerita ke mamanya, mamanya kayak santai-santai aja. Kalau begini ceritanya sih dia harus ngambek. Enak saja sudah main-main sembunyiin rahasia begitu. Padahal dia sudah merasa bersalah telah mengkhianati kakak kandungnya sendiri.


"Mina, kakak tahu kami udah salah telah bohongin kamu. Sekali lagi kakak minta maaf ya." Mina membuang muka. Ia masih kesal.


"Kalian semua udah beramai-ramai bohongin aku. Kakak bahkan tahu tentang aku dan kak Foster tapi tetap nggak cerita yang sebenarnya aku, terus terang aku merasa dibodohi." kata gadis itu jengkel.


Iren dan Foster berpandangan. Iren memberi kode ke Foster dengan matanya supaya pria itu melakukan sesuatu untuk membujuk Mina. Pria itu lalu mendekati gadisnya, menunduk ke bawah dengan tangan memegangi bahu Mina.


"Sweety, aku minta maaf ya." ucap pria itu. Sejenak kemudian ia merasakan sakit luar biasa dibagian tulang keringnya.


Iren sampai-sampai hampir tidak bisa menahan tawanya melihat pria itu kesakitan. Wajah Foster merah padam karena kesakitan. Ia mengusap-usap kakinya yang rasanya masih sangat sakit.


"Pokoknya aku nggak pengen ngomong dulu sama kalian semua, titik!" Seru Mina kesal kemudian berbalik keluar.


"Mina!" Foster kelabakan. Ia tidak berpikir Mina akan ngambek begini sampai tidak mau bicara sama mereka. Tak apa-apa gadis itu tidak bicara pada Iren, tapi kalau sama dia, ia pasti tidak akan tahan.


Foster ingin mengejar Mina. Namun Iren cepat-cepat menahannya. Foster menatap wanita itu tajam.

__ADS_1


"Lepaskan aku, aku harus mengejarnya." katanya datar.


"Percuma. Dia kalau ngambek memang begitu, akan mengunci diri dikamar. Jangan khawatir, dia akan membaik dalam satu malam." ujar Iren.


Foster membuang napas kasar.


"Kau yakin besok dia tidak akan  marah lagi?" tanyanya. Iren mengangguk.


"Percaya padaku. Aku sudah hidup dengannya bertahun-tahun. Kalau kau mengganggunya di saat dia masih marah, aku tidak menjamin dia akan cepat memaafkanmu." Foster menghela napas. Iren benar. Biarkan dulu Mina meredahkan amarahnya.


                                    ***


Dalam kamarnya, Mina tidak berhenti-berhenti mengoceh.


"Seluruh keluargaku tega menipuku. Mereka sekongkol dengan kak Foster. Astaga, memang hanya aku yang paling bodoh di sini." gadis itu tidak berhenti-berhenti mengoceh.


Walau dirinya merasa lega karena tahu ia ternyata tidak melakukan pengkhianatan terhadap kakaknya, tetap saja ia kesal karena dialah yang dibohongi habis-habisan. Kak Foster juga. Ia pikir laki-laki itu memang brengsek karena berani menggoda dan bermain api dengan adik iparnya sendiri, tapi ternyata oh ternyata.


"Meski kenyataannya kak Foster nggak ada hubungan apa-apa dengan kak Iren, laki-laki itu tetap saja mempermainkan aku. Enak saja mau di maafin segampang itu."


"Mereka bisa nipu aku, aku juga bisa ngambek dong."

__ADS_1


Otak Mina berputar. Ah, dia tahu. Dia pergi ke neneknya saja di Bandung. Pokoknya sekarang dia tidak mau dulu melihat kakaknya, kakak Foster dan orangtuanya. Dia akan berlibur ke kampung halaman neneknya dulu.


Mina mengambil keputusan. Sore itu, diam-diam ia keluar dari rumah tersebut dan pergi ke stasiun kereta api. Tak ada yang menyadari kepergiannya.


__ADS_2