
Hawaii,
"Dad, mom, aku ingin membatalkan perjodohan ini. Aku sudah memiliki kekasih. Wanita ini adalah kekasihku. Aku harap kalian setuju dengan keputusanku. Jangan pernah memaksaku untuk menikahi wanita yang tidak aku sukai lagi. Maaf kalau aku mengecewakan mom and Daddy."
Matthew bicara panjang lebar memandangi orangtuanya bergantian seraya menarik lengan Iren untuk berdiri sejajar dengannya.
Bagaimana dengan Iren? Jelaslah wanita itu melotot kaget. Yang dia tahu Matthew mati-matian ingin dia ikut bersama ke Hawaii hanyalah untuk menghadiri pertunangannya, bukan malah mengacaukan acara mereka dengan datang menjadi kekasih Matthew. Astaga, sekarang ini bahkan baru pertemuan makan malam kedua keluarga, pria itu betul-betul mau membunuhnya. Lihat saja tatapan orangtuanya, dan beberapa orang lain dalam ruangan itu.
Iren menatap ke salah satu wanita bule seumuran mereka yang ia ketahui sebagai calon tunangan Matthew. Wanita itu menatapnya tidak suka. Sangat jelas. Iren mengutuk Matthew dalam hati. Kalau dia tahu akan seperti ini, dia tidak akan datang. Dia malu bukan main. Matthew memang suka sekali cari masalah dengan bawa-bawa dia.
"Matt, apa-apaan ini? Hari ini pertemuan keluarga kita dengan keluarga calon tunanganmu, tapi kau malah membawa perempuan lain. Jangan permalukan mom and dad!" kata mamanya menahan malu pihak keluarga calon besan.
"Kan sudah berkali-kali aku bilang tidak mau dijodohkan seperti ini mom," Matthew berkata pada mamanya kemudian memiringkan kepala melirik wanita yang bahkan tidak pernah ia temui sebelumnya itu.
"Maaf, tapi aku tidak akan pernah menikahimu. Kau cari laki-laki lain saja, yang jauh lebih baik dariku." kata pria itu pakai bahasa Inggris. Wanita bule dan keluarganya nampak tersinggung. Mereka berdiri dari kursi dan mengatakan kekecewaan mereka terhadap orangtua Matthew lalu keluar dari ruangan tersebut.
Iren jadi tidak enak. Ia merasa serba salah. Matthew sungguh membuatnya yang tidak salah apa-apa jadi ikutan terlibat. Sialan. Dia akan bikin perhitungan nanti dengan laki-laki itu.
Setelah keluarga bule tadi pergi, Matthew dimarahi habis-habisan. Bahkan semua kartu kreditnya diancam akan dibekukan oleh daddy-nya. Setelah memarahi pria itu, mereka ikut pergi dari situ. Terlalu kecewa dengan kelakuan putra tunggal mereka.
Tinggal Iren dan laki-laki itu yang anehnya malah bernapas lega dan tersenyum bodoh ke Iren. Iren menutup matanya dalam-dalam dan tanpa aba-aba menendang tulang kering Matthew.
"Auwww ..." teriak Matthew kesakitan. Pria itu menunduk mengusap-usap kakinya yang sakit.
__ADS_1
"Kau sinting!" Iren memakinya. Matthew terkekeh.
"Maaf, aku tidak punya ide lain. Lagipula kau sahabatku, apa salahnya membantu sahabatmu sendiri."
perkataan enteng Matthew membuat Iren makin kesal.
"Lain kali cari orang lain saja, kau membuatku kaget, dan merasa bersalah pada orangtuamu." siapapun pasti kaget kalau tiba-tiba seperti tadi.
"Sekarang bagaimana? Kau mau di sini dulu atau ikut aku pulang besok pagi-pagi?" Iren menatap Matthew. Ia sudah berada di negara ini lebih dari satu minggu. Sudah menikmati perjalanan liburannya dengan beberapa temannya yang ada di Kota ini, belanja barang-barang unik sekalian beli oleh-oleh buat papa, mama dan adiknya, dan yang terakhir memanjakan diri sendiri di salah satu klinik kecantikan ternama.
"Tiketmu sudah ada?" Matthew balas bertanya. Iren mengangguk.
