Gairah Sang Kakak Ipar

Gairah Sang Kakak Ipar
Ep 75


__ADS_3

Flashback rencana jahat Dian.


Dian sudah menyusun rencananya dengan matang. Ia ingin memisahkan Foster dan Mina, namun setiap hari yang datang ke kantor hanya Foster seorang. Ternyata Mina mengambil cuti kuliah, hingga magang pun perempuan itu cuti.


Dian dengar dari orang-orang kantor, wanita itu sekarang lebih banyak istirahat di rumah. Pantas saja Foster cepat sekali pulang kantornya. Bahkan kadang laki-laki itu memilih bekerja dari rumah. Kalau tidak penting, dia tidak akan ke kantor sama sekali.


Dian pun makin kesulitan bertemu apalagi bicara dengan pria itu, sejak sih Matthew sialan menjadi sekretarisnya. Karena merasa rencananya gagal, suatu hari ia diam-diam mengikuti Laya yang mau bawa laporan ke rumah baru Foster. Dian tahu kalau mengikuti Foster pasti pria itu akan cepat ketahuan. Jadi dia mengikuti Laya, hanya untuk mencari tahu di mana rumah baru pria itu. Sebenarnya mama Foster tahu, tapi Dian takut akan menimbulkan kecurigaan kalau dia bertanya pada wanita tua itu. Lebih baik cari aman.


Dian melihat Mansion besar yang berdiri megah didepannya dan makin iri pada Mina.


"Harusnya rumah ini adalah milikku." ia bergumam sendiri. Pandangannya terus melihat ke dalam rumah mewah tersebut.


Dian mengerang kesal. Ternyata banyak sekali pengawal. Bagaimana dia bisa masuk ke dalam diam-diam coba. Mina sialan, Foster sangat menjaganya, seolah tahu ada yang berniat jahat pada wanita itu.


"Aku harus mencari cara baru." kata Dian lagi kemudian berbalik pergi meninggalkan daerah itu.


Ia berpikir keras. Dua minggu ini ia terus mencari cara. Niatnya untuk memberikan pelajaran pada Mina makin besar, kebenciannya makin menjadi-jadi. Tapi ia harus bertindak hati-hati. Ia tahu Foster mulai mencurigainya.


Saat itulah terpikir oleh wanita itu untuk mencari tahu teman-teman dekat Mina di kampus. Ia membayar salah satu mahasiswi kampus dan mendapat informasi besar. Dian jadi kenal Paul, dan Dira. Ester yang magang dikantor Foster tidak akan dia hitung. Karena dua nama tadi yang akan dia pakai dalam menjalani misi jahatnya.


Dengan nekat Dian menculik Dira dan merekayasa semuanya. Menyiksa Dira agar gadis itu mau mengikuti perintahnya, dan berbohong bahwa Paul meninggal. Itu ada dalam pengaturan Mina. Paul sendiri tidak tahu apa-apa. Lelaki itu sudah pindah keluar negeri karena memang pria itu ada masalah keluarga.


____________


Dan disinilah mereka sekarang. Di sebuah rumah besar yang sengaja Dian pakai untuk mendukung rencana besarnya. Memancing Mina. Wanita itu benar-benar tertipu dengan akting Dira. Dian tersenyum sinis begitu Mina muncul di depannya. Ia sudah menunggu kedatangan wanita itu, dan tentu tidak sabar untuk menyiksanya.


Wajah kaget Mina membuat Dian tersenyum menang.


"Ikat dia dan bawa pergi ke markas lewat gudang belakang." perintah Dian pada orang suruhannya.


Mina bersiap-siap mau lari, tapi sia-sia. Tenaganya terlalu lemah dibandingkan orang-orang itu. Astaga, dia di jebak. Wanita itu memandangi Dira yang menangis tanpa suara. Bagaimana mau bersuara coba kalau mulutnya di lem begitu. Mungkin Dira di ancam juga.


Bagaimana dengan Paul? Pria itu sebenarnya masih hidup kan? Mereka sengaja memancingnya datang dengan membuat cerita bohong tadi kan.

__ADS_1


"Lepasin aku!


Plakk!


Suasana berubah hening. Mina berhasil menampar keras salah satu dari lelaki berbadan besar tersebut.


Sedetik kemudian, sebuah tangan kasar mencengkeram lengan Mina,


begitu menyakitkan hingga membuat Mina menjerit,


"Brengsek, kurang ajar, berani-beraninya kau menamparku!" teriak pria yang kena tampar Mina kasar,


Mina menoleh dan mendapati dirinya ditelikung oleh lelaki berbadan besar yang satunya lagi. Lengan lelaki itu yang besar dan kuat menahannya sampai tangannya terasa sangat sakit. Tapi Mina tidak menyerah, dia meronta sekuat tenaga, mencakar, menggigit lengan yang tetap terasa sekeras batu itu.


Napas Mina terengah-engah dan wajahnya merah padam menahan


amarah dan rasa takut yang bercampur aduk menjadi satu. Dalam benaknya sekarang dia harus kabur, Dian betul-betul nekat sampai mengatur penculikan ini. Mina takut wanita itu akan berbuat sesuatu yang lebih nekat dari ini.


Kali ini Mina yang mendapat tamparan keras di pipinya oleh Dian. Wanita itu menatapnya dengki. Tatapan yang penuh dengan kebencian.


"Kau tidak sedang dalam posisi yang bisa melakukan seenaknya sekarang. Berhenti melawan kalau tidak ingin aku habisi sekarang juga." kata Dian. Mina menatap wanita itu dengan berani.


Dian tertawa, meredam emosi. Belum waktunya. Ia tidak mau mengambil resiko menyiksa perempuan itu di sini. Bodyguardnya menunggu di depan, jadi mereka harus secepat mungkin pindah tempat.


"Cepat pindahkan dia!" perintahnya lagi.


Tiga orang anak buahnya maju. Yang lain menahan Mina dan yang satunya lagi bertugas mengikat. Mina tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Ia ingin menangis. Ia menyebut nama Foster berkali-kali dalam hati. Ia tidak tahu Dian akan melakukan apa padanya.


Mereka membawa dia dan Dira keluar dari pintu belakang. Semuanya sudah di rancang dengan baik. Mina masih merasa ini semua seperti mimpi, dia sangat bodoh. Harusnya tinggal di rumah saja. Harusnya ia menunggu dan kak Foster, membiarkan suaminya menemani dia.


Cukup lama perjalanan mereka hingga sampai di sebuah tempat. Entah tempat apa itu. Jangan-jangan diluar kota lagi karena kalau Mina tebak-tebak, perjalanan mereka sudah lebih dari dua jam.


Mina dan Dira di sekap di sebuah gudang kotor. Dan dibiarkan dulu di sana. Dira masih tidak berhenti-berhenti menangis sepanjang perjalanan dari rumah tadi. Rumah yang dipikir Mina adalah rumahnya Paul.

__ADS_1


Mereka tidak bisa bicara, karena mulut mereka di sumpal. Tidak bisa bergerak juga akibat tangan mereka yang diikat dengan kencang. Hanya bisa saling bertatapan.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, gedung tersebut di buka dengan kasar. Dian datang bersama kedua anak buahnya. Wanita jahat itu membuka sumpal mulut Mina dengan kasar. Mereka sudah ada di tempat aman sekarang. Aman untuk melaksanakan rencana jahatnya. Ia bebas menyiksa perempuan sialan ini sesuka hatinya.


Dian membungkuk, mencengkeram dagu Mina, wanita itu balik menatapnya tajam.


"Cih, sombong sekali. Kau pikir ada yang akan datang menolongmu?"


"Kenapa menculikku?"


"Karena kau sudah merebut Foster dariku. Kau tidur dengannya, kau membuatnya jatuh cinta padamu dan menikahimu. Aku membencimu. Foster hanya milikku, itu sebabnya kau harus dibasmi dari dunia ini."


"Perempuan jahat, suamiku tidak akan mengampunimu." balas Mina berani. Dian tertawa keras. Lalu tawa itu berubah menjadi raut wajah menakutkan, tangannya dengan kasar  mencengkeram rambut Mina kuat-kuat, tak puas dengan itu, Dian kemudian melayangkan tangannya di perut Mina, membuat Mina kesakitan bukan main dibagian itu.


Bugh!


"Ahhh!!


Mina berteriak kesakitan.


"Jangan pukul di situ, ku mohon!" pinta Mina.


Dian bahagia melihat wanita itu tidak berdaya.


"Kenapa, karena kau sedang hamil? Aku malah ingin membunuh anakmu lebih dulu. Anak itu tidak pantas lahir ke dunia, kalian!"


Dian menatap dua orang yang berada di situ.


"Keluarkan obat menggugurkan kandungan yang aku suruh simpan tadi."


Mendengar itu Mina panik. Ia menggeleng-geleng panik. Demi Tuhan, ia tidak mau kehilangan bayinya.


"Dian, aku mohon ... Pleasee ..."

__ADS_1


__ADS_2