"Kalau begitu kita pulang bersama saja. Aku akan memesan tiket sebentar, tidak ada gunanya juga aku di sini."
"Jadi kau masih dendam?"
"Menurutmu?" tatapan Iren yang tajam malah membuat Matthew ingin tertawa, bukannya merasa bersalah.
"Hmm, sepertinya aku harus bergantung padamu dan Foster nanti. Seluruh hartaku sudah ditarik kembali oleh orangtuaku." Matthew sengaja memasang tampang kasihan.
"Makanya kerja. Foster di usia sepertimu sudah memiliki harta yang hampir tidak akan pernah habis turun temurun, sedangkan kau ... hanya suka bermalas-malasan, mengandalkan harta orangtua, sudah begitu malah melawan mereka pula. Kapan kau akan berhasil coba." ucapan tersebut memang menohok bagi sebagian orang, tapi tidak berlaku sama sekali buat Matthew. Ia tidak tersinggung sama sekali dengan perkataan Iren.
Lagipula semua yang diucapkan oleh wanita itu memang benar. Matthew memang sangat suka bersenang-senang dibandingkan dengan bekerja. Tapi bukan berarti ia tidak pandai mengelola bisnis. Sebenarnya dirinya hanya kalah sedikit dibawa Foster, hanya saja saat ini ia masih ingin hidup bebas. Kalau sudah siap, suatu saat nanti ia akan fokus melakukan pekerjaan yang dia suka.
__ADS_1
"Ayolah Iren, jangan menambah beban pikiranku dengan penilaianmu itu. Bagaimana kalau kau traktir aku minum? Aku tahu tempat yang bagus dekat sini." Iren menyipitkan mata menatap Matthew.
"Sebaiknya tidak. Aku takut kau mabuk dan menganggapku sebagai teman kencanmu, lalu memaksaku ke hotel dan melakukan ..."
"Astaga Iren, kau pikir aku seburuk itu? Memakan sahabatku sendiri?"
"Menurutmu?" Iren menatap Matthew tajam. Bukan tanpa sebab ia berkata seperti itu. Karena Matthew kalau mabuk memang sedikit gila. Iren hampir jadi korbannya dulu. Karena itu Iren tobat minum-minum berdua saja dengan laki-laki itu. Ia rasa sangat aneh tidur dengan sahabat sendiri. Apalagi sekarang Iren masih trauma dengan mantan kekasihnya.
Mantan kekasihnya itu maniak ****. Bukan itu saja, lelaki itu terus-terusan memaksanya melakukan hubungan intim, bahkan memakai alat-alat yang menurut Iren sangat tidak wajar, sampai menyakiti Iren. Itu sebabnya mereka putus. Iren tahu berhubungan intim dengan pasangan sebelum menikah itu salah. Tapi sebagai manusia yang hidup di jaman yang makin modern ini, banyak sekali anak muda telah terbiasa melakukan hal itu. Iren adalah salah satu dari mereka. Alasan utamanya ya karena napsu.
"Baiklah-baiklah. Aku mengalah padamu. Bagaimana kalau makan saja? Tanpa alkohol." tawar Matthew lagi. Kali ini Iren mengangguk. Matthew menatap wanita itu lama.
Pria itu merasa semenjak putus, Iren sangat menjaga jarak dengan banyak lelaki. Termasuk dirinya kena imbas juga, walau hanya kadang-kadang.
"Oh ya, kau belum cerita alasanmu putus dengan kekasihmu." ujar Matthew.
"Aku tidak mau membahasnya." tuhkan, Iren selalu menghindar tiap kali ia menanyakan hal itu. Matthew makin penasaran.
"Ren, kau tahu kita saling kenal bukan hanya setahun bukan? Apa yang aneh darimu aku jelas bisa melihatnya. Tapi tidak apa-apa kalau kau tidak siap cerita sekarang. Aku akan mendengarmu kapan pun kau siap."
Iren tersenyum tipis. Ia tahu Matthew dan Foster peduli padanya sebagai sahabat. Mereka pasti membantu kalau butuh bantuan mereka. Tapi sekarang dirinya belum siap cerita. Mungkin nanti.
"Aku tahu. Aku pasti cerita saat aku siap." gumam wanita itu.
__ADS_1